Liputan Kompas Jogja pagi ini menggelitik saya. Disebutkan di halaman A koran tersebut, “Jasa Cuci Makin Menjamur”. Terlampir pula judul kecil di bawahnya: “Fenomena Khas Gaya Hidup Konsumerisme”.

Dua tahun terakhir, kata tulisan itu, bisnis binatu semakin menjamur mengikuti tuntutan kepraktisan masyarakat. Bla… bla… bla…

Saya sempat melakoni gaya hidup praktis, yakni mencucikan pakaian menggunakan jasa binatu, ketika bekerja di Jakarta. Faktor kepraktisan, diimpit oleh keterbatasan waktu, menjadi alasan utama mengalihkan pekerjaan itu pada orang lain. Pola ini pun baru saya ambil setelah berantem seru dengan tuntutan kerja di kota metropolitan.

Terpaksa nyuciin

Suatu ketika saya terjebak oleh situasi. Sudah terbayang di benak saya, Sabtu di pekan itu, saya berdiam seharian di kost untuk mencuci pakaian yang seminggu bertumpuk. Sudah terbayang bagaimana apek bau baju yang penuh keringat itu. Terbayang pula berapa ember air akan saya habiskan untuk memulihkan bersih pakaian-pakaian itu. Saya sudah pesan tempat pada teman-teman kost untuk barang setengah hari menyita ruang publik mereka. Dan teman-teman kost selalu menunjukkan pengertiannya.

Menjelang hari yang istimewa itu, saya mendapatkan penugasan ke luar kota. Satu minggu lamanya. Buyar sudah rencana saya. Memang, pimpinan saya waktu itu bukan orang yang sulit. Teman kerja sekantor pun orang-orang yang sangat pengertian. Bisa saja saya menolak penugasan itu. Pimpinan dan teman-teman selalu mendengarkan alasannya. Juga mempertimbangkan, dan biasanya juga meluluskan.

Tapi, kali itu, saya langsung bilang, “Siap!” Laksanakan!” Seperti tentara saja. Ya, dalam hal tertentu, wartawan itu mirip tentara. Siap ditugaskan kapan pun, ke mana pun. Nggak enak kan menolak tugas dengan mimik serius mengiba, “Please, temen lain aja deh, Pak, yang berangkat. Besok saya mau nyuci….”

Alhasil, dengan langkah tegap, saya berangkat. Bekal standar, yakni beberapa baju, satu celana panjang, dan pakaian dalam, saya selipkan di tas ransel yang selalu melekat di punggung. Perlengkapan mandi? Selalu tidur nyenyak di tas, dan tak pernah keluar.

Di luar kota saya tidak mencuci. Bukan tidak sempat, tapi lebih asyik berjalan-jalan dan mengerjakan tulisan yang mendesak harus saya buat. Jika kurang dari satu minggu, kecuali pakaian dalam, saya biasa membawa pulang pakaian kotor. Kenapa nggak laundry di hotel? Selain mahal, saya kerap merasa cucian hotel tidak sebersih yang saya harapkan.

Sepulang dari tugas luar kota, ternyata saya dihajar oleh tumpukan pekerjaan. Pulang kost capek, langsung tidur. Kamar berantakan, cucian makin menumpuk. Sampai, beberapa hari kemudian, saya mesti ke luar kota lagi. Matek! Habis sudah pembungkus badan saya. Maklum, soal pakaian, saya memang sangat minimalis. Baju dan celana ya itu-itu aja sampai lusuh. Toh saya merasa nyaman, dan tidak peduli jadi cibiran orang. Wong memang nggak punya kenapa mesti malu?

Sekembali dari luar kota yang kedua itu, saya menjumpai diri terancam telanjang. Tidak ada sehelai baju pun yang pantas saya pakai. Terpaksa saya menyelinap ke toko pakaian untuk menutup tubuh ini dalam satu-dua hari. Dan di hari yang tidak bisa saya pastikan apakah panjang atau pendek itu, akhirnya, saya memaksa diri mencuci. Jemuran pasti jadi penuh, dan saya mesti meminta maaf pada tetangga kamar untuk memonopolinya.

Kejadian itu puncak dari rentetan peristiwa yang selalu saya abaikan.

Tapi kali itu saya tidak mau abaikan lagi. Saya putuskan untuk membinatukan pakaian, terutama pakaian kerja. Tentu dengan ongkos tambahan yang tak murah. Hanya bed cover yang saya cucikan. Selain berat, juga butuh perlakukan khusus.

Asyik mencuci sendiri

Saya suka mencuci ketimbang menyetlika. Berkeceh dengan air adalah kesenangan-kesenangan kecil yang menyegarkan. Dingin. Beda dengan menyetlika. Selain butuh ketelatenan untuk bikin halus besutan, juga mesti rela merasakan panasnya hawa setlika.

Setelah menikah, saya dan istri memutuskan untuk mengerjakan sendiri kerepotan-kerepotan rumah. Padahal, selama kost, istri saya juga memilih melimpahkan kerjaan bersih-bersih baju ke cucian.

Saya mencuci, istri saya menyetlika. Saya menyapu dan mengepel, istri saya memasak. Kecuali hari-hari belakangan ini. Saya menyetlika. Istri saya tidak kuat duduk berlama-lama. Usia kandungannya yang masih begitu muda, 7 minggu, membuatnya harus banyak beristirahat, tidak boleh melakukan pekerjaan-pekerjaan berat. Dan saya menjalankan pekerjaan mencuci dan menyetlika dengan senang hati pula.

Selain berhemat, mencuci sendiri memberi saya banyak pelajaran hidup. Saya belajar berdisiplin dalam membagi waktu. Walau kesibukan sering tidak bisa dikompromikan, tapi saya berusaha bersiasat supaya pekerjaan domestik ini tetap tersentuh tangan. Jika pagi tidak bisa, ya sore sepulang bekerja saya meluangkan waktu untuk merendam, mengucek, membilas, hingga menjemur. Hanya proses pengeringan yang menggunakan mesin, selainnya saya kerjakan dengan tangan secara manual. Lebih puas dengan cara seperti ini. Saya bisa menyentuh langsung pakaian-pakaian itu. Pakaian itu telah berkeringat gara-gara kami pakai bekerja. Mereka juga mesti bersahabat dengan debu supaya badan kami bersih. Mereka juga mesti tampil percaya diri, selalu ceria, supaya orang lain yang melihat kami pun terhibur. Maka, dengan mencuci sendiri, saya seolah menyapa mereka selayaknya manusia, membersihkannya dengan hati, dan menyapanya secara personal.

Menjalankan itu dengan gembira membuat saya tidak merasa membuang waktu. Sebaliknya, saya menyerap banyak sekali energi dari aktivitas itu. Energi itu adalah: ketekunan, kesabaran, dan rasa memiliki yang dalam.