Pak Roni turun dari mobil tergopoh-gopoh. Ia meminta maaf atas keterlambatannya. Maklum, ia datang sejam lebih lama dari waktu yang dijanjikan.

Saya segera menghambur ke halaman kantor begitu mengetahui kedatangannya. Saya gantikan mengemudinya, Pak? “Tidak usah, Mas. Berangkat sekarang?” Baik, saya segera menyelinap ke kursi depan di sampingnya. Perjalanan pagi ini berujung di Magelang, ke arah Pak Roni berangkat, dengan waktu tempuh sekira satu jam.

Ini kali kedua saya bertemu Pak Roni. Itu pun hanya sebentar. Namun, saya masih mengingat dengan baik wajah dan perawakannya. Ia santun, mudah diajak ngobrol, memudahkan saya mematri ingatan.

“Saya tidak ingat wajah sampeyan,” ungkapnya jujur. Tidak mengapa. Usianya hampir sesepuh bapak saya. Belum 60 tahun. Banyak wajah yang telah ditatapnya, juga banyak wajah yang sudah menguap dari bank ingatannya.Saya maklum, bahkan ketika ia tidak ingat lagi jalan yang baru saja ditempuhnya ketika ia berangkat menjemput saya. “Semua jalan kelihatan sama,” elaknya. Ya, dan kita selalu lewat sebelah kiri, batin saya, serta hanya belok kanan dan kiri.

Alhasil, saya memandunya menyusuri jalan tengah kota Jogja untuk segera mencapai Jalan Magelang. Tadinya, pikir saya, tawaran untuk menggantikan posisi mengemudi, selain atas dasar pertimbangan capek karena telah menempuh perjalanan jauh, juga untuk memastikan ketepatan waktu jika saya yang memancal pedal gas. Dasar saya suka menyetir, rada keki juga jadi penumpang.

Belum keluar Jogja, di perempatan Munggur, saya panggil tukang koran untuk merelakan dua korannya saya beli. Satu koran nasional, satu koran lokal. Selain untuk menganyari informasi sebagai bahan pembicaraan di forum yang akan saya hadiri, saya juga bermaksud membunuh kekhawatiran saya atas waktu tempuh yang begitu mepet dengan jadwal yang disodorkan panitia semalam lewat email. Saya merasa pantas khawatir karena jalanan di pagi hari begitu padat oleh lalu-lalang orang yang hendak ke sekolah dan tempat kerja. “Tadi berangkat ke Jogjanya saya tidak berani kencang karena begitu banyak motor,” tukas Pak Roni seperti menunjukkan bahwa perjalanan ini pun tak akan kalah leletnya.

Kekhawatiran saya sirna begitu Pak Roni mulai memainkan perannya sebagai sopir sebuah kantor LSM yang nyaris saban hari berpindah dari satu kota ke kota lain. Ia dengan gesit menyelinapkan mobil di antara kesesakan arus lalu lintas. Padahal, “Saya paling takut kalau sampai senggolan sama motor. Males urusannya,” akunya.

Ternyata Pak Roni pribadi yang hangat. Juga murah cerita. Nyambung, dari satu topik ke topik lain. Juga ketika dia mengawali cerita, “Yang ini cuma saya dengar dari teman, bukan pengalaman saya pribadi.” Jika dosen, ia telah melakukan salah satu kejujuran akademik ketika menyebutkan sumber referensi yang dikutipnya.

“Kita belok sini saja, Mas. Lebih cepat.” Jalan Pemuda, Kota Muntilan tak kami habiskan. Baru separo, kami berbelok menyusuri jalan sempit di tengah perkampungan dan persawahan. Ketika kami berpapasan dengan lima bus besar, ia beropini, “Lihat, Mas. Ini jalur pariwisata. Bus-bus dari Borobudur atau Sendang Sono (tempat peziarahan orang Katolik) banyak yang lewat sini. Sayang, jalannya sangat sempit. Kenapa ya pemerintah tidak melebarkan jalan ini sehingga lebih enak dilalui? Kan mumpung di kiri-kanan jalan belum banyak rumah.” Saya sepakat. “Kan orang dari mana-mana ke sini,” timpalnya untuk menggarismerahi betapa besar dampak promosi yang akan dipanen.

Sepuluh menit sebelum pukul 9, Candi Mendut sudah di depan mata. Koran yang saya beli tak jadi saya baca. Tak sempat. Obrolan kami terlalu hangat untuk dilipat.

Panitia pun belum menelepon untuk menanyakan kami sampai di mana. “Kalau ditelpon, bilang saja baru sampai Muntilan, Mas, biar mereka panik.” Haha, jahil juga orang ini. Dan saya mengangguk tanda setuju. Sayang, sampai di gerbang Candi Borobudur, tak satu pun panitia mengontak kami. Bahkan, di pintu masuk Hotel Manohara–hotel di dalam kompleks candi yang telah beroperasi lama sebelum drama Manohara mencuat ke permukaan– pun tak tampak batang hidung panitia. Ah, siapa suruh jahil?

“Saya tunggu di parkiran ya, Mas, biar nanti bisa langsung kembali ke Jogja,” pamit Pak Roni saat saya turun dari mobil di depan lobby hotel. Tidak usah Pak, nanti saya nebeng teman yang kebetulan sama-sama diundang jadi pembicara di seminar yang diikuti aparatur pemerintah di lingkup Pemkab Magelang ini.

Pak Roni, terima kasih atas pelajaran kehidupan pagi ini. Semoga sampeyan senantiasa sehat dan tetap tenang di jalan.