imanmu menyelamatkan

imanmu menyelamatkan

Dua perayaan besar baru saja usai: pemilu dan paskah. Pemilu adalah perayaan demokrasi, sedang paskah adalah perayaan iman.

Ada kesamaan di antara keduanya.

Pertama, sebagai ritual. Pemilu dilangsungkan lima tahun sekali, pemilu setahun sekali. Periodisasinya jelas. Tata cara upacaranya juga sudah ditentukan bentuk dan urutannya. Simbol-simbol penyembahan pun diciptakan serupa: bendera, tema, dan perarakan.

Kedua, prosedural. Pemilu diselenggarakan setelah partai-partai pesertanya lolos kualifikasi, setelah melalui tahap-tahap penyaringan tertentu, sedangkan paskah juga digelar setelah umatnya menempuh ritus-ritus tertentu seperti pantang dan puasa, ibadat tobat, dan pemurnian janji baptis.

Ketiga, formal. Pemilu dan paskah sama-sama dimegahkan oleh aturan-aturan baku. Peserta pestanya mesti memegang kartu kepesertaan supaya keabsahannya diakui. Pesertanya sama-sama harus tercantum dalam DPT (daftar pemilh tetap).

Bagaimana dengan perilakunya? Sama juga. Ada yang ikut pemilu dan perayaan paskah dengan kesadaran ideologis-teologis kuat, ikut-ikutan, atau malah tak punya sama sekali. Yang berlatar ideologis tahu benar apa arti pemilu bagi kehidupannya; yang berlatar teologis juga demikian.

Hehe, ada yang golput (golongan putih) juga lho. Ya, keduanya sama. Tidak ikut pemilu, atau tidak ikut paskah. Mereka sama-sama beranggapan “ngapain sih ikutan?” “emang ada perubahan?”

Bagi saya, baik pemilu maupun paskah, perlu dimaknai lebih isi daripada kulitnya, lebih esensi daripada prosedurnya. Tidak saling menegasikan, melainkan saling menegaskan. Sehingga, seperti pesan Plato, pemilu tidak menjadi eikasia demokrasi, khayalan belaka. Pun, paskah tidak menjadi khayalan iman.

Selamat paskah.