Bayangan saya kok begitu ya… Obama akan menjadi Presiden Amerika Serikat menggantikan George W Bush. Entah apa sebab. Saya mungkin terhipnotis oleh hiruk-pikuk pemberitaan yang mempertontonkan bagaimana antusiasme warga dunia, terkhusus warga AS, pada calon presiden dari Partai Demokrat ini.

Padahal, sebelum-sebelumnya, saya tidak begitu hirau dengan pesta demokrasi di negeri Paman Sam tersebut. Secara enteng saja saya mengikuti perkembangan pemberitaannya. Terutama, ketika itu, pembicaraan tentang hangatnya tarik-ulur untuk memilih calon presiden AS pertama masing-masing dari kulit hitam perempuan. Barrack Obama representasi calon kulit hitam, Hillary Clinton perempuan. Setiap kubu memiliki argumentasinya masing-masing. Dan sama-sama menarik. Keduanya, atau kulit hitam atau perempuan, menjadi begitu bersejarah bagi Amerika Serikat. Jika presiden seorang kulit hitam, akan terjadi pergeseran konstelasi sosial politik di negeri koboi yang masih menyekam konflik antaretnis tersebut. Jika terpilih presiden perempuan, juga akan menandai betapa di negerinya sendiri, perjuangan demokrasi itu sungguh berliku; kesetaraan gender yang gencar diperjuangkan dari sana baru memetik sebagian hasilnya.

Menarik.

Tapi, yang menarik perhatian saya bukan itu. Kabar bahwa pidato Obama saat Partai Demokrat secara resmi mencalonkannya menjadi Presiden AS ditonton lebih dari 40 juta pasang mata, sungguh tidak bisa saya abaikan begitu saja. Begitu banyak mata tersedot ke Denver, Colorado. Jumlah penonton pidato Obama dua kali lebih banyak daripada jumlah yang menyaksikan pidato pengukuhan John F Kerry, calon presiden Demokrat tahun 2004. Pidato Kerry ditonton 20 juta orang, sementara pidato Presiden George W Bush pada konvensi Republik tahun 2004 ditonton 27,6 juta orang. Pidato pada Konvensi Partai Demokrat ini daya tariknya mengalahkan penonton Konvensi Partai Republik pada tahun 1976 yang mencapai 21,9 juta orang.

Sebegitu memikatkah Obama sehingga popularitas acaranya mengalahkan acara-acara akbar lainnya, seperti American Idol, Academy Award, bahkan Olimpiade Beijing yang dibuahbibirkan paling spektakuler itu. Yang masih bisa menyamai adalah acara Super Bowl, Giants, dan Patriots. Menurut saya, peran media massa begitu besar. Mereka begitu gencar menggaungkan informasi tentang Obama. Disebutkan pula, jumlah peliput di pidato ini jauh melebihi jumlah juru warta yang nyanggong di konvensi mana pun di dunia. Belum lagi jumlah artis pendukungnya. Luar biasa!

Menyimak isi pidatonya yang memikat, yang memberikan harapan bagi banyak pihak, rasanya kursi di Gedung Putih itu dalam waktu yang lebih  cepat lagi akan diduduki oleh Obama. Apalagi jika upaya Hillary meminta pendukungnya memberi suara pada Obama berhasil.

Jika Presiden Obama memimpin Amerika Serikat, saya menitip harapan: stop invasi ke Irak! Arogansi AS di bawah pemerintahan Bush Jr hanya menyisakan luka-luka peradaban yang berat untuk dipulihkan. Satu itu saja. Selebihnya begitu banyak, soalnya. Bangsa di dunia ini banyak menderita oleh kelakuan Amerika Serikat yang sewenang-wenang. Jika Obama bisa membaliknya… menjadi inspirasi bagi umat manusia yang rindu perdamaian…