Di meja tengah itu tergeletak selembar amplop putih. Ukuran kartu kartu pos. Benar saja, isinya ucapan selamat natal.

Itu kartu natal terakhir yang singgah di rumah kami. Sejak dunia modern dimanjakan oleh teknologi canggih, nyaris semua orang lebih suka berkirim ucapan lewat sms, telepon, email, facebook, dan twitter. Lebih cepat, praktis, dan murah. Tidak repot.

Dan kartu itu jadi terasa istimewa.

Saudara kami, yang tidak punya hubungan darah namun dekat di hati, memang rajin mengirim kartu ucapan untuk keluarga kami. Di mana pun ia ditugaskan, selalu ia luangkan waktu untuk menulis ucapan, membungkus dalam amplop, melekatkan perangko, dan mengirimkannya ke kantor pos. Berhari-hari kemudian, tanpa ia tahu pasti, kartu yang dikirimnya baru sampai di tujuan. Belum tentu si penerima akan membalasnya. Kalau pun membalas, butuh sekian malam lagi untuk menerima balasan itu. Kami termasuk yang tidak rajin membalas.

Beberapa waktu lalu, selama beberapa tahun, ia mengirim kartu, dan surat, dari Roma, Italia. Sebagai biarawati, ia mendapat tugas belajar di pusat pemerintahan gereja katolik itu. Jadilah kartu ucapan itu perekat komunikasi kami.

Bukan ia tidak melek internet. Sangat melek saya kira. Namun, saya tidak pernah menanyakan alasan kenapa ia masih memilih menggunakan cara tradisional untuk berkirim ucapan. Saya hanya menduga, ia hendak melestarikan sentuhan sederhana yang belakangan makin hilang dari peredaran. Sentuhan itu menjadi oase yang melegakan. Betapa tidak. Dalam selembar surat, goresan tangan pengirim terpatri kuat di sana. Tebal-tipis dan tegak-miring tulisan begitu kentara, menandakan suasana hati dan emosi pengirim sekaligus. Tanda tangan yang terbubuh di penghujung tulisan juga terasa sebagai tanda cinta.

Kini, saudara saya ini sudah kembali ke tanah air. Ia kembali bertugas di sebuah lembah pertapaan. Dalam sunyi ia bekerja dan berdoa. Dalam sunyi pula ia tetap menyapa, dengan cara yang sama, selama bertahun-tahun, tetapi dengan sapaan yang semakin dalam.

Semoga, itu bukan kartu natal terakhir yang hadir di rumah kami.

Semarang, 25 Desember 2009

AA Kunto A [aakuntoa@gmail.com]