Bertemu teman lama selalu mengasyikkan. Bukan sekadar demi meromantisasi masa lalu. Bukan. Justru untuk memutar ulang tujuan hidup ke depan. Pertemuan dengan teman lama selalu mengingatkan pada cita-cita. Itu pula yang saya rasakan Sabtu (23/8) lalu di kampus almamater saya, SMA Kolese de Britto.

Banyak teman lama datang di reuni akbar yang sekaligus bebarengan dengan lustrum XII sekolah khusus cowok ini. Ada yang teman seangkatan, dan lebih banyak lagi teman beda angkatan. Ada yang sudah kakek. Ada yang bapak. Ada yang kakek-kakek meski bukan kakek. Ada yang bapak-bapak meski belum jadi bapak. Ada pula yang banci, atau setidaknya metroseksual. Ada yang gagah, ada yang terhuyung-huyung. Hmm… tua… menua… tau-tau tua…

Lengkaplah teman-teman saya. Semua teman, semua saudara. Apa pun. Bagaimana pun. Saya begitu bangga pada almamater ini. Kolese de Britto. Lebih dari almamater yang lain, termasuk UGM sekali pun. Saya tidak bangga menjadi alumnus di kampus terakhir itu. Arah hidup, pilihan sarana mencapai itu, semangat “magis” saya digembleng di sana. Tidak sekadar kecerdasan intelektual. Persahabatan dengan semua suku, agama, status sosial diasah betul di kampus yang terletak di Jalan Laksda Adisucipto, Jogja ini.

Mengapa saya bangga? Karena bekal itu yang selalu menguji saya dalam setiap langkah. Selalu. Setiap hendak berbuat sesuatu, setiap hendak membuat keputusan kecil atau besar, saya selalu disentil akan pertanyaan tentang “arah hidup”. Ad Maiorem Dei Gloriam – Demi Kemuliaan Allah yang Semakin Besar menjadi batu penjuru yang selalu memanggil ketika persimpangan hidup seolah membingungkan. Dengan semangat itu, tidak lebih penting bagi saya menjadi “siapa” daripada “saya sudah berbuat apa untuk siapa?”. Pertanyaan lanjutan, “Apakah yang saya lakukan itu sudah sesuai dengan kehendak-Nya? Atau demi ego saya semata?”

Maka, bertemu teman lama adalah bertemu dengan batu penjuru itu. Dengan mereka, saya mencermati, siapa saja yang hidupnya selaras dengan spiritualitas De Britto, dan siapa yang sudah melupakannya. Alhasil, pertemuan dengan mereka adalah refleksi berharga untuk to men for and with others. Di mana pun. Kapan pun.