di halaman joglo kumendung

di halaman joglo kumendung

Jika pada Selasa 22 September berlangsung halal bi halal dan syawalan keluarga besar Trah Pawirodikromo, maka pada Jumat 25 September giliran “keluarga kecil” Trah Wiropawiro (yang bernomor induk 3) menggelar acara serupa. Rutin, saban Syawal. Rumusnya, untuk trah besar, acara diadakan pada “tanggal merah kedua” Idul Fitri, sedangkan trah kecil pada tanggal ke-5. Sudah pasti, tidak peduli jika ada perbedaan hari raya antara pemerintah dan kelompok masyarakat tertentu.

Seperti sudah ditradisikan, “badan” (merayakan bakda) selalu diadakan di Joglo Kumendung. “Di sinilah Mbah Wiropawiro dulu lenggah,” ujar Bapak S. Wahono (3.7.1), pengurus trah menjelaskan kenapa acara selalu dilangsungkan di tempat itu. Supaya anak-cucu mengingat cikal-bakalnya.

Mulyowiyono, putra ke-7, simbah saya

Mulyowiyono, putra ke-7, simbah saya

diiringi gamelan Mega Laras yg biasa berlatih di joglo ini. sayang, tanpa dalang. padahal ada wayang...

diiringi gamelan Mega Laras yg biasa berlatih di joglo ini. tidak wayangan.

Karena sebagian keluarga ada yang sudah masuk kerja, mengingat cuti bersama tak sepanjang tahun lalu, maka pertemuan kali ini dibuka seusai Shalat Jumat. Tidak seperti biasanya, kali ini acara berlangsung di halaman joglo, duduk di kursi di bawah tratag (tenda). Dalam joglo sendiri ditempati gamelan, wiyaga, plus sinden. Gending-gending jawa menyulap suasana siang yang terik itu menjadi teduh. 150-an anggota keluarga yang datang betah duduk hingga acara kelar menjelang pukul 16.00 WIB seusai sungkeman kepada sesepuh dan pinisepuh. Kami, yang tersebar di berbagai kota, dalam kesempatan emas seperti ini selalu bersua. Sebab, tidak mungkinlah kami bertemu 3 bulan sekali sesuai jadwal pertemuan rutin trah.


Tanah takkan berkarat

Mbah Wiropawiro, sebagaimana kerap dituturkan Simbah adalah petani desa yang mencintai pekerjaan di kebun dan sawah. Meski dulu juga memiliki jabatan di tingkat lokal, namun kecintaannya pada tanah begitu tinggi. Kata Pak Wahono, bapak saya, kepada hadirin, “Semua 8 putra Mbah Wiro dibelikan tanah pekarangan. Dan luas semua. Bagi Mbah Wiro, tanah pekarangan itu penting, lebih penting daripada sawah.” Ia menirukan alasan Mbah Wiro, “Wong ki sing penting papan. Perkara mangan isa golek nang endi wae. Delok manuk kae, mabur tekan ngendi-endi golek pangan, trus mulih.” Kebutuhan utama manusia adalah tempat tinggal. Tempat mencari makan bisa di mana saja, tetapi tempat tinggal harus jelas. Lihat burung-burung di udara itu. Mereka mencari makan hingga terbang ke sana-kemari, dan akhirnya pulang.

antri sungkeman, urut tuwa, ora urut banda

antri sungkeman, urut tuwa, ora urut banda

Prinsip Simbah ini berbeda dengan kebanyakan orang modern zaman ini. Banyak orang yang kini punya kendaraan mewah lebih dari satu, tapi tidak punya rumah. Parkir di pinggir jalan, atau dititipkan.  Saya ingat pesan  Mbah Kismo,  putra bungsu Mbah Wiro, “Aku ora gumun karo wong sing duwe mobil akeh. Sebab, mobil iku isa teyengen, lan regane saya mudun, nanging lemah kosok balene.” Aku tidak heran dengan orang yang punya mobil banyak. Sebab, mobil itu, karena terbuat dari besi, bisa berkarat, pun harganya terus menurun, sedangkan tanah justru sebaliknya.” Kata bapak saya lagi, “Simbah tidak mengijinkan anak-anaknya menjual tanah jika belum mampu membelinya.” Apa hasilnya? Bukannya menyempit, tanah putra-putra Mbah makin luas karena ada kebanggaan jika mampu membeli tanah.

Alhasil, pekarangan putra-putra Mbah Wiro begitu luas. Rata-rata, selain muat didirikan rumah bertipe di atas 200 m2, pekarangan mereka juga masih mampu menampung pohon-pohon salak, kandang sapi, dan puluhan pohon kelapa. Sampai kini.

Memasuki generasi ketiga

generasi ketiga dan keempat: S Wahono (3.7.1) dan Chandra Sena (3.7.1.3)

generasi ketiga dan keempat: S Wahono (3.7.1) dan Chandra Sena (3.7.1.3)

Mbah Wiro sudah lama meninggal. Putra-putranya pun sebagian besar sudah menyusul. Yang bertahan tinggal 2 putra terakhir dari 8 putra-putri yang terlahir. Mereka adalah Mbah Mulyowiyono (3.7) dan Mbah Kismorejo (3.8). Keduanya sudah menduda setelah Mbah Kismo ditinggal seda mbah putri pada bulan puasa lalu, dan Mbah Mul yang didului istrinya hampir 2 tahun lalu. Kakak-kakak mereka sudah berpulang. Yang tertinggal adalah ipar, Mbah Duta putri, Mbah Manggungsari kakung (aduh, lupa namanya), dan Mbah Arjo putri.

Maka, kini, sudah mulai masuklah ke generasi ketiga, atau keempat jika dari Trah Pawirodikromo.