oleh

AA Kunto A/96

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

 

Manuk Pulang Kandang 27 Desember 2010 kali ini sungguh pepak. Warna utamanya “Ruwatan Kadang Manuk” oleh Ki Walji. Misa tentu ada, diiringi gending-gending palaran. Selain itu, fragmen oleh Landung Simatupang.

 

Landung Simatupang dalam film “Sang Pemimpi”. Foto: Miles Films

Rambutnya sudah putih. Ia tua, hampir 60 tahun usianya. Tampak selalu serius. Itu bawaan. Bisa juga sedang bermain peran. Maklum, ia aktor watak kawakan.

Tak terbilang berapa karya sastra ia bacakan di panggung. Terakhir, Sabtu, 18 Desember lalu, ia membacakan “Alengka Muram” di Balai Soedjatmoko, Solo. Ia membaca Sindhunata. Sebelumnya ia membacakan petilan “Bilangan Fu”. Ia membaca Ayu Utami.

Sebelumnya lagi ia membacakan “Pak Mustar” dalam film Sang Pemimpi. Ia membaca Andrea Hirata. Lebih dari sekadar membacakan, dalam film itu ia menjiwai betul sosok kepala sekolah yang keras nan galak. Sosoknya yang lain bisa dipelototi dalam film Daun di Atas Bantal, Garuda di Dadaku, dan May dan Rindu Purnama.

Tahun 1989, ia pernah menyihir Umar Kayam saat Landung membacakan noveletnya “Sri Sumarah dan Bawuk”. Tempatnya berpentas, Seni Sono, di ujung Malioboro, di “air mancur” nol kilometer Jogja, kini sudah dicaplok Sekretariat Negara untuk perluasan Istana Negara Gedung Agung.

Landung Simatupang pembaca karya sastra yang dinanti-nanti. Karakternya kuat. Lebih-lebih karakter suaranya. Teks-teks sastra yang kering selalu hidup di lidahnya. Ia sanggup menghidupkan kata. Intonasi suaranya mampu mengubah kata laksana bidadari yang menari lembut, dan sebentar kemudian menjelma bak raksasa yang siap menguntal mangsa.

Selain pembaca, ia juga penerjemah banyak karya sastra.

Begitu panjang perjalanannya hingga mencapai karakter yang sedemikian kuat. Tahun 1970-an, saat kuliah di Jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada, ia sudah terjun sebagai aktor dan sutradara Teater Stemka.

Saat itu, ia sedang bertumbuh sebagai orang muda yang gelisah. Lulus dari SMA Kolese de Britto, ia merasa memasuki belantara yang tak bisa ia pahami. “Waktu itu ada kuliah bahasa Prancis. Di De Britto aku sudah mendapatkannya. Aku merasa, apa yang sudah aku dapat jauh lebih maju dari apa yang diajarkan di kuliah. Aku memutuskan tidak masuk kelas. Tentu saja sikapku seperti ini tidak bisa diterima. Akibatnya aku lulus sangat lama,” papar keturunan Batak yang tak bisa berbahasa Batak dan belum lama baru menginjakkan kaki di tanah leluhurnya ini.

Landung bertutur tentang pendidikan De Britto. Ia merasa, De Britto membentuknya menjadi pribadi berkarakter kuat. Apa yang menjadi pilihannya, berikut risiko atas pilihan itu, ia paham betul. “Masalahnya, dunia luar tak sebebas De Britto,” keluhnya mengingat masa-masa mudanya yang penuh benturan. Ia kerap memberontak pada situasi-situasi yang oleh masyarakat dianggap sebagai kelumrahan.

Rupanya, bekal karakter itu tak mudah lekang dari dirinya. Bertemu dengan panggung teater, makin suburlah kemerdekaannya dalam berekspresi. Landung menua total sebagai seniman. Sebagai salah satu bentuk totalitasnya, ia memasang tarif tinggi atas profesinya. Tarif ini tak sebatas nilai nominal, melainkan juga komitmen. Tarif tinggi itu ia kembalikan dalam bentuk keseriusan kerja.

Manuk Pulang Kandang 2010: Ruwatan Kadang Manuk. Logo: Bambang Paningron

Pun dalam Manuk Pulang Kandang 2010 ini. Landung menunjukkan kelasnya. Begitu mengiyakan undangan panitia, yang sebagian adalah adik-adik kelasnya jauh, ia langsung menyediakan diri mengolah materi yang dipercayakan kepadanya. Ia menyerap setiap lontaran dari manuk lain. Ia menyodorkan pemikiran buah serapannya. Dialektika dihidupinya.

Begitu sampai malam ini. Di depan panitia yang sedang membilas persiapan terakhir, dari layar komputer jinjing berlogo “apel krowak”, Landung membacakan konsep fragmen yang bakal dipentaskannya Senin, 27 Desember 2010 lusa. Detil, hingga lama waktu yang dibutuhkannya. Lokasi pentas ia cermati hingga sudut-sudut. Koordinasi kostum dan pengiring ia sempurnakan. Tanpa bayaran, untuk almamater, untuk kadang manuk.

Nggetih. Landung Simatupang.

 

Jogja, 23 Desember 2010

 

PS: Mengundang rekan-rekan media hadir meliput. Lokasi: Kandang Manuk, SMA Kolese de Britto, Jl Laksda Adisucipto 161, Jogja. Acara: 08.30 – 13.00 wib [fragmen Landung mengisi homili misa, dilanjutkan ruwatan kejawen oleh Ki Walji diiringi gending-gending palaran]