Bahkan untuk menepi, nelayan-nelayan itu tak gegabah.

Bahkan untuk pulang, nelayan-nelayan itu tak terburu-buru.

Bahkan untuk menikmati hasil panenan, nelayan-nelayan itu masih menyebarkan jaring kecermatan.

Menjelang bibir pantai, mereka masih memilih ombak terbaik yang akan mengantar mereka ke tepian, dan bukan menggulung mereka. Semua ombak tampak sama, tapi di mata mereka, ada ombak terbaik yang mau menuntun mereka ke pantai. Selebihnya adalah ombak-ombak penerkam. Dan untuk menemukan ombak terbaik itu, mereka sangat bersabar.

Walau di tepian puluhan calon pembeli sudah menanti dengan tak sabar, mereka tidak boleh tergoda. Semua ada rejekinya. Saat menepi nanti, rejeki itu pasti menghampiri.

Walau di seberang pantai sana, di tengah daratan, keluarga merindu, mereka tidak asal pacu. Mereka justru mematikan mesin untuk menimbang-nimbang kesempatan secara tenang. Pasti mereka bisa melepas rindu jika ombak terbaik mereka temukan.

Pantai Depok kemarin pagi. Sekali lagi, alam tak pernah pelit membagi dirinya. Alam begitu pemurah menyodorkan pelajaran demi pelajaran hidup. Gratis, dengan satu syarat: kesediaan mencecap. Tak hanya dengan lidah, tetapi juga dengan hati. Tidak hanya dengan mata, tetapi juga dengan kaki; yang tanpa alas menyatu dengan alam.

Dan Pantai Depok menyajikan satu pelajaran sangat istimewa: hidup ini seperti bantaran samudera. Ada banyak ombak di tengah-tengahnya. Ombak itu tampak sama, tapi punya karakter berbeda. Diperlukan kearifan untuk mengenali ombak terbaik yang menjadikan pelayaran mencapai tujuan.