Warung itu begitu sederhana. Bagi saya. Orang kebanyakan bisa jadi akan menyebutnya jelek. Bagaimana tidak, warna hijaunya sudah kusam. Bangunannya tidak begitu tegak. Jika ada angin besar, bisa rubuhlah warung berukuran 3×4 meteran itu. Menjadi samar karena terlindung di bawah pohon besar.

Untuk memasuki warung itu, saya mesti sedikit merunduk. Ya, supaya kepala tidak terantuk. Seorang perempuan cukup tua, usia sekira 60 tahun, pasti menyambut dengan senyum. Nyaris setiap pengunjung disapa namanya. Janda beranak 3 itu dikenal dengan nama Lik Adi. Ada juga yang memanggilnya Mbah Adi. Maka, warung itu pun dikenal sebagai warung LA.

Letaknya di Ambarukmo, 50 meter dari jalan raya Adisucipto. Persis di kanan jalan menuju kampus Akademi Pariwisata “Ampta”. Seberang warung itu tanah kosong bekas kompleks Hotel Ambarrukmo. Kabarnya, sebentar lagi tanah itu akan kembali dibangun hotel legendaris di Yogyakarta itu. Di belakang warung juga tanah persawahan. Samping kirinya bangunan bambu bertingkat, bekas rumah makan yang telah bangkrut. Dari Ambarrukmo Plaza, 200 meter di baratnya, warung itu tidak kelihatan. Barangkali, orang-orang yang berbelanja di pusat perbelanjaan terbesar di kota pelajar ini pun tak menggubrisnya. Mereka lebih kenal Starbucks, Foodcourt Tamansari, KFC, ketimbang warung kecil macam ini.

Memang, menu yang dihidangkan warung ini tidak selengkap di plaza itu. Masakannya cuma dua-atau-tiga jenis: lodeh, pepaya, bihun. Kadang juga ada masakan lain, tapi variasinya amat terbatas. Lauknya juga cuma ada ayam goreng, telur dadar, tempe, atau gorengan lain. Sekarang sudah tidak ada “tahu arab”.

Frapucino? Ya tidak ada. Kopi tubruk yang ada, atau paling banter kopi kemasan. Teh dan jeruk adalah minuman standarnya.

Meski sederhana, jangan tanya soal suasanya. Wow, sangat hangat di warung itu. Antarpengunjung saling kenal, saling sapa, dan saling ledek. Tawa lepas selalu meledak. Usai makan, mereka pun tak bergegas pulang. Pindah ke teras depan, main catur atau ngobrol ngalor ngidul.

LA adalah warung internasional. Orang yang datang ke sana pasti bisa bicara dalam berbagai bahasa: Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, Mandarin, dan banyak lagi. Meski tampang mereka kampungan, karena pakai sandal jepit, kaos oblong, bersepeda motor, ada juga yang bermobil, namun banyak negara di dunia telah mereka kunjungi. Tiap hari pun mereka bergaul dengan orang-orang mancanegara. Warung itu menjadi ajang pertemuan di antara mereka: pemandu perjalanan, biro wisata, dan pelaku-pelaku pariwisata.

Mampirlah jika sempat. Meski untuk sekali makan mereka hanya perlu mengeluarkan rerata Rp 5 ribu, namun aneka mata uang berbagai negara mereka punya. Hidup mereka memang tampak begitu sederhana. Sekilas, tak tampaklah bahwa pergaulan mereka begitu luas.

Pemandangan itu kontras dengan pemandangan di dalam Ambarrukmo Plaza. Di sana, barang-barang berbagai merek dunia terpajang dengan mewah. Para pembelanja pun berbusana tak kalah mewahnya. Gaya mereka tentu khas kelas menengah-atas. Tapi, belum tentu pergaulan dan wawasan mereka semewah penampilannya.

LA yang inspiratif.