Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

 

Akhir tahun 2010 lalu, saya berjumpa dengan beberapa teman penulis. Dalam perjumpaan-perjumpaan itu, baik lewat situs jejaring sosial maupun diskusi ringan saat saya berkunjung ke kota mereka, kami berbincang tentang dunia kami, dunia penerbitan buku.

Salah satu obrolan yang menarik adalah tentang bagaimana mereka merasa diperlakukan secara tidak semestinya oleh beberapa penerbit. Profesionalisme mereka terusik:

  1. Proses penerbitan naskah panjang, bertele-tele, dan nir-kepastian
  2. Proses produksi naskah tidak transparan: jadwal cetak, jumlah eksemplar, dan struktur harga buku
  3. Pelaporan penjualan tidak lancar (jika tidak meminta, mereka tidak mendapatkan laporan) dan terbuka (perbedaan angka penjualan riil dan laporan)

Belum seberapa parah. Masih bisa ditoleransi, meski tetap ada catatan khusus. Masih bisa dimaklumi, meski mereka tetap berharap ada perbaikan selekasnya.

Namun, terhadap perlakuan di bawah ini, mereka tidak mau terima:

  1. Royalti tidak dibayar penerbit. Hanya jika mereka meminta, baik lewat telepon atau datang langsung ke penerbit, hak mereka dibayarkan. Sekali-dua kali mereka mau melakukannya. Namun, lama-kelamaan mereka ogah, bagai pengemis yang tidak punya harga diri.
  2. Pajak tidak disetorkan. Kalau pun royalti dibayarkan, namun ternyata potongan pajaknya tidak disetorkan. Alhasil, ada penulis yang menangguk malu ketika laporan pajaknya ditolak. Akibatnya, mereka justru menderita kerugian material berlipat. Sudah royalti tidak dibayarkan, dan kemudian terlambat dibayarkan, mereka masih dikibuli penerbit gayus ini.

Atas perlakuan malaprofesional itu, mereka memang tidak menggugat penerbit-penerbit tersebut. Yang mereka lakukan adalah meninggalkan penerbit tersebut, tidak mau lagi menulis di sana, dan menghimpun penulis-penulis lain untuk memboikot penerbit tersebut dengan tidak menulis di sana. Situs jejaring sosial amat memudahkan gerakan mereka.

Meski gerakan mereka dilakukan di bawah permukaan, tanpa riak yang gaduh, namun dampaknya benar-benar mengguncangkan. Beberapa penerbit curang tersebut mulai kelimpungan mendapatkan naskah dari penulis-penulis profesional. Para penulis telah memasukkan mereka dalam daftar hitam penerbit.

Syukurlah, karunia kreativitas masih menyatu di jiwa penulis-penulis itu. Mereka tidak patah arang. Mereka tetap menulis. Bahwa tidak lagi menyetorkan naskah ke penerbit-penerbit hitam itu, mereka masih punya daftar penerbit putih yang bisa dipercaya. Mereka senang karena ada beberapa penerbit yang betul-betul menghargai penulis.

Penerbit-penerbit itu tampak betul-betul serius dalam mengelola perusahaannya. Mereka memiliki sistem yang baik, dan menjalankannya dengan paripurna. Tanpa diminta, mereka memberi laporan penjualan. Tanpa diminta, mereka membayarkan royalti. Tanpa diminta, mereka proaktif menyapa penulis.

Tahun 2011 ini akan menjadi milik penerbit bersih seperti itu. Meski beberapa penulis mulai merintis penerbitan sendiri untuk setidaknya karya mereka sendiri, namun mereka masih menyediakan diri berbagi naskah dengan penerbit profesional tersebut.

Catatan pendek ini kiranya jadi bekal bagi teman-teman yang berkecimpung di industri penerbitan buku: penerbit—editor, dan penulis. Industri ini akan berjalan baik jika kita bisa saling menjaga kepercayaan satu dengan yang lain.

Selamat menulis dan menerbitkan buku.