Banyak orang terkejut ketika mendengar saya keluar dari Penerbit Galangpress. Mereka menyatakan keheranannya atas keputusan saya. Bukan sekadar karena begitu mendadak, namun juga karena saya mengambil keputusan tidak lazim: keluar dari kemapanan.

Memang, saya menyatakan keluar dari Galangpress secara mendadak. Sangat mendadak. Namun, ancang-ancang sejatinya telah saya ambil jauh hari. Bagi saya, segala sesuatu harus saya antisipasi. Sikap independen berdiri di atas semuanya. Seorang yang merdeka adalah ia yang berani mengambil keputusan, sekaligus merebut risikonya. Dan saya mengambil keduanya. Baik pada saat keluar dari Galangpress atau ketika 3,5 tahun lalu bergabung dengannya.

Saya ambil keputusan itu Sabtu, 26 Juni. Pada sebuah pagi. Pada sebuah ruang dingin berpenyejuk udara.

Alasan internal tidak akan saya ungkap di sini. Tidak istimewa. Hanya tentang ketidaksesuaian tujuan dan cara antara pekerja dan perusahaan. Dan itu biasa terjadi dalam relasi profesional. Salah satu atau keduanya bisa memutuskan hubungan kerja atas alasan profesionalitas pula. Dalam hal ini, saya yang memutuskan hubungan. Saya mengundurkan diri sebagai karyawan.

Dinamit ini tidak meledak tiba-tiba. Percikan apinya telah bergesek-gesek sedari lama. Ini juga biasa. Dalam relasi apa pun, gesekan itu sesuatu yang lumrah. Bahwa kemudian sumbunya bisa dilipat, dan karenanya api tidak menjalar ke pangkal picu, itu juga biasa.

Begitu pun dalam soal pekerjaan. Gesekan adalah santapan sehari-hari. Kenyang merasakan semua bentuk gesekan. Ada yang bermutu, ada yang kacangan.

Gesekan pula yang mendewasakan. Tinggal bagaimana sudut pandang kita tempatkan. Tinggal bagaimana sudut rasa kita bisikkan. Tinggal bagaimana sudut makna kita letakkan.

Galangpress menyediakan semuanya. Sebagai perusahaan yang sedang dan terus bertumbuh dan berkibar, beragam gesekan menghiasi menu pekerjaan saban waktu. Silih bertukar. Organisasinya masih sangat muda, demikian juga pasukannya –meski dari sisi usia biologis ada yang sudah tua.

Saya menikmati setiap gesekan yang menghunus-hunus. Atas refleks yang dimunculkannya. Atas tepis yang menghardiknya. Juga, atas luka yang diwariskannya. Sangat biasa, apalagi penerbit ini intim sekali bercumbu dengan aneka isu sensitif. Penerbit ini gandrung memantik gesekan. Besutan gesekannya acap menjambak jidat penguasa.

Kadang menegangkan, kadang menggelikan. Menegangkan ketika respon di masyarakat begitu menggulung bagai gelombang tsunami. Menggelikan ketika lemparan gosip murahan dimuntahkan kepada publik pembaca. Terasa sekali, mana yang digarap dengan kesungguhan detil dan mana yang digoreng dengan semangat bermain-main. Juga terasa sekali mana yang ditempa sebagai idealisme dan mana yang ditempa sebagai pragmatisme sekadar mencari keuntungan materi.

Semua saya tahu bobotnya. Sebab, saya terlibat di dalamnya.

Dan setelah semua saya bungkus, saya pamit. Jenuh dengan gesekan yang berdaur ulang, saya pergi mencari tantangan baru.

salam hangat,

AA Kunto A

kunto@nareswari.com

www.aakuntoa.wordpress.com

tantangan baru: www.nareswari.com