diculik dari: http://cetak.kompas.com/read/2010/09/06/16462047/menjadi.pelega.dahaga.pemudik.

Forum

Menjadi Pelega Dahaga Pemudik

Senin, 6 September 2010 | 16:46 WIB

Oleh AA KUNTO A

Ritus mudik kembali datang. Tahun 2010 ini, menurut media massa, diperkirakan jumlah pemudik mencapai angka di atas 16 juta jiwa, 5 juta di antaranya ke Jawa Tengah, dan sekitar 71.000 ke Yogyakarta. Jumlah yang tidak sedikit. Angka itu menjadi istimewa untuk diperhatikan mengingat beberapa situasi yang sejatinya tidak mendukung.

Secara ekonomi, kita sedang diimpit kenaikan harga barang yang menyebabkan kemampuan berbelanja menurun. Secara politik, kita sedang bersitegang dengan Malaysia, tempat banyak saudara kita menjadi tenaga kerja di sana yang cukup menyedot perasaan nasionalisme kita. Secara sosial, sebagian di antara kita sedang dimabukkan oleh perangkat informasi teknologi berupa situs-situs jejaring sosial di internet yang senyatanya telah memudahkan kita untuk mudik kapan pun lewat pertemuan-pertemuan maya dengan kerabat kampung.

Memulangi tradisi

Baiklah, kenyataannya arus mudik fisik tidak bisa dibendung. Jalan-jalan akan kembali dipenuhi kendaraan aneka rupa seperti bus, mobil, dan sepeda motor. Stasiun kereta dan terminal bus pun akan dijubeli penumpang yang menggotong tas-tas besar dan kardus oleh- oleh. Bandara pun akan berubah tak ubahnya limpahan terminal bus.

Pun kita, orang kampung, orang “udik”, turut bersolek menyambut pulangnya kerabat. Aneka acara seperti syawalan dan reuni disiapkan untuk menyatukan kembali balung pisah. Kita berupaya sedemikian rupa supaya saudara-saudara kita merasa nyaman selama berada di kampung halaman.

Yang sebaiknya tak luput kita perhatikan, di belakang arus fisik, ada arus batin yang lebih kuat. Saya pernah merasakannya ketika jadi perantau. Mudik adalah peristiwa yang sangat menggetarkan. Ada kebutuhan yang jauh lebih dalam daripada pertemuan fisik dengan kerabat di kampung. Getaran batin inilah yang menyuntikkan energi luar biasa untuk menembus kemacetan, untuk mengantre tiket jauh-jauh hari dengan harga yang berlipat dari hari biasa, untuk berlelah-lelah menempuh perjalanan jauh. Apa saja kebutuhan tersebut?

Pertama, kebutuhan personal. Kampung adalah perwujudan dari asal, tempat kita berakar. Di kampung, semua watak kita dibentuk. Pondasi dasar hidup kita dibangun di sana. Nilai-nilai kehidupan seperti hormat kepada orangtua, belajar supaya pintar, bekerja keras agar sukses, dan etos-etos lain diproduksi di kampung halaman. Berbeda dengan produksi pabrik yang massif, produksi nilai-nilai tersebut berlangsung begitu personal. Prosesnya sangat berbeda pada setiap orang, maka hasilnya pun begitu khas, tak ada yang sama. Heart made, meminjam pengertian hand made untuk barang kerajinan. Dan, ini bukan barang.

Kedua, kebutuhan sosial. Walaupun begitu personal, ingatan akan kampung halaman adalah juga mengenai ingatan kolektif. Kampung halaman adalah kerumunan, kebersamaan, kebersatuan. Nilai-nilai tenggang rasa (tepa selira), gotong royong, kepekaan terhadap yang miskin papa, dipupuk dalam pengalaman interaktif sesama warga kampung.

Ketiga, kebutuhan spiritual. Lebih dari sekadar personal dan sosial, mudik adalah perjalanan spiritual. Imanen. Semua yang diciptakan dari tanah akan kembali menjadi tanah. Semua yang berasal dari debu akan kembali menjadi debu. Yang semua yang ada akan kembali kepada ketiadaan. Semua yang lahir akan mati, dan lahir kembali sebagai makhluk baru. Fitri, kembali suci. Kepercayaan ini begitu kokoh mengingat hubungannya transendental dengan Sang Pemilik Hidup. Maka, mudik menjadi laku peziarahan yang sublim.

Di perantauan, kebutuhan-kebutuhan tersebut tak selalu tersedia. Bisa jadi hilang, atau setidaknya tersaput nilai-nilai baru yang mengkristal dari perjumpaan dengan perantau-perantau lainnya. Lama- kelamaan mereka menjadi asing terhadap nilai-nilai asalinya. Lebih- lebih yang merantau ke kota besar, semangat kebersamaan tergerus oleh individualisme, solidaritas sosial tergilas konvensi batas- batas hak privat, gotong royong diempas rezim pertukaran ekonomis, dan seterusnya. Atas nama modernitas, mau tak mau mereka tunduk dalam tata nilai yang baru tersebut. Bahkan, tak sedikit di antaranya justru menjadi agen reproduksi nilai-nilai baru tersebut.

Penyembuh dahaga

Sebagai pengembara, pemudik adalah orang-orang haus. Jauh merantau, hati mereka dahaga. Pulang kampung, bagi mereka, sebentuk cara mencari kelegaan. Ada yang tidak cukup justru ketika mereka sudah terjamin kehidupan ekonominya, mapan status sosialnya, melejit karier profesionalnya. Yang tidak cukup adalah ketiga kebutuhan di atas.

Maka, sebagai orang kampung, ada cara pandang yang perlu kita benahi soal pemudik ini. Pembenahan ini perlu kita lakukan supaya kita tidak terjangkiti sindroma inferior-complex, yakni penyakit mental tahunan yang merasa kalah kelas dengan para perantau. Hanya gara-gara kita tinggal di kampung. Hanya gara-gara halaman rumah kita ketamuan mobil mewah. Hanya gara-gara bahasa kita tidak segaul mereka. Jangan keliru. Tidak semua penampilan itu otentik. Tak sedikit yang palsu, yang dikemas sedemikian rupa untuk menjaga gengsi supaya mereka tampak sukses.

Kita adalah oasis di tengah padang gurun perantauan. Sungguh berharganya kita bagi mereka. Sederhana saja yang bisa kita suguhkan kepada mereka, yakni mengembalikan keaslian identitas mereka. Ajak mereka sungkem kepada orang yang lebih tua atau dihormati, walau orang tersebut bukan siapa-siapa; untuk mengimbangi kebiasaan profesional-egaliter yang dominan berlaku di tempat kerja. Juga untuk me-nyata-kan jalinan silaturahmi yang sudah terbangun di jejaring sosial maya.

Ajak mereka berbelanja ke pasar tradisional, dan harus menawar harga; sebagai silih atas kebiasaan mereka bertransaksi kaku lewat uang plastik alias kartu. Ajak mereka berjalan kaki atau bersepeda ke kebun-kebun dan sawah petani, serta membasuh muka di mata air, supaya mereka beroleh kesegaran jiwa yang sempurna.

Selamat menyambut pemudik. Selamat memberi kelegaan.

AA KUNTO A

Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Yogyakarta