Roh itu hidup, meski badan mati.

Demikian juga dengan roh anak kami, Oka, yang gugur 30 Juli tahun lalu. Meski usianya di kandungan baru sebulan, namun kami meyakini bahwa roh kehidupan sudah berhembus di janinnya. Maka, begitu janinnya lahir, kami menguburkannya selayaknya orang hidup yang wafat. Di halaman belakang rumah bapak-ibu istri saya di Solo Oka berbaring dalam keabadian. Oleh bapak, Oka dikebumikan di bawah pohon pisang.

Dalam perkembangan, kami merasa bahwa cara penguburan itu kurang sempurna. Memang, dengan menguburkan di kompleks rumah, kami merasa bahwa Oka ada bersama kakek-neneknya, ditunggui setiap saat. Namun, tampaknya, ada aspek lain yang belum terpenuhi. Oka butuh rumah keabadian yang lebih nyaman.

Menanggapi rasa batin itu, kami memutuskan untuk memindahkan makam Oka. Semalam kami berbicara.

Tempat peristirahatan kekal Oka pun kami siapkan. Esok Minggu (7/2), Oka akan kami usung ke Jogja. Kami punya makam keluarga di Pakem. Di sana Oka akan kami semayamkan, bersanding dengan nenek buyutnya, serta saudara-saudara sedarah lainnya. Secara khusus, bapak saya akan menyiapkan peti untuknya. Ya, selayaknya orang meninggal.

Upacara awal kami adakan pagi tadi. Kami menyiapkan air suci untuk dipercikkan di pusara Oka. Air pembaptisan. Romo Deni, sahabat istri saya yang bertugas di Bali, secara khusus memimpin doa ini. Air dicampur garam diberkatinya. Sebuah nama baptis dihadiahkannya pula: Irenius.

Santo Irenius hidup tahun 140. Ketika menjadi uskup di Lyons, ia dikenal sebagai pembawa damai.

Maka, doa kami, semoga Oka menjadi pembawa damai bagi kami. Semoga rumah barunya nanti membawanya ke kedamaian abadi bersama Bapa di surga. Doa kami selalu, Nak. Terima kasih atas kehadiranmu. Meski engkau sudah tiada, namun rohmu hidup di tengah kami.