Tidak ada hubungan apa-apa. Hanya mau menyebut dalam satu deret berjajar tiga. Aku, Andaryoko, Supriyadi.

Aku tidak selalu aku. Aku adalah keakuan. Begini caraku memberi batas. Supaya keakuan ini menepi dari aku. Supaya tidak seperti mereka-mereka yang sedang menimang keakuannya di hadapan mereka, di hadapan orang lain.

Risih memang dengan keakuan. Seolah semua bermuara pada diri ini. Mereka, orang lain itu, tidak punya kontribusi apa pun. Sebab, semua sumbangsih itu milik diri ini semata. Dan inilah yang sedang memusim di sekitarku hari-hari belakangan. Ketika seseorang menyatakan diri sebagai Supriyadi, pahlawan PETA yang memimpin pemberontakan pada Jepang di Blitar, 14 Februari 1945. Supriyadi itu aku. Aku itu Andaryoko. Dan aku yang menulis ini bukan Supriyadi bukan Andaryoko, pun bukan yang bukan Supriyadi dan bukan yang bukan Andaryoko. Aku ya aku yang ini.

Media yang menggaruk pengendusannya. Mereka berlomba mendukir fakta terpendam secepat-cepatnya? Hmmm, cekatannya seperti tim puslabfor Polri yang mengeduk kuburan korban pembantaian Ryan. Seluruh pekarangan disasak. Diejalah setiap fakta yang dijumpa. Dijereng-jereng hingga menjadi jemuran narasi yang mengagumkan.

Dan memang mengagumkan narasi itu. Semua televisi menayangkan “penemuan” mereka. Juga radio, koran, dan internet. Dengan fakta dan narasumber yang paling jagoan, dengan kemasan yang paling cantik, lomba “lari karung berita” menjelang peringatan kemerdekaan RI, bersaing dengan lomba lari kelereng. Pincang, sebenarnya.

Juga tak kalah heboh perlombaan menjadi narasumber. Tidak semua karena inisiatif mereka. Tak jarang karena permintaan media. “Aku tahu…” “Aku yakin…” “Aku berpendapat…” Lalu semua bicara. Subjeknya yang mana? Aku, Andaryoko, atau Supriyadi?

Ini sekelumit uneg-uneg di seputar penerbitan buku Galangpress Mencari Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno karya Dr Baskara T Wardaya. Unik. Heboh. Menggelikan. Aku, yang menulis uneg-uneg ini, tidak tahu siapa “aku” yang sejati, yang berguna, di antara keakuan-keakuan itu.