menulis, mencerita, menyejarah

menulis, mencerita, menyejarah

Rapat dadakan di kantor pagi ini mencolek tengkuk saya. Ada pesan istimewa yang disampaikan pimpinan saya tentang perlunya kehati-hatian dalam berinternet, terkhusus ber-facebook. Pesan ini mencuat setelah semalam ada kejadian menegangkan di dunia maya. Seorang teman mengunggahkan materi publikasi yang kemudian memancing komentar beberapa orang. Maaf, untuk tidak memperkeruh situasi, saya samarkan materi publikasi tersebut. Teman saya itu mengabarkan kepada khalayak nirfisik, “Pemusnahan buku tertentu”.

Aha, mendebarkan sekali kabar itu. Apa salah “tertentu” sehingga harus dimusnahkan? SMS pun bertebaran untuk menculik informasi, pada tengah malam ketika sumber-sumber informasi bersiap merebah. Bah, bahaya nian desas-desus di puncak ratri bila tak segera disapih.

Remove. Hapus.

Tulisan sudah dihapus, meski mungkin kabar sudah menyebar hingga sudut-sudut entah. Habis sudah celah untuk menjernihkan bahwa yang dimaksudkan oleh si pemberi informasi di facebook itu adalah “pemusnahan buku salah cetak tertentu”. Ups, cuma gara-gara kurang “salah cetak” saja bikin gempar?

Pertanyaan usil ini, sekali lagi, mencolek tengkuk saya. Ah, cuma mencolek. Eits, hati-hati ya. Jika tengkuk saya dicolek pakai jari manis, mungkin bulu kuduk saya saja yang bakal merinding. Tapi, kalau tengkuk saya dicolek dengan pentungan besi –seperti menimpa jurnalis Bernas Udin 13 tahun yang lalu– terkapar dan tewaslah saya.

Ini pelajaran sangat istimewa pagi ini. Bukan pelajaran baru, namun selalu terasa baru. Bahwa dalam menulis, kita mutlak harus berhati-hati. Terlebih di era internet dewasa ini, begitu lonceng publish kita pukul, bergaunglah tulisan kita hingga ke seberang-seberang rimba. Gajah, singa, semut, dan kupu-kupu akan mendengar. Juga kaktus, bambu, dan edelweis anaphalis javanica turut mendengar. Lalu goa-goa, riam, dan danau akan menyimpannya di kedalaman ingatan mereka. Semua tak bisa diminta kembali. Semua lenyap bersama Adam Air dan Air France.

Revolusi teknologi komunikasi memang begitu menggoda kita. Lewat SMS, email, blog, note, dan tools teknologi komunikasi lain, semua orang sudah jadi penulis. Apa pun bentuk tulisannya, apa pun isinya, dunia tulis-menulis sudah sedemikian dekat bagi kebanyakan orang. Sedemikian mudah, sedemikian menyenangkan.

Dan di sinilah jebakannya. Kemudahan dan kesenangan acap membuai, tak indah kita pada kecermatan dan ketepatan pesan. Kita bisa lupa, tulisan bisa melesat sendiri ke arah yang ia suka, tanpa bisa dikendalikan. Kasus Prita Mulyasari masih terlalu panas untuk kita lupakan.

Maka, belajar dari semangat “internet yang melesat”, kiranya kaidah-kaidah dasar menulis berikut ini patut kita ingat dan catat kembali. Kaidah ini berlaku bagi siapa pun, bukan hanya penulis, melainkan juga pemasar, humas, sekretaris, dan setiap orang yang bersinggungan dengan komunikasi internet di sebuah uncharted territory:

  1. Tentukan sasaran pembaca
  2. Tentukan gaya bahasa yang sesuai dengan sasaran pembaca
  3. Jelaskan konteksnya
  4. Gunakan bahasa yang sederhana
  5. Cantumkan data yang relevan
  6. Cek dan cantumkan sumber kutipan

Masih banyak kaidah lain yang perlu kita perhatikan. Semua kaidah itu penting bagi kita mengingat pembaca internet begitu beragam tipe, kepribadian, dan keluasan wawasannya. Ada yang membaca dengan mata, ada yang membaca dengan pikiran, ada yang membaca dengan hati. Cara membaca ini menentukan respon mereka terhadap tulisan kita. Ada yang mencerna, ada yang mencerca, ada yang membandingkan, ada yang reaktif, ada curiga, ada yang tidak mau tahu. Respon ini pun berlanjut. Ada yang mendiamkan, ada yang menyebarluaskan kepada orang lain, ada yang langsung menghardik penulisnya.

Semua aspek itu harus kita pertimbangkan sebelum tombol publish kita klik. Pertimbangan itu penting untuk memastikan bahwa tulisan kita akan benar-benar tepat sasaran. Dengan demikian, kita akan terhindar dari dampak-dampak yang tidak perlu.

Catatan ini begitu sepele. Dan justru karena sepele ini banyak netter yang suka menyepelekan. Etika berinternet dicampakkan begitu saja, seolah tidak ada hubungan semenda dengan etika pergaulan empirik. Padahal, publikasi kita di internet adalah cermin nyata kita.

Selamat berselancar di cermin maya…