Saudaraku,

Ini hari pertama puasamu. Selamat ya. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kamu memasuki bulan suci Ramadhan. Kuharap, bukan saja bulannya yang suci. Menujulah kamu ke dalam kesucian itu. Ini bulan yang baik bagimu untuk berlatih menyucikan diri. Ya, berlatih.

Ustad Anant yang minggu lalu bersamaku ke pantai utara, menyebut bulan ini sebagai bulan yang istimewa.

“Di bulan ini, berlatih saja dapat upah. Bukan pas bekerja saja, melainkan baru berlatih saja dapat upah,” kagumnya pada keagungan Ilahi.

Musisi yang kini meningkahi ceramah-ceramahnya dengan lagu-lagu ini pun tak henti mendaraskan takjubnya akan kasih Allah yang demikian besar. Di bulan ini, siapa pun yang mau berlatih puasa akan diberikan pahala. Tidak main-main, pintu surga dibukakan lebar-lebar. Pintu ampunan itu… masya Allah.

Tak hanya Anant yang percaya itu. Tak hanya umat Islam yang mengamini. Tak pula kamu.

Umat manusia sudah sewajarnya percaya akan keesaan yang tiada terbilang ini. Puasa Ramadhan adalah ajang berlatih. Dan sesuatu yang baik, yakni kesucian Ilahi itu, hanya bisa dilatihkan lewat cara-cara yang suci pula. Puasa ini cara suci itu sendiri. Bukan begitu, saudaraku?

Aku tidak menjalankan puasa di bulan ini. Tapi, kamu selalu mengingatkanku akan arti pentingnya puasa di kehidupan ini. Mengosongkan diri. Bukan hanya perut, tapi juga hati. Bukan untuk menyiksa diri, justru untuk berpasrah diri. Bukan pula untuk menggantinya banyak-banyak di waktu buka. Puasa berarti bercermin pada kekurangan diri di hadapan Allah.

Saudaraku, selalu pula kau cemaskan padaku bagaimana sikap beberapa saudara yang keliru dalam menerjemahkan hakekat puasa. Menggeropyok perjudian, menyita minuman keras, merazia tempat hiburan malam. Dengan parang, dengan senjata. Atas nama agama. Mana bisa itu kita sebut sebagai cara yang suci?

Tapi baiklah untuk tidak mengumbar jari ini ke e’ujungan. Ayo kita kembalikan jari ini ke muka kita sendiri. Bercermin, dan berikhtiar membereskan diri. Sebab, latihan ini tidak enteng. Kita ingat ungkapan tajam Charles Caleb Colton yang keren itu,

“Kita pasti akan kalah kalau harus berperang melawan diri sendiri. Itu adalah perang saudara.”