Tingkat pendidikan, preferensi keilmuan, atribut kerohanian, ternyata tidak selalu berkorelasi positif dengan kematangan emosional. Semakin tinggi jenjang sekolah seseorang, belum tentu ia sudah mencapai lagit ketujuh kebijaksanaan. Semakin luas penjelajahan studinya, belum menjamin kedalaman pemahaman kealamrayaan. Singgasana lembaga keagamaan yang megah pun belum menjamin keutamaan seseorang dalam membadankan butir-butir imannya.

Saya niteni, kematangan emosional dan spiritual seseorang tidak ada kaitannya pula dengan usia biologisnya. Semua kematangan itu mengental dari proses pembenturan yang berani atas setiap peristiwa hidup yang ditemuinya. Semakin orang mau mengaduk-aduknya hingga tanak, semakin kejiwaannya pulen. Dan ini tidak gampang. Butuh ketekunan dan kesungguhan dalam mendialogkan aksi dengan refleksi. Butuh keberanian dan kejujuran dalam membadankan refleksi ke dalam aksi.

Dan belakangan, saya sedang bergulat keras dengan dialog itu. Ada seorang teman kerja yang memaksa saya menekuni kembali dialog aksi-refleksi itu. Untuk pula mengendapkan makna bersikap proaktif; memilih respon sesuai nilai-nilai tertentu yang saya yakini baik. Ia gencar menggedor saya dengan stimulus buruk.

Saban saya ketemu dia, entah dalam tatap muka, telepon, sms, atau email, kata-kata yang keluar dari dirinya selalu bernada keluhan. Wajahnya selalu menjadi etalase atas beban hidup yang ditanggungnya. Dan ia berusaha menumpahkan beban itu lepas darinya.

“Tidak bisa begini. Kapan saya bekerja kalau setiap hari harus berurusan dengan tanda tangan ini tanda tangan itu….”

“Mereka tidak tahu kalau pekerjaan saya begitu banyak….” Sembari membuka-buka surat undangan menjadi pembicara seminar.

“Lebih baik saya pergi dari kota ini kalau saya tidak bisa tenang seperti sekarang….” Sambil menutup ruang kerja rapat-rapat, memberi tanda seolah ia tidak berada di tempat.

Dunia ini begitu gelap di matanya. Orang-orang di sekitarnya seperti monster yang siap menerkamnya. Ia selalu ingin meninggalkan kenyataan ini. Aneh. Sebab, setahu saya, dalam spiritualitas yang ia dan komunitasnya yakini, hidup ini justru makin berkualitas dalam kemampuan menghadapi, menyelami, melalui, dan melampauai kenyataan. Bukan mengabaikan, apalagi meninggalkan.

Rasa heran ini, dalam keheningan, membawa saya dalam permenungan. Bukankah saya dikaruniai pikiran, akal budi, dan olah rasa dalam hidup ini? Kebebasan? Kreativitas? Imajinasi?

Ya, saya punya itu. Maka, keluhan rekan kerja itu justru mempertebal keyakinan saya akan mendesaknya latihan mematangkan aspek emosional dan spiritual dalam hidup sehari-hari. Tanpa harus menjadi seperti dia, yang “hebat” dari aspek mana pun menurut pandangan orang pada umumnya, saya bisa berlatih sejak sekarang.

Dengan cara apa? Memeriksa diri dan menerjemahkan apa yang dikehendaki-Nya atas saya. Hidup saya, saya sepenuhnya yang menentukan. Bukan orang lain. Baik-buruk saya, bukan orang lain yang menyulap. Saya yang mengusahakan. Tentu saja 100% berkat kemauan Gusti yang mengutus saya hidup.

Cara pandang atas rekan saya pun berubah. Saya memilih respon positif. Biarlah dia mengeluh seolah-olah dia orang yang paling susah di dunia ini; orang paling dibutuhkan di kota ini; orang paling sibuk di lalu lintas obrolan. Biar saja. Tak perlulah saya menjadi muram gara-gara kelakuannya. Tak perlu saya pusing atas kekanak-kanakannya.

Senyum saja. Dan benar. Dengan senyum, saya menemukan cara ajaib yang ditransfer gratis oleh Sang Pemilik Hidup. Ngaca. Baru nuding? Lah, nuding di kaca kan nuding diri sendiri? Emang iya. Tapi lebih baik gitu, daripada nuding dulu tanpa sadar bahwa yang di dalam cermin itu elo sendiri.