Ini lebaran pertama bersama istri. Ada perbedaan tradisi di antara kami soal cara merayakan hari kemenangan umat Islam ini. Karena terlahir di keluarga yang berada di garis “tua”, maka istri saya terbiasa dikunjungi saudara-saudara. Ia menjadi tuan rumah.

Beda dengan saya. Saya terlahir di antara dua garis itu. Di pihak bapak, kami “tua”. Di pihak ibu, kami “muda”. Tapi, lepas dari tua atau muda, kami dibiasakan untuk berkunjung ke rumah saudara. Ya ke yang tua, ya ke yang muda, kami sambung tali silaturahmi.

Seperti lebaran ini.

Saya ajak istri berkunjung ke tetangga kiri-kanan. Menurut data, ada 130 rumah di lingkungan kami yang wajib kunjung. Lemes istri saya, tidak bisa membayangkan capeknya. Untunglah, di antara sekian banyak rumah itu, sebagian adalah keluarga muda. Biasanya rumah mereka kosong. Entah ditinggal mudik, entah “tutup pintu”. Alhasil, kami tidak perlu mendatangi semua.

Toh, itu tak serta-merta melegakan kami. Siang yang begitu terik di lebaran hari pertama, memaksa kami untuk memicingkan mata, menahan sinar matahari, dan bersahabat dengan debu yang beterbangan di sepanjang jalan yang kami lalui. Kami berjalan kaki di paruh pertama. Baru di paruh kedua kami pulang dan mengambil motor. Seperti dipanggang rasanya.

Kebiasaan baru untuk istri saya. Terlebih rumah tetangga yang tua-tua kami kunjungi. Rute kami: Pakde Zaini, Mbah Paidi, Mbah Sakijo, Pakde Bejo, Mbokde Suto, Mbah Yoga, Pak Dukuh, Mbah Mitro, Mbah Joyo, Mbah Min, Mbah Ranto…. Pakde Endro, Pakde Heni, Pakde Gito, Pakde Sudi, Pak Kamsi, Pak Ponijo, Pakde Prapto, Mbah Kaum, Mbah Dirjo… Itu hanya sebagian.

Mbah Sakijo depan rumah kami. Rumahnya beralaskan tanah, tak punya WC dan kamar mandi. Ia menggelar tikar. Suguhan favoritnya adalah tape ketan dan emping. Ini kesukaan saya. Tapi, karena baru keluar rumah, dan perut saya masih penuh, saya tak menyantapnya. Baru di rumah Mbah Min, kakaknya, di ujung kampung sana, saya melumat tape lezat seperti itu.

Bersilaturahmi di kampung selalu menjadi saat-saat yang menggetarkan bagi saya. Sembari uluk salam, “Matur Mbah… sowan kula ingkang sepisan minangka bekti kaliyan panjenengan. Ingkang kaping kalih nyuwun agunging samudra pangaksami awit klenta-klentu kula salebetipun setunggal tahun punika. Lan ingkang kaping tiga, nyuwun pangestu mugi-mugi Gusti ngijabahi gegayuhan kula sa’ brayat…”, saya bisa mendengarkan denyut jantung mereka yang syarat akan pengalaman hidup.

Sebagian besar tetangga saya adalah saudara. Masih ada hubungan kekerabatan dari garis nenek. Sebagian besar dari mereka petani. Miskin, meski mereka merasa berkecukupan. Kendaraan mereka sepeda, meski anak-anak mereka kemlinthi bermotor.

Dari mereka saya selalu menyerap energi kehidupan. Tentang kerja keras, kesederhanaan, ketabahan, bersahabat dengan alam yang keras, dan pasrah kepada penyelenggaraan Ilahi.

Dari mereka saya bercermin, betapa hidup ini selalu layak untuk disyukuri. Betapa pun sulitnya.

Semangat-semangat itu yang hendak saya kenalkan kepada istri saya. Supaya ia makin siap hidup di kampung, di antara baru, di antara baja. Kami ingin tangguh seperti mereka.

Semoga tahun depan kami masih boleh menatap keriput wajah mereka, menatap bahu perkasa mereka, dan berjabat tangan erat-erat… Bercengkerama lagi di atas daun pandan, ditemani tape ketan dan emping melinjo…