tradisional, ramah lingkungan, mengesankan

tradisional, ramah lingkungan, mengesankan (foto: AA Kunto A)

Bungah hati ini menatap dua gerobak berjalan beriringan. Masih ada kendaraan-kendaraan tradisional itu. Yang satu digeret dua sapi, yang satu hanya satu sapi. Beriringan depan-belakang. Bajingan –sebutan untuk kusir gerobak– tampak sabar menuntun sapi-sapinya membelah jalan yang ramai dilalulalangi kendaraan bermesin.

Kecepatan gerobak sapi itu tak lebih dari 5 km/perjam, sama cepat dengan kecepatan orang berjalan kaki di siang yang panas. Tidak sangat lambat, namun tidak pula bergegas. Sapi tidak suka berjalan cepat. Mungkin karena mereka sering dipekerjakan mengusung beban, atau menarik bajak. Beda dengan kuda yang suka berpacu.

Saat kecil, salah satu kegemaran saya adalah menumpang gerobak. Tahun 1980-an, di kampung saya masih banyak petani yang memiliki kendaraan roda dua yang tidak selalu beratap ini. Oh, atap ini bisa dibongkar-pasang.  Tetangga depan rumah, malah, gerobaknya besar karena ditarik 2 sapi.

Saya suka duduk di belakang roda. Ada sedikit papan menjorok keluar di situ. Kaki menjulur ke bawah, menginjak batang kayu yang melintang di bawah gerobak. “Jak… jak… her… her…,” hardik bajingan kepada sapinya agar mulai melangkahkan kakinya. Ketika jalan menurun, tugas saya atau orang yang duduk di posisi saya adalah menginjak kayu itu hingga menempal pada ban. Bannya sendiri besar, biasanya bekas ban truk. Ssssk… ssssk… dan gerobak pun melambat.

Saat musim panen tiba adalah saat-saat paling menggembirakan. Begitu tetangga depan rumah mengikat leher sapi dan menjulurkan kepala sapi itu di “pasangan”-nya saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk “nyengklak” ke bak gerobak yang tingginya sekira 1 meter itu. Jika sapinya besar, maka permukaan bak gerobak akan miring ke belakang. Kalau tidak hati-hati bisa keplorot dan jatuh. Klonthong… klonthong… bunyi lonceng yang menggantung di leher sapi.

Sepulang dari sawah, ini yang mengasyikkan. Gerobak berisi tumpukan karung berisi gabah hasil tuaian. Semakin tinggi tumpukan, semakin senang kami, karena bisa memanjat karung-karung itu dan duduk di ketinggian, sambil menatap hamparan sawah yang luas di sepanjang mata memandang.

Hmm, masa kecil yang menyenangkan.