Oka sudah bersemayam di peristirahatan abadinya di Asanalaya Tapansari, makam keluarga kami. Kemarin, saya sendiri yang membaringkannya di liang lahat.

Perjalanan pemindahan dari Solo ke Jogja berlangsung sangat lancar. Bapak, Ibu, Bulik Umi , dan calon adik ipar Beta pagi-pagi benar meluncur dari Jogja, tak sampai empat jam kemudian mereka sudah tiba kembali di Jogja. Tidak hujan, malah panas terik. Bapak dan Ibu Solo sudah menyiapkan semuanya dengan baik sehingga lancarlah prosesi itu.

Keluarga pun sudah bersiap di makam sebelum rombongan tiba. Mbah Kismo, satu-satunya adik kandung Mbah Kakung yang tinggal di Muntilan, sedari pagi sudah menyandarkan sepeda ontelnya di rumah Mbah. Keluarga besar pun berkumpul. Juga tetangga-tetangga dan umat katolik di lingkungan Mbah.

Tepat pukul 10.30, saya meletakkan peti Oka di tanah. Seuntai rosario saya kalungkan di atas petinya, tanda penyerahan kepada Gusti. Pak Jimun, pro diakon yang memimpin upacara menyertai dengan percikan air, uncalan tanah dari lokasi awal, dan taburan bunga di dalam makam.

Irenius Oka Anggoro, anak saya dan Ovik yang gugur 30 Juli tahun lalu, telah bersatu dengan leluhurnya, di tempat yang tenang di kaki Merapi. Semoga rohnya beristirahat dalam damai, menemani ibunya yang tengah mengandung adiknya.