Pergantian tahun ini saya tandai dengan perjalanan istimewa. Istimewa dalam ukuran saya tentu saja. Istimewa bukan luar biasa, melainkan khas. Dan sederhana.

Seorang diri, saya berkendara dari Jogja menuju Jakarta. Pagi, 1 Suro, 29 Desember, saya melaju meninggalkan rumah. Tak banyak bekal yang saya bawa, selain tas ransel berisi beberapa potong pakaian, handuk basah bekas saya pakai, minuman mineral dan teh, dan makanan kecil beberapa macam.

Ada buku kekidungan yang saya lantunkan di setiap kali perhentian. Kidung sederhana, namun agung, yang terlantun dari suara seadanya. Tak mengapa, toh hanya saya sendiri yang mendengarkannya, selain Dia yang saya undang menemani perjalanan.

Perjalanan ini adalah perjalanan batin. Jalan-jalan yang saya telusuri adalah jalan-jalan keteladanan Si Gondrong, anak seorang tukang kayu dan perawan. Maka, ada pula saya bawa kitab kuno yang berisi kesaksian dunia sebelum dan sesudah Si Gondrong lahir, serta selama Si Gondrong berkelana. Kitab ini menjadi pelega dahaga di perjalanan yang terik hari itu.

Menggali makna kesetiaan

Ada 14 titik perhentian yang saya tetapkan untuk mencapai tujuan. Dengan perhitungan matematis, saya mesti berhenti setiap 40 km. Dan saya selalu berhenti ketika hodometer/meterzahler menunjuk kelipatan 40. Tepat. Di tengah sawah yang panas pun saya berhenti. Jika ada pohon yang teduh, saya tepikan mobil ke bawah rerindangannya.

Setiap perhentian adalah permenungan. Saya berkaca pada perjalanan spiritual Si Gondrong di puncak usahanya membebaskan umat manusia dari belenggu kabut. Si Gondrong menjadi inspirasi perjalanan saya. Perjalanan kesetiaan sampai akhir; perjalanan kesetiaan pada tugas; perjalanan kesetiaan pada pemberi tugas. Dia setia dengan hidup secara total.

Maka, menelusuri perjalana-Nya, membawa saya pada refleksi soal kepasrahan, sebuah sikap yang mengkristal dari penempaan butir-butir kepercayaan. Sumeleh. Hakekat dari puncak kepercayaan.

Kesumelehan ini mengendorkan adrenalin saya untuk tidak kemrungsung. Tujuan jelas, tetapi tidak tergesa-gesa dalam mencapainya. Saya menghayati benar perjalanan ini. Bagaimana tidak. Saya lebih suka jalan malam ketimbang siang, bisa ngebut, dan tidak bisa tolah-toleh. Tapi kali ini tidak. Perjalanan ini bukan soal suka atau tidak. Perjalanan ini adalah soal kesediaan untuk menjadi pengikut Si Gondrong. Pada titik tertentu, untuk menjadi anteknya, diperlukan keberanian untuk melakukan tindakan radikal. Dan tindakan paling radikal yang ditawarkan-Nya adalah kemauan untuk mengingkari diri. Dan saya menjawab tawaran itu dengan suka cita.

Jadilah saya menapaki satu per satu perhentian dengan penuh syukur: Candi Borobudur, Purworejo, Kebumen, Tambak-Gombong, Wangon-Purwokerto, Cimanggu-Cilacap, Banjar, Ciamis, Garut, Nagreg-Bandung. Saya berhenti di daerah-daerah itu. Hanya di Tol Padaleunyi (Padalarang-Cileunyi) saja saya tidak berhenti. Matahari sudah condong ke barat. Menjelang senja. Dan saya mau menikmati angslupnya srengenge di lajur tol.

Baru di Rest Area Tol Jakarta-Cikampek km 62 saya menepi. Sudah 19.30, 14 jam perjalanan, dan saya menuntaskan perhentian ke-14 di tengah keramaian para pengendara yang kelelahan. Aroma Jakarta sudah menyengat. Aroma kesibukan, aroma ketergesaan.

Untuk beberapa saat saya menikmati keramaian itu dalam kesunyian. Hmmm, luar biasa rasanya. Tapa ngrame itu menemukan konkretnya. Ya, bersunyi dalam ramai. Saya bersyukur atas perjalanan ini: menikmati kemacetan di beberapa titik dengan sumringah, memahami kelambatan kendaraan-kendaraan berat yang juga butuh pangan, dan menerima didului oleh beragam kendaraan yang ingin lekas nyampai di tujuan. Tanpa klakson. Tanpa musik. Tanpa bebunyian.

Begitu juga sekembali ke Jogja, di tahun baru Masehi, 1 Januari 2009.