jadah tempe, makanan khas kaliurang. foto kunto

jadah tempe, oleh-oleh khas kaliurang. foto kunto

Bukan hanya agama yang bikin kecanduan. Bersepeda juga. Seperti pagi ini.

Subuh tak lagi gelap. Pantulan matahari sudah menyingkap permukaan bumi. Pohon-pohon sudah kelihatan daun dan batangnya. Juga rumput sudah kelihatan menggigil dicumbu embun.

Sepeda hybrid kesayangan segera saya lepas dari kandangnya. Kemarin sore sudah saya cuci bersih. Beberapa baut yang kendor juga sudah saya kencangkan. Ban sudah pada tekanan yang semestinya. Botol minum saya isi air putih penuh. Sadel sudah saya tinggikan untuk mencapai jejakan kaki maksimal.

Sekeranjang bunga tabur juga sudah saya selipkan di bawah plantangan. Ya, saya berencana mampir ke rumah Oka, anak saya, di pemakaman keluarga. Bunga tabur itu saya beli kemarin sore di Pasar Kranggan, sepulang kantor, sepulang nggowes ke Malioboro.

Tanpa mandi, hanya cuci muka, saya siap meluncur. Tujuan hari ini ke Kaliurang, 25 kilometer dari Kota Jogja. Kaliurang ada di lereng selatan Merapi, gunung berapi teraktif di dunia. Ketinggian tempat itu lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.

pisang, oleh-oleh alternatif dari kaliurang selain ampyang kacang. foto kunto

pisang, oleh-oleh alternatif kaliurang selain ampyang kacang. foto kunto

Rute yang saya tempuh standar saja, lewat jalan raya. Banyak teman sepanjang jalan. Tanpa kenal sebelumnya, kami biasa saling sapa. Dari sekadar senyum hingga, “Mari, Mas….” Atau, setidaknya menganggukkan bel “think…” dan mereka akan membalas tak kalah hangatnya.

Cuaca tak begitu cerah pagi ini. Matahari tak menampakkan diri, meski ia pasti menjalankan tugasnya di balik awan. Kabut tipis menemani perjalanan menuju ketinggian. Makin ke atas makin tebal. Untung udara tak begitu dingin. Masih bisa dihalau dengan keringat dan nafas yang ngos-ngosan.

Dua kali saya berhenti turun minum, layaknya pemain bola yang sembari mengatur strategi. Pertama, di utara Pasar Pakem, kedua di pintu gerbang Kaliurang. Di perjalanan 10 km terakhir ini, pesepeda mulai berjalan satu-satu. Tanjakan panjang di Wonogiri dan Purwodadi memaksa pengayuh mencermati betul kemampuan detak jantungnya. Gigi paling kecil harus dipasang supaya bokong tetap bisa nempel di atas sadel.

Pukul 06.30 WIB, saya sudah tiba di persimpangan WARA. Disebut demikian karena tepat di belakang jadah-tempe Mbah Carik terdapat tempat pendidikan tentara perempuan TNI AU. Dan pagi tadi, dengan mengenakan celana doreng plus kaos lengan panjang warna orange, mereka bermunculan dari markas hendak berlatih di luar kompleks. Sementara itu, para pesepeda sedang beristirahat di depan warung Bu Gien.

museum seni dan budaya jawa "ullen sentalu"

museum seni dan budaya jawa "ullen sentalu" kaliurang

pesanggrahan kraton kasultanan yogyakarta

monumen "notulen kaliurang" milik kraton kasultanan yogyakarta

museum merapi

museum merapi kaliurang

Meski sudah tiba di Kaliurang, namun tempat ini bukan tujuan akhir. Memutar lewat barat, melewati gardu pandang dan bumi perkemahan, saya menuju terminal Tlogo Putri. Sate kelinci ada benak. Benar saja, di sebuah warung di ujung timur, saya memesan untuk sarapan pagi. Minumnya tentu saja teh nasgitel.

Tumben, tak banyak pesepeda yang berkeliaran di lahan parkir terminal. Biasanya banyak. Mungkin mereka menyebar ke berbagai titik, atau malah berguguran di tengah jalan karena khawatir akan cuaca mendung yang tidak bersahabat.

Usai bersantap, saya bergegas mengayuh sepeda lagi keliling obyek wisata andalan Kabupaten Sleman ini. Kali ini roda sepeda saya arahkan ke Museum Ullen Sentalu, sebuah museum yang menyimpan aneka koleksi barang dan kisah tentang kebudayaan Jawa. Lokasinya sangat eksotis, dengan pepohonan yang masih alami. Pagar batu mengelilingi kompleks museum, mengesankan tempat tersebut sebagai bangunan kuno. Sayang sekali, waktu terlalu pagi untuk berkunjung. Museum baru buka pukul 09.00 WIB.

Saya berpindah ke pesanggrahan milik Kraton Kasultanan Yogyakarta. Oleh pemerintah, tempat tersebut dijadikan monumen mengenang perundingan RI-Belanda pada 13 Januari 1948. Perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan yang dinamai “Notulen Kaliurang”. Saya belum memiliki banyak informasi tentang isi perjanjian tersebut. Pak Parmin, abdi dalem penjaga petilasan itu tak bisa bercerita lengkap.

Sembari meluncur ke bawah, melewati jalan barat, saya mampir ke Musem Merapi yang terletak di dusun Boyong. Baru sebulan lokasi ini dibuka untuk umum. Isinya mengenai berbebagai informasi dan peninggalan seputar kegunungberapian, terutama tentang Gunung Merapi. Sayang, belum ada petugas khusus untuk memandu pengunjung.

Ah, kali lain saya pasti datang lagi. Dengan sepeda tentu saja. Sebelum sepeda jadi koleksi museum di kota sepeda.