Dunia kian melesat. Teknologi telah memungkinkannya. Akrobat-akrobat imajiner semakin menggusur pergerakan-pergerakan linear.

Banyak orang keranjingan oleh kecanggihan teknologi ini. Lebih dari keranjingan, malah ada yang kecanduan. Oleh mereka, teknologi telah menjadi organ tubuh yang amat vital, yang menyatu, yang karenanya tidak boleh dilepaskan. Mereka akan kesakitan, semacam sakaw, jika alat-alat canggih ini mrucut dari genggaman. Meradang, mengerang, menggelinjang tak keruan.

Barack Obama salah satu orang itu. Teknologi, yang mengantarnya menjadi Presiden AS ke-44, membuatnya belingsatan ketika Secret Service membatasi penggunaannya. Demi alasan keamanan, baik keamanan dirinya maupun keamanan negara, arus informasi yang masuk ke dan keluar darinya dienkripsi sangat ketat. Blackbarry yang melekat di pinggangnya dicokok dari kehidupannya.

Tentu Obama keberatan dengan perlakuan ini. Ia merasa dirampas dari pergaulan hidup sehari-hari. Ketika ia menjadi seorang yang begitu berkuasa, ternyata ada ruang tertentu yang luput dari jangkauannya. Ia mesti patuh pada aturan ini.

Memang, akhirnya, fasilitas itu tetap boleh digunakannya. Tapi sekali lagi, tentu dengan pembatasan sangat ketat. Semua informasi yang melibatkannya akan dipantau tanpa berkedip.

Ironis. Ternyata kekuasaan itu berbatas. Bahwa secanggih apa pun teknologi, ia memiliki batas. Dan batas paling kuat itu adalah ketakutan penggunanya akan kekuatan teknologi itu sendiri.

Manusia selalu menjaga nalurinya: menguasai, bukan dikuasai.