Mulai hari ini, saya kembali menunggang kuda. Hehe, kuda besi buatan Jepang. Hampir dua tahun saya terkurung di kereta. Juga kereta besi buatan Jepang. Hanya sesekali saya lepas dari kereta. Sesampai di rumah, atau jika hari libur. Juga, jika tidak ada urusan kedinasan.

Segar sekali menembus pagi, langsung bertatap muka dengan matahari, dan bertegur sapa dengan angin sawah. Lembut udara menembus paru-paru, membugarkan badan. Bukan udara dari pendingin yang saya hirup. Semesta alam langsung yang menyediakannya.

Saya girang bukan kepalang. Kuda besi ini begitu tangguh dipacu. Ia tidak merintih kelelahan. Ia seperti turut dalam kegembiraan saya. Laju. Laju. Pacu. Kencang.

“Kuda perkasa”, demikian saya menjulukinya sejak kuda ini jadi tunggangan pacar saya, yang sekarang jadi istri saya. Kuda saya dulu tak seperkasa ini. Kecil, minim tenaga. Maka, dulu, ketika pergi ke luar kota, atau mendaki bebukitan, saya nembung kuda istri saya ini untuk boncengan berdua. Dan sungguh perkasa. Tanjakan ditaklukkannya. Jalanan lempang dilibasnya. Ah, pantas saja istri saya suka sekali dengan kuda ini.

Sekarang, kuda ini saya yang tunggang. Istri saya memacu kuda yang lebih muda, generasi terbaru peranakan Jepang.