Oleh AA Kunto A

Teror kembali menghantui kita. Kamis, 30 September kemarin, bom kembali meledak di Jakarta. Uniknya, pembawa bom mengendarai sepeda ontel. Beda dengan biasanya yang mengendarai mobil atau berjalan kaki menenteng tas.

Ini menarik. Di tengah gencarnya kampanye bersepeda, seperti Sego Segawe (Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe) dan  B2W (Bike to Work), alat transportasi yang pertama kali diperkenalkan oleh Baron Karl von Drais di Mannheim, Jerman, tahun 1817 ini digunakan untuk aksi terorisme. Memang, aksi teror bom menggunakan sepeda bukan kali pertama terjadi. Tahun lalu, konvoi kendaraan kemanusiaan internasional diguncang bom sepeda di Afghanistan.

Tulisan pendek ini tidak hendak membahas soal terorisme, yang narasi-narasi tentangnya tak kalah meneror. Tidak. Saya hanya ingin menulis soal sepeda. Sederhana saja, sepeda sebagai alat transportasi pesan. Lebih dari sekadar alat transportasi, alat angkut, tetapi pengangkut pesan.

Sepeda Pembawa Pesan

Jauh hari sebelum kita ribut soal revitalisasi sepeda, berikut “jalur khusus sepeda”, dan belakangan “ruang tunggu sepeda” di setiap lampu merah, kita pernah punya jalur sepeda. Tepatnya di Jakarta. Tepatnya lagi di ruas Harmoni-Kota, yang belakangan populer sebagai koridor I Trans Jakarta. Dulu bikeway, kini busway. Wartawan Sindhunata, yang hobi bersepeda, dan kini tinggal di Yogyakarta sebagai pastor, pernah menulis kisah ini di Kompas betapa tahun 1979 kala itu sepeda menjadi alat transportasi andalan warga kota tersebut. Bikeway juga pernah ada di ruas Gambir-Harmoni pada tahun 1950-1960-an. Sekali melaju bisa berjejer hingga enam sepeda. Saya bayangkan suasananya mirip Jalan Samas, Parangtritis, atau Imogiri, beberapa tahun lalu, sebelum “kredit tanpa uang muka” sepeda motor menjadi raja baru.

Ke belakang, kita juga pernah mengenal “sepeda pos”. Sebelum keberadaannya di ujung tanduk terhempas teknologi internet, dan tergeser perusahaan-perusahaan ekspedisi modern, tahun 1950-an, PT Pos Indonesia pernah berada di hati rakyat Indonesia berkat sosok sepeda yang ditunggangi Pak Pos. sejatinya, sepeda yang dipakai biasa saja. Mereknya Falter, buatan Jerman Barat, bukan Humber, Raleigh, Philips, Gazelle, dan Fongers, dan merek berkelas lainnya. Bentuknya saja yang berbeda. Ban depan lebih kecil, berukuran 20 inchi. Di atasnya dipasang keranjang besar untuk mengusung surat. Bentuk ini persis dengan apa yang disebut “sepeda gaya Jepang” saat ini. Ukuran ban belakang lebih besar, yakni 26 inchi. Untuk mengendalikan laju, sepeda ini diperangkati hub belakang torpedo sachs. Sebutan “sepeda pos” mencuat karena sepeda jenis ini jadi kendaraan resmi pegawai pos di Indonesia, selain juga di Eropa waktu itu. Sayang, menurut informasi dari para penggemar sepeda, jumlah sepeda tipe ini tinggal sekitar 100 unit di Indonesia, seiring jarangnya Pak Pos bermotor oranye mengantar surat ke rumah kita, sebab kita telah lebih gemar ber-sms dan berkirim email.

Sepeda sebagai pembawa pesan juga pernah jadi pembicaraan tahun 1999. Kala itu beredar film Jepang berjudul “The Messengers” karya sutradara Yasuo Baba. Skenario ditulis oleh Masashi Todayama. Film ini bercerita tentang kurir sepeda dalam persaingannya dengan kurir sepeda motor. Adalah Tokyo Express, dalam film itu, yang mempekerjakan kurir bersepeda. Perusahaan ini sedang berlomba mendapatkan kepercayaan dari Perusahaan Ataka untuk menjadi kurir tetap. Lawannya adalah kurir bersepeda motor. Naomi Shimizu, mantan pengusaha pakaian yang bangkrut, dan harus menggantikan kurir Shigekazu Yokota karena telah menabraknya hingga harus dirawat di rumah sakit, berusaha mati-matian menjadi kurir bersepeda. Meski berat, Naomi berhasil mengantarkan Tokyo Express ke proyek prestisiusnya. Kurir bersepeda bisa lebih cepat dari kurir bersepeda motor. Prestasi itu berhenti ketika Naomi tak lagi bekerja di situ, ikut pacarnya.

Sepeda sebagai Pesan

Dewasa ini, dalam wawasan saya, tidak ada lagi kurir bersepeda. Pak Pos telah lama tak bersepeda. Kurir kantor dan dinas pemerintah-swasta tak pula bersepeda. Yang ada hanya ojek sepeda di kawasan utara Jakarta. Di Jogja, bahkan tukang batu dan petani pun tak lagi menggowes sepeda.

Apakah berarti sepeda tak lagi jadi kurir pesan? Masih. Hanya saja, pesannya berbeda. Bukan lagi sesuatu material berupa surat atau paket yang diantar, melainkan pesan immaterial, yang tidak kelihatan, yang tidak berwujud.

Dalam pengertian sekarang, sepeda bukan lagi pengusung pesan, namun sepeda itu sendirilah pesannya. Sego Segawe dan B2W, contohnya, adalah pesan tentang kesehatan, kelestarian lingkungan, dan gaya hidup. Sepeda adalah juru kampanye habitus baru untuk kehidupan yang lebih manusiawi. Sepeda adalah penyadaran perubahan. Sepeda adalah kesadaran perlunya berubah. Sebelum manusia, ya kita ini, menjadi fosil hidup, gara-gara boros menggunakan bahan bakar fosil bumi, lebih baik kita “ngawil” sepeda.

Pesannya begitu positif. Nadanya tentang kehidupan, bukan tentang kematian. Maka, pesan apakah yang hendak disampaikan pelaku bom bersepeda itu? Semoga bukan pesan agar masyarakat takut bersepeda.

AA Kunto A,

Penggowes Sepeda, tinggal di Yogyakarta