Runtuh sudah ketakutan saya pada dokter gigi. Lho, selama ini? Selama ini saya takut setengah mati pada dokter gigi. Entah kenapa. Mungkin karena rasa ngilu yang selalu nyetrum hingga kuku kaki. Mungkin karena rasa linu yang seperti mencabik-cabik batok kepala. Mungkin karena bunyi bor yang serasa menembus ulu hati. Atau, sebenarnya karena dokter gigi tak pernah mau menunjukkan giginya saat memaksa saya membuka mulut?

Padahal, sewaktu SD, saya paling rajin ke dokter gigi. Saban Sabtu, saat jadwal kunjungan ke dokter gigi puskesmas tiba, saya berlari paling semangat keluar kelas. Jarak 1 km ke sekolah saya tempuh dengan suka cita. Dengan gagah perkasa pula saya masuk ke ruang periksa. Dan tak diapakan-apakan. Jelas saja, karena gigi saya tidak bermasalah.

Memang, selepas SD, seingat saya, tak pernah lagi saya berkunjung ke dokter gigi. Sikat gigi, yang sewaktu SD saya lakukan dengan riang gembira, mulai saya abaikan. Tentu, tanpa sepengetahuan orang tua. Malas sikat gigi lebih-lebih menghampiri ketika malam menjelang tidur. Usai makan malam, kenyang, mulut saya terkatup serapat-rapatnya. Bruk. Tidur sampai pagi.

Mungkin sejak itu saya jadi peternak kuman di dalam mulut. Kuman mandiri, yang tanpa perlu secara khusus saya budi dayakan sudah berkembang biak sendiri, hidup subur di gua makanan ini.

Hingga suatu ketika gigi saya terasa ngilu. Periksa ke dokter, tertangkap basah ada lubang yang mengintip. Gigi nomor dua kiri.

Tambal! Tanpa diskusi, tindakan itu langsung diputuskan. Swiiiinggggg, pertama-tama lubang dibor, dilubangi lebih lebar. “Nggak papa,” kata dokter itu ketika saya mengaduh sakit. Sakit, tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan memang selesai sejenak kemudian. Namun, ngilu itu terbenam di ingatan, hingga hari-hari berikutnya ketika gigi itu sudah ditambal.

Awet benar ngilu itu, hingga suatu ketika gigi geraham bawah kanan sakit, saya takut ke dokter. Namun, rasa sakit yang amat sangatlah yang memaksa saya datang ke dokter yang sama. Perjalanan ke rumah sakit, dalam bayangan saya, waktu itu, tak kalah menyakitkan daripada sakit gigi itu sendiri. Kovenan Hak Asasi Manusia rasanya tak berdaya membela hak saya untuk tidak mau dicokok paksa, dengan dalih penyembuhan sekalipun.

Dua gigi ditambal. Hilang rasa sakit itu.

Hilang pula bayangan saya akan dokter perempuan itu. Dokter yang dingin (cool), yang tidak banyak bicara. Yang pandangan matanya tajam, seperti hendak mencatut paksa semua gigi saya. Saya bertekad untuk tidak menemuinya lagi.

Ah, belakangan saya sadar, tekad saya keliru. Mestinya saya bukan bertekad untuk tidak ketemu dokter gigi itu lagi, tapi bertekad untuk tidak sakit gigi lagi.

Nyatanya, saya sakit gigi lagi. Itu ketika saya tinggal dan bekerja di Jakarta. Memang, dokter perempuan itu tak berpraktik di Jakarta, namun sakit gigi itu menyerang di sana. Saya takut teramat sangat ke dokter gigi. Takut.

Kamar kost menjadi saksi, demi gengsi yang menyelimuti jirih, saya memilih jumpalitan di tempat tidur ketika sakit itu menghajar. Bisa semalam nggak bisa tidur, meski obat penghilang rasa sakit sudah saya telan mentah-mentah tanpa berdoa. Hilang seketika, dan malamnya kembali kambuh. Dan saya kembali memilih kamar untuk menaklukkan sakit jahanam itu.

Saya mengerang tanpa ada yang mendengar. Saya melenguh tanpa ada yang menolong. Ouw, kalau pun ada yang mendengar dan menolong, saya tak mau mereka melakukannya. Sakit gigi bukan untuk ditolong! Sakit gigi bukan untuk ditengok dan dikasihani!

Cukup!

Mau sampai kapan rasa sakit ini menghantui? Saya tidak mau lagi merasakannya. Maka, suatu hari, justru ketika tak ada sakit yang menghimpit, saya memutuskan untuk datang ke dokter gigi. Kebetulan ada teman SMA, drg Roy Joseph, yang mengelola klinik praktek bersama dokter gigi tersebut. Lewat telpon, saya sampaikan kepadanya, “Aku mau ditangani dokter gigi yang tau aku takut dokter gigi.”

Jadwal ia sodorkan. Saya setuju. Saya memberanikan diri menjawab, “Siap!”

Sore yang diagendakan, saya datang ke klinik tersebut. Dengan penuh keberanian, meski rasa takut itu tak sepenuhnya hilang. Saya coba menghibur diri, barangkali rasa itu bisa hilang sama sekali.

Giliran saya tiba. Menenteng jaket, saya masuk ruang periksa 1. Ada drg Endah di meja pojok. Kami bersalaman. Saya mengenalkan diri sebagai orang yang takut dokter gigi. “Kalau saya takut sama orang yang takut dokter gigi!” Waks, dokter Endah mau bercanda. Mulut saya terbuka lebar. Saya tergelak. Rasa takut itu sekonyong-konyong rontok.

Teramat parah kerusakan gigi saya. Ada 4 yang harus dicabut. Satu sudah mati, tiga patah karena keropos. “Karena banyak, Mas saya rujuk ke dokter ahli bedah mulut ya.” Selembar resep ia sorongkan pada saya, beberapa obat anti infeksi. Satu lagi surat tertutup untuk rontgen gigi.

Langkah sudah semakin maju. Pantang mundur. Saya siapkan diri betul untuk hari berikutnya. Resep saya tebus. Obat saya minum. Rontgen pun saya jalankan.

Drg Sari sudah bersiap di ruang periksa, di hari yang ditentukan. “Mboten punapa-punapa, Pak!” Tidak apa-apa, Pak. Ups, berbahasa Jawa. Halus. “Mangke menawi sakit ngendika nggih…” Nanti kalau sakit bilang ya….  Lalu kami berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Dia panggil saya Pak, saya panggil dia Dok.

Dokter Sari masih muda. Sedang mengandung putra pertama, setelah pernikahan yang dilangsungkannya beberapa bulan lalu. Dia adik kelas Roy di Fakultas Kedokteran Gigi UGM. “Mas Roy ingkang mlonco kula, nanging kula ingkang lulus rumiyin…” Wakakak, saya tak bisa menahan tawa. Ini bukan lagi sindiran, tapi tohokan. Masak lebih muda dari Roy bisa lulus lebih dulu. Sekarang sudah spesialis pula.

Memang, namanya juga bermasalah, rasa sakit itu ada. Namun, karena sudah pasrah, saya bisa menerima rasa itu, tanpa berlebihan melawannya. Saya berpegangan erat pada kursi. Tidak selalu karena sakit, tapi lebih-lebih karena tegang, takut, khawatir kalau akan sakit. Ah, ternyata rasa sakit itu sangat didominasi oleh pikiran! Ketika saya berpikir sakit, maka belum sakit pun akan terasa sakit.

Keramahan Dokter Sari dan asisten-asisten yang membantunya, plus kenyamanan Family Dental Care, nama klinik yang dengan bangga saya promosikan ini, membuat saya merasa rileks. Ternyata dokter gigi nggak nggigit hahahaha…

Setelah 4 kali tindakan, yakni 3 kali untuk bolak-balik berusaha mencabut 1 gigi geraham atas, 1 kali eksekusi untuk 3 gigi yang lain, selesai sudah perjalanan menaklukkan rasa takut ini. Memang ada sakit, namun jauh lebih sakit kalau tidak mau menghadapi rasa sakit itu.

Drg Roy, drg Endah, dan drg Sari, matur nuwun ya…  Super excellent service!

salam hangat,

AA Kunto A

aakuntoa@gmail.com

http://www.aakuntoa.wordpress.com