Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

 

Tempo hari saya berkunjung ke beberapa kota di Jawa Timur. Saya menjumpai beberapa teman penulis dan penerbit. Banyak sekali yang kami perbincangkan. Dalam waktu singkat, perbincangan kami bisa meluber ke mana-mana. Wow, dunia penulisan dan penerbitan ternyata selalu menggairahkan.

Menulis menjadi aktivitas yang menggairahkan bukan semata-mata karena aktivitas ini menyenangkan. Oh tidak. Ketika naskah sudah jadi, diterima penerbit, dan akhirnya lolos dari tekuk-lipat mesin percetakan, lalu berjejar gagah di rak toko buku, memang rasanya melulu senang. Apalagi jika kemudian ponsel dan email berisi ucapan selamat atas terbitnya buku kita. Belum lagi, undangan untuk menjadi pembicara bergantian datang.

Sangat menyenangkan. Rasanya semua lelah terhapuskan. Lho, memang menulis buku melelahkan?

Lelah amat sih tidak. Namun, menulis buku menuntut kita untuk sejenak menarik diri dari keramaian. Ini yang rada serem. Menyembunyikan ponsel dari panggilan kongkow, mematikan fesbuk supaya tidak tergoda chatting dengan sahabat, menjauhkan diri dari tayangan sinetron yang lagi seru-serunya, adalah beberapa gambaran nyata seorang penulis ketika memutuskan untuk merampungkan karyanya. Kita mesti berani mengabaikan godaan-godaan kesenangan itu untuk merawat fokus di depan layar monitor.

Tidak semua penulis mesti memenjarakan diri sedemikian ketat. Ada juga yang bisa menulis sembari melirik tayangan televisi, atau mencuri dengar kirim-kiriman salam di radio, atau sesekali menambahkan barang satu-dua alinea ketika menjemput anak sekolah. Bagi mereka yang penting disiplin dan konsentrasi. Meski punya waktu luang hanya setengah jam di sela menunggu pembeli, mereka bisa segera menancapkan perhatian pada topik yang sedang digarap.

Penulis-penulis seperti itu justru cerdik mengabaikan rasa lelah. Bagi mereka, lebih baik lelah dan nanti berbuah daripada diam dan nanti tenggelam. Mereka bertutur, impian untuk memiliki karya jauh lebih kuat mengalahkan kemanjaan diri pada rasa lelah itu. Terlebih penulis yang namanya sudah menghiasi perpustakaan-perpustakaan para pembaca, huruf dan kata adalah santapan sangat lezat untuk mengasupi 100-200 halaman. Menulis sudah menjadi napas. Sudah otomatis. Tidak perlu lagi mereka memikirkan bagaimana melahirkan kata serta merangkainya. Sama halnya mereka tidak perlu lagi bersusah payah memberi aba-aba pada hidung kapan menghela dan menghembus napas.

Bahwa ada penulis yang selalu masuk ke lorong sunyi, bersembunyi hingga ke pertapaan-pertapaan terpencil, dan membenamkan diri di palung samudera paling tak terjangkau, demi membidani sebuah buku, itu pun pilihan yang sama terbukanya. Biasanya, karya sastra sebangsa novel perlu sikap mati raga seperti ini.

Yang terang, setiap penulis merdeka atas dirinya sendiri, atas pikirannya, atas perasaannya, atas tubuhnya, atas aliran darah di ujung-ujung jarinya. Akan berapa lembar kertas kosong yang hendak dicoreti, ia pun merdeka atas itu. Hanya Tuhan yang boleh campur tangan dalam pengembaraan penulis. Itu pun jika penulis percaya Tuhan.

Dari perjumpaan saya dengan beberapa penulis, saya menyerap sinar-sinar pencerahan. Rupanya selalu ada jalan bagi penulis, kendatipun mereka kerap tersandung dan jatuh. Ditolak penerbit, buku tidak laku di pasar, atau sebaliknya buku laku tetapi royalti tidak dibayar, toh tidak membenamkan daya juang mereka. Rupanya kemerdekaan sebagai penulis selalu menyelamatkan mereka dari godaan untuk mati muda.

Mereka tetap menulis. Dan menerbitkan sendiri tulisannya. Atau, memilih menerbitkan naskah mereka di penerbit yang bisa dipercaya.