Lahir Rabu, 30 Juli 2008, Oka urung jadi warga jagat raya. Ia kembali ke Allah, pemiliknya. Usia janin itu belum genap 4 minggu ketika ia lahir. Belum berbentuk, tapi sudah ada kehidupan padanya.

Sang Ibu sedih bukan kepalang. Bayangan menimang momongan pupus sudah. Ia meratapi diri karena tak bisa menjaga kandungannya. Aktivitasnya yang padat menghanyutkannya dalam letih dan lelah. Ibu muda ini memang kuat. Ujung-ujung nusantara sudah dijelajahinya. Dan tiada soal semua. Rasa capek selalu bisa ia tampik. Pegal di pundak selalu bisa ia lumat. Kesibukan adalah napasnya.

Ibu muda ini tidak tahu bahwa telah ada kehidupan di rahimnya. Sakit kepala yang dikeluhkannya beberapa hari dikiranya cuma pusing biasa layaknya orang yang sedang menanggung banyak pekerjaan. Karenanya ia menolak ketika ada ajakan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Baru ketika menstruasi pagi itu tidak sama dengan seluruh menstruasi di sepanjang hidupnya, ia menyesal. Bidan yang memeriksa gumpalan darah datang bulannya menyatakan, “Sudah terjadi pembuahan….” Marahlah ia pada dirinya sendiri. Seperti hendak memutar kembali waktu, ia berandai-andai tahu kondisinya sebelum kejadian itu. Dengan pengandaian itu, ia pasti akan melindungi makhluk lemah yang dikandungnya.

Malam-malam sesudah pagi itu seperti malam yang tidak berujung. Jika teringat, ia menangis. Saat belum larut, ia sudah melarutkan diri di kamar. Selain karena pengaruh obat, ia juga seperti ingin lekas membungkus harinya dengan mata mengatup. Ia juga seperti berharap malam-malam ini lebih panjang dari sebelumnya. Membuka mata, tampaknya, seperti membuka luka. Maka, setiap matahari sudah mengangkasa pun, ada keengganan untuk beranjak. Dengan alasan perut sakit dan kepala berat, ia selalu berusaha membenamkan diri di tempat tidur.

Suaminya bukan tidak sedih. Suami pun merasakan apa yang dirasakan istrinya. Rasa kehilangan, duka yang mendalam. Harapannya untuk segera menggendong anak, menuntunnya jalan di rerumputan, memboncengkannya menyusuri sesawahan, membasuh seluruh badannya di kamar mandi, dan menggodanya dengan kecupan-kecupan kecil saat bocah itu sudah nyaris memejamkan mata di pelukan ibunya… Sang pemilik kehidupan sejati menyodori kenyataan lain. Dan sang suami menyadari, ada rahasia lebih besar di balik duka ini. Pasti. Imannya menuntun ke sana.

Hari-hari sang suami kini untuk menemani istri. Dengan menelepon di tengah-tengah bekerja. Dengan mendengarkan keluh-kesah sesampai di rumah. Dengan mengecup kening dan membisikkan semangat hidup di saat berangkat kantor. Menguatkan. Membesarkan hatinya supaya tidak menanggalkan rasa bersalah. Mendoakan. Ia paham betul bagaimana perasaan istrinya. Juga paham bagaimana ujian ini sebaiknya dipikul bersama.

“Mau mencintai dalam suka dan duka, dalam untung dan malang,” sang suami terus berusaha dengan caranya menyatakan cinta. Kepada istrinya, kepada Oka anak mereka.

Dalam doa di puncak malam, keduanya menitip rindu untuk Oka: bahagialah kamu di surga, Nak…