Satu lagi pelajaran hidup datang menghampiri. Caranya pun istimewa.

Kerajaan tempat saya mengabdi sedang di ujung tanduk. Belum parah amat memang. Tapi kalau situasi terus seperti ini, ujung tanduk itu pasti menusuk dan mencabik kami.

Panglima berpikir keras, bagaimana supaya kami tidak kalah dalam peperangan ini. Bendera optimisme masih berkibar, meski lambaiannya lesu.

Dalam waktu yang amat sempit, Panglima mengumpulkan kami, para sentana regu. Dia memetakan, regu mana yang bisa jadi andalan, darahnya mendidih, dan regu mana yang loyo, yang butuh pecutan keras untuk layak maju perang.

Regu saya dinilai kurang darah. Tidak layak di depan karenanya.

Saya terima penilaian ini. Dan saya bertanggung jawab atas asatnya pasokan darah di pasukan saya.

Menghadap panglimalah saya. Bukan untuk mundur dari peperangan, tapi berperang dengan cara lain. “Saya turun dari kereta, Panglima. Terlalu nyaman titihan ini. Bikin saya lembek.”

Mulai besok, saya kembali menunggang kuda. Biar hujan dan angin kembali menyapa, kembali menerpa, kembali menempa. Untuk merebut panji-panji kemenangan!