Sudah beberapa waktu saya tidak membuka blog Mas Yusran. Pagi ini saya merindukannya. Blog jenderal wartawan ini selalu inspiratif buat saya. Tulisannya menarik. Ulasannya tajam. Pilihan sikapnya jelas. Tak berlebihanlah saya menjulukinya “jenderal wartawan”. Apalagi setelah dia (ah, nggak enak memang sebagai orang Jawa memilih kata ini, tapi nggak nyaman justru ketika saya ganti “beliau”) dikado penghargaan sebagai Polisi Kehormatan oleh Polri. Hmmm, dia masih punya waktu untuk menulis di blog, di sela kesibukannya mabur-mabur dari satu kantor ke kantor lain beda kota. Ya, dia benar-benar menghidupi profesinya.

Lalu, saya terkesima oleh satu postingnya. Sultan HB X mantu, kala itu. Saya tidak diundang, wong tidak kenal. Sultan tidak kenal, apalagi anaknya. Saya hanya kenal Sultan sebagai Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dia raja saya. Hormat saya padanya lebih tinggi daripada kepada pimpinan republik ini.

Tapi, di luar soal undangan itu, pada dasarnya saya memang tidak suka pesta. Mau sih sesekali datang ke pesta, tidak menolak sama sekali, namun pada dasarnya saya tidak suka. Pesta yang melibatkan demikian banyak orang, dengan acara yang super meriah, dengan segala kemegahannya, lebih sering membuat saya kesepian. Pesta yang ingar-bingar kerapkali mengasingkan saya dari dunia nyata.

Yang membuat saya tidak suka dengan pesta adalah perubahan penampilan yang harus saya sesuaikan. Dan ini seringkali bikin ribet. Untuk urusan senang-senang saja kadangkala butuh waktu lama saat memilih baju, menyiapkan kado, menjaga penampilan, dan seterusnya. Tidak nyaman. Tidak menjadi diri sendiri, yang tampil apa adanya sebagaimana keseharian.

Saya tahu, mereka yang datang ke pesta itu, ada yang sependapat dengan saya. Namun, hubungan kekeluargaan, status sosial, jabatan pekerjaan, relasi bisnis, dan lainnya acap memaksa mereka untuk patuh pada norma sosial yang disepakati. Bahwa untuk menjaga kedekatan, mau nggak mau harus datang.

Bersyukurlah saya tidak memiliki satu di antaranya. Entah jika kelak saya seperti mereka. Mungkin susah untuk mengelak. Saya sekarang masih bisa menentukan pilihan secara bebas. Tidak ada beban atas predikat yang saya sunggi.

Maka, begitu Mas Yusran menawari saya untuk ikut serta ke pesta itu, saya menolaknya. Selain karena ada pekerjaan lain yang lebih penting, rasa malas itu juga erat mencengkeram tengkuk saya. Ah, ngapain pula nanti di sana? Paling cuma duduk, makan, bersalaman, berfoto, pulang. Sudah, kembali.

Saya tidak suka pesta. Dalam hal apa pun.  Saya merasa terusik setiap ada pesta. Terusik karena kondisi sekitar saya, bangsa ini, masih ampuuuun mlaratnya. Saya termasuk di lingkaran dalam kemelaratan ini. Maka, ketika dalam merayakan kemerdekaan negeri ini pun orang berpesta, saya berontak. Tidak pantas.

Nepakke. Maka, ketika saya menikah pun tidak ada pesta. Bahwa ada makan siang, karena acara kami memang berakhir di waktu makan siang. Sedulur-sedulur yang kami undang di Solo pun hampir seluruhnya dari luar kota, terutama Jogja. Sekadarnya saja. Sebab, bagi saya, sepanjang hidup ini adalah pesta. Gusti menggelar pesta setiap hari. Meriah. Pestanya sangat lengkap. Pesta bangun pagi, pesta layat, pesta bertemu teman lama, pesta… Ah, tanpa pesta, hidup tetap saja pesta.

Tentu saja saya tidak hendak membandingkan dengan Sultan. Sultan seorang raja, tokoh nasional, punya relasi begitu luas. Lagi pula ia ikon budaya, pelestari tradisi Jawa. Tentu dilematis bagi Sultan. Mau pesta, kondisi rakyatnya masih miskin. Mau sederhana, tanpa upacara ritual, lalu siapa yang akan nguri-uri kebudayaan leluhurnya? Pesta kemarin, menurut saya, penuh kompromi.