Belum sampai rumah ketika telpon bimbit saya bergetar. Arif AB. Meski sedang menyetir, saya buru-buru mengangkat telpon itu. Telpon dari teman satu ini bisa dipastikan berhubungan dengan nyawa orang. Sebab, jika tidak mendesak amat, ia cukup berkirim pesan singkat.

Benar saja.

“Mas Kunto ada di Jogja?”

Ya.

“Bisa segera meluncur ke PMI Sardjito? Butuh 2 orang. Baru ada satu.”

Siap.

Komunikasi kami pendek saya. Kami, yang tergabung di Komunitas AB, sudah saling paham. Saya minta waktu untuk pulang dulu mengantar istri. Ia butuh segera istirahat supaya esok pagi bisa mengajar dengan bugar. Lagi pula, belanjaan brokoli, tomat, wortel, dan buah-buahan yang baru saja kami unduh di Pasar Kolombo [ada kios sayur yang buka justru pada malam hingga dini hari], sebaiknya segera kami masukkan ke lemari berpendingin supaya esok pagi tetap segar.

Berganti celana panjang, dan menyambar jaket tebal, saya bergegas meninggalkan rumah. Istri saya memilih tidur di depan TV. Ia di rumah sendirian.

Karena hujan, yang dua malam belakangan mengguyur deras kampung kami, batallah rencana saya berganti sepeda motor. Saya kembali melajukan kuda besi empat roda inventaris kantor.

Waktu menunjukkan pukul 21.30 Wib ketika saya tiba di unit transfusi darah PMI RSUP Dr Sardjito. Saya sangat hapal jalan ke ruangan itu meski akses ke sana gelap. Mas Arif sudah berdiri di depan pintu. Saya pun diperkenalkan dengan keluarga yang membutuhkan darah ini.

Tak berbasa-basi, saya segera menuju loket pendaftaran, mengisi formulir, lalu duduk di kursi tunggu. Tak sampai setengah jam, nama saya dipanggil. Cukup cepat, mengingat kerumunan pendonor semalam cukup banyak.

Mas Maryono, petugas jaga PMI, segera mempersilakan saya duduk. Tangan kanan saya julurkan. Jarum suntik ia siapkan. Jari tengah saya pun dicoblosnya. Sedikit darah yang mengalir ia tuangkan ke preparat untuk diuji golongan darahnya.

PMI tampak berusaha hati-hati. Saya sudah donor berkali-kali. Kartu donor yang diterbitkan PMI DKI Jakarta pun selalu saya gembol di dompet. Juga selalu saya tunjukkan setiap kali donor. Kartu berwarna kuning, warna untuk pemilik golongan darah AB. Toh kartu itu tidak bisa menghindarkan saya dari pemeriksaan petugas. Dari informasi yang saya peroleh, pemeriksaan itu dilakukan untuk memastikan jenis golongan darah, sekaligus menghindari kemungkinan penyalahgunaan oleh orang iseng. Harap mahfum, banyak vampire (calo darah) berkeliaran. Mas Arif cerita, beberapa waktu lalu ada orang mengaku darahnya AB. Begitu diperiksa, ternyata A. Patut diduga, orang tersebut hendak menangguk keuntungan di sela penderitaan tersebut. Ssst, kabarnya “harga darah” yang dipatok para calo untuk golongan darah AB paling mahal. Paling menggiurkan. Mungkin mereka tahu bahwa pemilik golongan darah ini hanya 1,5 dari 100 orang. Langka!

Usai memeriksa tekanan darah saya, Mas Maryono mempersilakan saya berbaring. Kali ini tangan kiri saya yang hendak diambil darahnya, setelah 5 bulan lalu tangan kanan saat aksi donor darah ulang tahun kantor. Pria berambut cepak yang katanya pernah bercita-cita jadi polisi itu cekatan dalam bekerja. Tak sampai 15 menit, proses penyedotan 350 cc darah dari tubuh saya selesai. Tidak pusing, seperti biasanya.

Enteng rasanya usai donor. Bukan hanya fisik, tapi juga rasa.

Secara fisik, tentu, badan lebih segar. Dengan mengeluarkan sebagian darah, maka darah di tubuh saya akan mengalami pembaruan sel-sel. Menyehatkan tubuh jika melakukan aksi seperti ini secara rutin.

Secara rasa? Ini yang membuat hidup ini sangat berarti. Setiap bisa donor, saya selalu bersyukur atas karunia hidup ini. Atas kesehatan yang melimpah untuk saya. Atas kepekaan saya pada penderitaan orang lain. Saya selalu berdoa, semoga setetes darah saya menyelamatkan jiwa dan raga orang yang membutuhkan. Semalam, darah saya untuk seorang ibu yang menderita kanker.