Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]


Untuk alumni (lulus/drop out), siswa (termasuk veteran), guru & karyawan dan pensiunan, beserta keluarga

Senin Wage, 27 Desember 2010 [21 Suro 1944 BE]

08.30 – 13.00 wib, diawali ekaristi secara Katolik dan ruwatan secara Kejawen

di kandang kita, SMA Kolese de Britto, Ngayogyakarta Hadiningrat

Bakal menyesal hingga liang kubur manuk yang tidak hadir di Manuk Pulang Kandang 2010 kali ini. Beda, nyamleng dan ngampleng!

Suasana itu akan terasa dalam format acara. Jika MPK sebelumnya kental dengan guyon-maton-parikeno, MPK kali ini parikeno-maton-guyon.

MPK 2010 dikemas sebagai “ruwatan kadang manuk”. Nuansa kejawen akan muncul lewat ruwatan yang disajikan Mas Walji, manuk 1967. Fragmen reflektif bakal dinarasikan oleh Landung Simatupang. Palaran akan dipersempahkan oleh Mantri Diduk dan Windu Aji, bersama rombongan pengrawit yang mereka usung. Perayaan ekaristi, sebagai pembuka, akan dipimpin oleh Martasudjita Pr dan Alip Pr, kedua pastor juga manuk, serta Ageng Marwata SJ, pemimpin yayasan manuk. Haji Datuk Sweida, presiden manuk nasional, juga pasti datang.

Di luar itu, setiap dasawarsa angkatan akan membawakan sajian khas mereka. Sudah dituding siapa saja yang bakal tampil ke panggung. Tak boleh selaklah mereka. Manuk lain yang belum dituding hidungnya tetap boleh tampil, tentu jika waktu memungkinkan dan panglima acara mengizinkan. Toh kalau pun panglima acara tidak mengizinkan ya labrak saja hehe…

Manuk Pulang Kandang

Untuk menyegarkan ingatan, baiklah kita menengok ke belakang, merunut kisah lahirnya reuni tahunan di setiap penghujung tahun ini. Saya menyodorkan pertanyaan lewat surat elektronik kepada Tonny Pongoh, manuk 1985 yang terlibat dalam konspirasi kelahiran MPK ini. Berikut tuturannya:

MPK tercetus sekitar bulan Agustus 2001 di Anyer – Banten. Pada waktu itu Milis De Britto mengadakan acara mancing bersama di Pantai Anyer, Banten, yang diikuti oleh sekitar 40 orang. Peserta saat itu adalah member milis yg berasal dari berbagai kota, antara lain kontingen Jakarta: Bardhono, Koernianto, Gumulya, Gandung Bondowoso, Edo, Nando, Ase, dll… ; kontingen Jogja: Valens Riyadi, Aditya Wardhana, Ary Cino, dan saya sendiri. Dari Jambi juga ikut serta Suherman Djohan. Ketua panitia adalah Johanes Budhiatmono.

Malam hari setelah acara mancing selesai, para manuk berkumpul di teras ngobrol-ngobrol sambil makan. Lewat tengah malam obrolan antara Gandung Bondowoso/73, Bardhono/71, Gumulya/73, Koernianto/68, Johanes Budhiatmono/72 dan saya, … memunculkan sebuah ide untuk
membuat acara bagi para alumni debritto (waktu itu yang tergabung pada milis DB) yang mudik  dan akan menikmati liburan di Yogya.

Acara kemudian didesain hanya untuk kearaban (bukan membicarakan hal-hal yg serius) sehingga tidak menyisihkan acara Reuni Akbar. Akhirnya disepakati membuat acara pada minggu antara Hari Natal dan
Tahun Baru. Acara kumpul-kumpul tersebut diberi nama Manuk Pulang Kandang. Saya ditunjuk untuk menjadi ketua panitia.

MPK I dilaksanakan pada akhir Desember. Saya dalam kepanitiaan dibantu oleh Valens Riyadi, Aditya Wardhana, Buntoro Gunawan, Aryanto Purnomo, Iwan, Riza, dll.

Kami pertama-tama ‘kulonuwun’ dulu pada pihak sekolah. Pada kesempatan itu Kepsek Pak Mardjo dan Romo Susilo—ketua Yayasan De Britto—mendukung kami semua. Almarhum Pak Kris—wakil kepala sekolah—juga menyambut baik serta menggarisbawahi bahwa nama ‘manuk” memang tepat. Karena setinggi-tingginya manuk terbang pasti akan kembali ke sarangnya. Kami juga sempat menghubungi Mas Joko Pesek/73 dan Johny Sunu/65 sehubungan dengan keperluan koordinasi. Gayung bersambut.

Format acara MPK I cukup sederhana. Acara pembukaan dihadiri oleh alumni, guru-guru dan mantan guru, lalu pertandingan sepakbola dan tarik tambang, ditutup dahar kembul dan dialog ramah tamah.

MPK I ini memiliki kesan mendalam karena kami atas bantuan pak Johny Sunu berhasil menghadirkan (alm) Bapak C. Kasiyo, mantan kepsek yang telah lama dirindukan oleh alumni. Kehadiran Pak C Kasiyo waktu itu adalah yang pertama sejak belasan tahun terakhir, dan juga yang terakhir kalinya karena pada tahun depan beliau telah wafat.

Konsumsi pada waktu itu diupayakan dengan menghadirkan Es Bob, Bakso Man, Nasi mBok Bon, dan beberepa makanan yang dibawa oleh para alumni sendiri. MPK pertama dihadiri sekitar 150 orang dari berbagai angkatan (sebagian besar adalah anggota Milis DB). Dimeriahkan pula oleh keyboard tunggal Mas Anwar Santosa/68. Biaya pada waktu itu ditutup dengan cara ‘bantingan’. Sisa bantingan diserahkan untuk sumbangan bagi yang memerlukan.

Acara MPK I cukup berkesan sehingga disepakati akan diadakan setiap tahun. Saya sendiri menjadi ketua panitia empat tahun berturut, mulai dari MPK I hingga IV.

Nama Manuk Pulang Kandung dipilih dengan latar belakang ‘kerinduan’ dan ikatan batin para alumni yang telah bekerja di luar Yogya. Mereka rindu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya sesama manuk. Juga ikatan batin yang kuat akan kampus De Britto telah menjadikan tempat itu sebagai ‘rumah kedua’ bagi para manuk.

Manuk hidup dan tinggal berkelompok. Namun pada saat terbang mereka berpencar dan ke sana-kemari mencari makan sendiri. Di tempat mereka mencari makan, manuk juga tetap menjaga persaudaraan dengan sesama manuk yang ditemuinya. Maka adalah kebahagiaan ketika para manuk dapat pulang dengan gembira ke ‘kandang’ di mana mereka berasal.

Sekolah dipilih menjadi tempat karena alumni tidak boleh melupakan ‘sangkan paraning dumadi’. Apa pun jadinya sekarang, alumni berasal dari tempat yang sama, belajar dan bermain di tanah yang sama, minum dan mandi di air yang sama. Sehingga siapa pun alumni, dia tetap hasil dari Kampus 161—alamat sekolah di Jl Adisucipto 161.

Hal ini juga digunakan oleh para alumni untuk menunjukkan kepada masyarakat dan keluarga bahwa mereka juga bukan siapa-siapa dan apa-apa, namun mereka adalah manusia yang pernah diberi kesempatan belajar di Kampus de Britto. Sejauh-jauhnya alumni De Britto berada, mereka tetap akan teringat dan pulang ke Kandangnya. Manuk-manuk ini juga tak pernah berhenti untuk saling berkabar (walau dulu belum ada twitter—kabar disuarakan melalui milis DB waktu itu). Sifat egaliter dan menembus angkatan sangat tampak. Lebih unik lagi bahasa yang dipakai para manuk biasanya hanya bisa dipahami oleh manuk-manuk itu sendiri (mulai dari yg saru sampai yg serius).

Secara umum, filosofi manuk ini seperti apa yang tertulis dalam “Mars De Britto” ciptaan L Moerabi SJ ini:

Akulah putra SMA De Britto

Gagahlah cita-citaku

Murni sejati jiwaku

Jujur semangat hatiku

Itulah rencana hidupku

Itulah tujuan niatku

Agar dapat menuang tenagaku

bagi Tuhan dan bangsaku

Ayolah putra SMA De Britto

Kuatkanlah hubunganmu

Selalu tetap bersatu

Dengan semua kawanmu

Meskipun terpencar hidupmu

Di kelak kemudian waktu

Ingat selalu di dalam hatimu

Ialah De Britto contohmu

Keunikan De Britto adalah “adanya energi perekat” yang mengikat para alumninya menembus batas angkatan. Energi perekat ini timbul sebagai akibat dari efek “pembebasan’ yang ditanamkan oleh De Britto. Belenggu sekat yang membuat tertutup seolah-olah dibuka oleh De Britto, sehingga alumni merasakan baru ‘menjadi manusia” setelah sekolah di De Britto. Perasaan senasib dan gembira mensyukuri ‘pembebasan’ inilah yang membuat ikatan persaudaraan De Brittto mampu menembus batas angkatan dan wilayah.

Acara MPK II – IV berjalan sebagaimana MPK I. Namun pelan-pelan namun pasti alumni yang hadir semakin lama semakin membengkak. Acara yang informal akhirnya juga berkembang menjadi semi formal (bahkan seperti agenda resmi tahunan). Maka sejak MPK V, format berubah menjadi lebih
besar, terbuka, dan terkesan lebih formal.

Esensi MPK pada awal digagas adalah sebagai sarana untuk lebih memperkokoh ikatan persaudaraan sambil mengingatkan akan ‘sangkan paraning dumadi’. Jadi perubahan bentuk dan susunan acara hendaknya tetap mempertahankan visi awal MPK. Hal-hal yang lebih serius dan formal bisa dibahas pada reuni akbar. MPK lebih bersifat informal dan egaliter (seperti Malam Ekspresi) dalam mewadahi para manuk (khususnya dari luar Yogya) yang pulang kampung dan manuk lainnya yang kangen
Kampus 161. Dari suasana informal MPK, biasanya akan muncul gagasan-gagasan besar yang bisa dibahas secara lebih formal di forum-forum tersendiri dan reuni akbar.

Demikian penuturan tertulis TP/85. AB/71, manuk yang akrab dipanggil Lik Bardhono, menambahkan di surat elektronik juga: MPK ini memang asli acara dari anggota, bukan pengurus. Acara informal, yang didesain oleh teman-teman gang Gembiraloka (sebutan utk kelompok DBNet Jogja), untuk saudara-saudaranya terutama yang di luar Jogja. Target pasar utama ketika itu adalah alumni Jabotabek, yang selain karena paguyubannya sudah matang, juga kerinduannya berkumpul di kandang sangat besar. Peran pengurus Jabotabek ketika itu tidak banyak, sekadar sosialisasi dan dana talangan yang dikembalikan kemudian. Namun acara MPK ini menjadi agenda rutin selain Hari De Britto (4 Februari) dan ultah Alumni (19 Agustus).

Aryanto Purnomo, manuk 91 ber-call sign Ary Cino, menimpali lewat panggilan udara. “MPK tahun ini yang benar MPK ke-9. TP salah mengingat. MPK pertama tahun 2002 setelah DBF (De Britto Fishing Club) pulang memancing di Anyer,” koreksinya. Jadilah dalam cerita ini saya lebih memilih menyebut “MPK 2010”.

Kadang Manuk di Kandang Manuk

De Britto ibarat rumah. Di dalam rumah tinggal anak-anak dengan beragam karakter. Bisa jadi karakter satu dengan yang lain bertolak-belakang; tidak sekadar beda. Dan semua berhak tinggal di rumah yang sama. Pun ketika kelak anak-anak itu pergi, setiap anak berhak pulang ke rumah itu. Orang tua wajib menerima mereka kembali.

Landung Simatupang melontarkan pengertian ini tatkala panitia mengundangnya berbincang di Joglo Jaran pada sebuah malam. Panitia mendapuk Landung, sastrawan yang juga aktor panggung dan film ini untuk menyilih sesi kotbah misa dengan sebuah fragmen. Malam itu Landung hendak mencari kata kunci untuk fragmennya dari para manuk yang hadir seperti J Budisantoso, Andon, Genthong, Aris Lemu—mantan tokoh teater kawakan yang meski store namun tidak tersandera hidupnya, dan tuan rumah Bambang Paningron.

Pertemuan-pertemuan sebelumnya telah digelar secara berturut-turut di Kantin De Britto, Wisma Gajah, hingga Dapur Ibu—semua milik manuk. Banyak manuk berbagai angkatan terlibat dalam kepanitiaan kali ini, yakni Yatmo/65, Rianto/72, Joko Pesek/73, Nowo/65, Bowo/66, Naryo/67, Hardjana/72, Omyang/87, Kothak/88, Elang/99, Wahyu/98, dan masih banyak manuk lainnya.

Paningron, pada malam di Joglo Jaran, mencoba menalikan simpul atas diskusi panjang soal tema MPK kali ini. “De Britto itu beragam. Input-nya beragam, output-nya pun beragam,” tandasnya.

Dalam diskusi yang berkembang, profil alumni De Britto jadi incaran perdebatan. Mulanya di milis alumni. Ada seorang anggota milis melemparkan kemarahan ke forum. Ia terusik oleh berita media massa yang menyoroti ulah wakil rakyat. Dalam berita-berita itu disorot soal kebijakan lembaga perwakilan rakyat yang tidak peka terhadap kondisi masyarakat. Di tengah kemiskinan dan kesulitan hidup yang menghimpit sebagian besar rakyat, DPR justru menyodorkan proyek pembangunan gedung baru untuk kantor mereka.

Salah satu alumni De Britto ada di dalam proyek itu. “Kok sampai ada alumni punya pikiran semacam ini!” hardik manuk yang marah-marah di milis tersebut.

Polemik dimulai. Ada yang sepaham dengan kerisauan sang whistle blower ini, ada yang bisa memaklumi meski tidak sesuara, dan ada yang berkacak pinggang menentang.

Hulu pertikaian itu adalah nilai-nilai dasar yang ditanamkan De Britto. Beberapa nilai yang paling populer dikibarkan sebagai kebanggaan adalah semangat to be a man for others, preferential option for the poor, dan tidak malu-tidak takut-tidak malas. Asumsinya, setiap alumni memahami jargon-jargon gagah perkasa tersebut.

Pertikaian tidak berdarah yang kerap berujung menjadi perdebatan berdarah-darah ini mengedepan ketika pembicaraan sampai kepada implementasi atas nilai-nilai tersebut. Muncul pertanyaan, apakah para manuk masih ngugemi nilai-nilai ideal tersebut dalam kehidupan sesudah 3-4-5 tahun bersekolah di De Britto? Ataukah nilai-nilai itu mulai tergerus oleh pertimbangan-pertimbangan pragmatis berkedok “mengejar karir”, “demi sesuap nasi”, atau sebangsa “empan papan” –yen empan/landep ora entuk papan.

Apakah, sebagai dokter, alumni De Britto mengutamakan kepentingan kemanusiaan di atas kalkulasi komersial? Apakah, sebagai seniman, alumni De Britto mewartakan kecerdasan-kekritisan rakyat di atas titipan kepentingan penguasa? Apakah, sebagai petani, alumni De Britto merayakan pelestarian alam di atas kebutuhan panen berlimpah? Apakah, sebagai saudagar, alumni De Britto menyediakan ruang kesejahteraan di atas keuntungan material? Apakah, sebagai pastor-pendeta-ustad, alumni De Britto meletakkan landasan kerukunan umat di atas keunggulan diri-kelompok? Apakah, sebagai politisi-pejabat, alumni De Britto amanah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak untuk menyudutkan kita kepada jawaban diametral ya dan tidak. Ya atau tidak sama-sama membutuhkan narasi. Siapa tahu fakta “ya” tersebut hanya dijalani sebatas ikut-ikutan karena kebetulan lingkungan mendukung; sebaliknya, siapa tahu fakta “tidak” ternyata dilandasi keberanian dalam bersikap.

Ada juga manuk yang berpendapat, 3-4-5 tahun di De Britto tak serta merta mampu membentuk seseorang sebagai pribadi yang “jadi”. Masa sekolah di De Britto hanyalah sepenggal scene dari sebuah film kehidupan manuk. Banyak adegan pada scenes tersebut, baik sebelum maupun sesudah di De Britto. Bisa jadi, klimaks cerita justru pada adegan-adegan selepas dari De Britto. Saat kuliah. Saat bekerja. Saat terbang mencari makan. Oleh karena itu, para manuk yang mendukung pendapat ini menyarankan agar kita jangan terlalu berharap setiap manuk yang terbang ngugemi nilai-nilai di susuh yang sudah ditinggalkan.

Jika begitu, profil alumni seperti apa yang boleh bisa kita rujuk?

Manuk Nggetih

Romo Koelman, SJ, pamong De Britto di tahun 1970-an, pernah menegaskan, “Yen dadi wong apik, ya sing apik sisan. Yen dadi bajingan, ya bajingan sisan.” Demikian kesaksian manuk-manuk yang pernah mengalami tamparan londo gendeng tersebut.

Maka, atas pertanyaan-pertanyaan di depan, penegasan Koelman tersebut patut dihadirkan kembali. Seberapa nggetih manuk pada jalan hidupnya masing-masing? Ataukah menjadi orang baik, ataukah menjadi orang jahat? Jika hanya setengah-setengah perlulah diteliti kedebrittoannya. Manuk De Britto tidak anyang-anyangen –tak jadi kencing, malah air seninya membatu.

Pada diskusi-diskusi manuk, baik di tengah kehangatan rapat maupun di obrolan-obrolan pinggir ratan, profil alumni yang anyang-anyangen inilah yang patut diruwat. Anyang-anyangen adalah sikap kotor di De Britto. Tidak punya sikap tegas, ela-elu, tidak berani menanggung risiko. Maka, alumni yang mengidap sikap mental seperti ini layak menjadi sukerta. Manuk seperti ini layak diuntal Batara Kala.

Supaya bebas dari belenggu mental tahi ayam itu, manuk perlu diruwat. Ruwat berarti pembersihan, pembebasan. Dalam kidung Sudamala digambarkan kemujaraban ruwatan ketika Sadewa meruwat Batari Durga dan dua raksasa bernama Kalantaka serta Kalanjana. Setelah diruwat, ketiganya kembali berubah menjadi wujud aslinya. Batari Durga menjadi bidadari Uma, Kalantaka menjadi Citragada dan Kalanjana menjadi Citrasena.

Memang, oleh sebagian kalangan, kisah tersebut dianggap gugon-tuhon belaka. Meski begitu, karena mengandung ajakan, petunjuk, dan pantangan hidup, pesan-pesan kisah tersebut diterima sebagai kebaikan. Nah, siapa tahu baik pula bagi kadang manuk, yang setelah sukerta dilepaskan, akan kembali menjadi manuk De Britto sejati, yang nggetih.

Maka, di penghujung udarasa ini, perkenankan saya mengajak kadang manuk semua untuk pulang kandang. Siapa pun sampeyan, pulanglah. De Britto, kandang kita, adalah rumah kita bersama. Boleh kita berbeda, sama bolehnya kita merasakan kembali hangatnya rumah kita. Kita boleh berbeda, kita menghormati perbedaan itu, sama bolehnya kita duduk bersama, melingkar bersama, bersulang bersama meneguk air keheningan yang pernah sama-sama minum.

Mari bersama-sama maneges, manembah, lan nenuwun marang kang murbeng urip, supaya kita kembali menjadi manuk yang tinggi mengangkasa, pesat melesat, dan tahu ke mana arah kepak sayap.

Yogyakarta,

AA Kunto A

Manuk yang lepas kandang 1996

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

MPK 2010: RUWATAN MANUK SUKERTA