Daun-daun sedang meranggas. Setelah menguning, mereka terhempas. Bukan saja angin telah menjungkalkan mereka, melainkan karena pijakan mereka sendiri sudah tidak kokoh. Terpisahlah mereka dari rantingnya.

Halaman rumah kotor sudah. Satu daun disapu, daun lain menyusul. Terkulai mereka silih berganti. Tanpa daya, tanpa pesona. Baru disapu, sudah mblader lagi.

Belum lama, mereka adalah hijau yang berkilau. Mata yang lelah akan pulih kala menatapnya. Lembut punggungnya kala diusap. Para pelukis berebut memetiknya dengan kuas, lalu menanamnya di kanvas, lengkap dengan pupuk cat warna-warni. Para juru foto akan merekamnya di kamera keabadian. Para penari pun akan mengimitasi gemulainya dalam sendratari pewayangan.

Burung-burung berlomba hinggap, membangun sarang, dan beranak-pinak.

Tapi ini musim gugur. Daun-daun kehilangan aura. Ranting kehilangan kawan, batang pohon berdiri tanpa kemolekan.

Toh, alam sudah punya hukum agungnya. Pohon jati tak mati hanya gara-gara ditinggal daunnya. Bahkan tidak satu pun tersisa. Pohon jati tetap akan hidup sampai satu daun kembali bersemi. Dua daun. Tiga daun. Lebat kembali.

Dan banyak pohon ingin seperti jati. Kuat, walau tampak kering. Mereka sadar, setelah musim panen usai, saatnya musim meranggas. Jika mereka sanggup bertahan, akan tiba waktunya musim semi, saat bebukitan kembali merimbun, saat kekebunan kembali melebat. Dan itu adalah saat para petani bersiul-siul, pendaki gunung menari-nari, alam bersuka ria.

Jika pohon setangguh itu, manusia tentu lebih darinya. Dengan akal budinya, manusia dianugerahi kemampuan mengatasi musim-musim. Juga kemampuan memahami waktu. Bahwa semua ada saatnya. Ada saatnya hujan, ada saatnya panas. Ada saatnya bersemi, ada saatnya berguguran. Ada saat suka, ada saat duka. Kadang saat-saat itu sebelah-menyebelah, kadang depan-belakang, kadang hadir bersamaan dalam tawa sekaligus tangis.

Dengan kemampuan itu, manusia tidak akan larut dalam kesedihan, sebagaimana tidak hanyut dalam pesta kebungahan. Tidak ada ratap melebihi geretak gigi, tidak ada puja melebihi deru jantung. Semua beriring dalam keseimbangan.