Jauh sebelum bedug puasa ditabuhkan, saya sudah memutuskan untuk menghentikan langganan koran di rumah. Koran nasional yang sudah sekian tahun mengetuk pintu hari itu tak lagi singgah di bis surat tembok kiri pintu gerbang pekarangan. Kotak surat itu kosong sejak pagi itu. Pak Jumadi, loper koran kami, tak lagi menggugah kami dengan suara motor 2-tak produksi tahun 1970-an itu. Preng… preng… preng… melaju ke rumah tetangga. Tak lagi menemani kami menyambut matahari terbit.

Saya puasa berlangganan koran. Bukan sebulan. Tapi entah sampai kapan. Keluarga saya tak ada yang protes. Tak ada yang berubah sejak pagi itu. Kami bisa mengunduh informasi dari radio, televisi, sesekali internet. Jika perlu, jika kami mau. Tidak setiap saat. Hanya saat kami tidak punya kesibukan.

Maafkan kami Pak Jum. Dengan cara ini, kami mengurangi rejeki sampeyan. Sampeyan tidak lagi mampir di akhir bulan untuk menagih uang langganan. Amplop kecil putih, yang di dalamnya sampeyan melipat rapi kuitansi berlangganan, tak lagi menyapa kami di meja makan. Padahal dulu, amplop itu jadi bahan bincangan kami, “Hei, sudah ditagih Pak Jum tuh.”

Ini bukan salah sampeyan Pak Jum. Sampeyan sudah bangun sebelum subuh, menjumput beberapa koran di agen untuk sampeyan sebarkan ke beberapa pelanggan. Setiap pagi sampeyan mengibas kantuk dan mendekap kabut supaya kami menjadi orang pertama yang menggenggam informasi setiap pagi.

Kami berhenti karena jualan sampeyan basi. Bukan. Sekali lagi, bukan karena sampeyan salah membungkus. Dari sono-lah jualan itu sudah basi. Berita yang kami baca sudah “kecut”, nyaris berjamur saat kami santap.

Maaf, nama besar bukan lagi jaminan. Koki di koran besar itu sudah banyak berganti. Rasanya pun berganti. Tak suka saya akan rasanya. Hambar, nyaris tanpa bumbu. Datar, nyaris tanpa emosi. Kering, nyata-nyata tanpa keberpihakan. Lebih bagus pamflet, saya rasa.

Uang langganan koran pun saya alihkan untuk membeli gizi yang lain. Bukan koran itu. Koran itu cukup saya baca di kantor, saat penat, atau saat belum ada gairah bekerja. Cukup baca sekilas. Tak perlu mendalam, karena memang tidak dalam. Jika ingin, atau khilaf, atau iseng, sajalah saya menyambar koran itu di perempatan lampu merah. Itu pun di sore hari. Tak apa, toh sudah basi dari pagi. Lumayan untuk obat ngantuk di depan tipi.

Internet, kini, sudah menggantikan koran itu… Komplet, bisa memilih tulisan yang berkualitas!