Bu Basirah, Bu Prapti, Pak Parjo, Pak Kasimin (alm), Pak Asih, Pak Maryoto (alm), Pak Maryanto, dan Pak Kardiyat, adalah guru-guru SD saya, yang sosok mereka masih saya tanam di pekarangan subur ingatan saya. Jauh di pedalaman hati saya yang paling hulu.

Pagi yang selalu sejuk di lereng Merapi, guru-guru yang hangat menyapa, selalu memulangkan saya ke penggalan waktu yang hijau itu. Guru-guru itu memang tidak terhimpit keadaan seperti Bu Muslimah di SD Muhammadiyah, di Belitong. Saya pun tak hendak seperti Andrea Hirata yang dalam Laskar Pelangi-nya mengadegankan bagaimana sekolahnya mau rubuh.

Sekolah saya, SD Percobaan 3 Pakem, jauh lebih beruntung dari kebanyakan sekolah, bahkan di Jogja, pada waktu itu. Sewaktu bernama SDN III IKIP, dengan masa studi siswa hanya lima tahun, kami selalu digerujug kemewahan fasilitas belajar saban hari. Tidak ada buku yang perlu kami beli. Buku paket sangat komplet. Jika kurang, sekitar seribu judul buku alternatif ada di perpustakaan sekolah yang cukup modern. Untuk belajar, kami mendapatkan modul. Materi pelajaran dan soal-soal latihan ada di situ. Kami tinggal menggoreskan pena untuk bekerja.

Guru-guru muda, praktikan dari IKIP Negeri Karang Malang, rutin menyambangi kami, berbagi ilmu terbaru mereka di kampus.

Sekolah kami mewah. Ada laboratorium lengkap untuk belajar ilmu alam. Maklum, di kemudian hari, saat saya naik kelas 4, ketika nama sekolah menjadi SDN Percobaan 3, dengan masa studi menjadi 6 tahun seperti sekolah pada umumnya, sekolah yang bercokol di Kampung Sanggrahan, Jalan Kaliurang km 17 Jogja ini diamanatkan untuk menjadi sekolah berkonsentrasi pada ilmu pengetahuan alam (IPA). Walhasil, replika tengkorak manusia, mikroskop, lup, preparat, dan banyak alat percobaan lainnya komplet tersedia.

Saat itu, SD Percobaan 1 dimandatkan berkonsentrasi spesialis matematika, sedang SD Percobaan 2 berfokus pada pengajaran bahasa Inggris. Sebelum tahun 1990, trend SD berbahasa Inggris belum semeluber sekarang.

Dapur untuk masak? Ya, sekolah kami punya juga. Seminggu sekali kami memasak. Tidak cowok, tidak cewek, yang bertugas di depan kompor mesti pakai celemek. Jadilah, sejak SD kami mulai mengenal cowek, sothil, irus, wajan, brambang, miri, loncang, dan segala uba rampe meracik masakan sedap lainnya.

Kemewahan lain ada pada luas lahan. Tak tahu persis berapa luasnya, yang terang pekarangan sekolah kami cukup melelahkan untuk sekadar cari keringat. Kami punya lapangan sepakbola sendiri, seluas sepertiga lapangan bola dewasa. Badminton? Ada dua lapangan resmi, bergaris beton, dan 3 lapangan liar tanpa garis dan net. Di kala senggang, lapangan-lapangan itu kami pakai untuk jek-jekan, sejenis permainan menangkap musuh dan merebut markas lawan. Juga bermain gobag sodor, sebuah permainan kuno yang mensyaratkan kemampuan berlari, berkelit, dan bekerjasama.

Kami juga punya aula kecil untuk kegiatan indoor, seperti lompat balok dan koprol. Jika Jumat tiba, karena waktu itu belum punya mushala, aula ini juga dipakai untuk sholat Jumat. Sedangkan pada sore hari secara bergilir untuk latihan menari atau kulintang. Ya, waktu SD saya ikut keduanya. Sekarang sudah lupa semuanya. Padahal, jika teringat, betapa bersyukur saya pernah dikenalkan dengan budaya tradisional bangsa seperti itu.

Semua itu menjadi menyenangkan, tentu saja, berkat sentuhan para guru. Dalam ingatan saya, mereka mengajar dengan cinta, menyapa dengan hati, dan mendidik dengan teladan. Bu Basirah, dengan tekun membimbing kami belajar mengarang. Saya pernah ikut lomba tingkat kabupaten atas rekomendasi beliau. Jika kemudian saya menjadi penulis, wartawan, dan editor, pondasi itu beliau yang meletakkan.