Teman, ada satu tulisan yang menarik perhatian saya. Tulisan ini mengantarkan saya kepada satu permenungan tentang hidup. Tentang bagaimana saya memaknai kehidupan ini. Yang lebih menarik tentu saja isi tulisannya, kisah hidup penulisnya.

Secara fisik, saya belum pernah berjumpa dengan Romo Titus, orang dalam tulisan ini. Saya mengenalnya sebagai sama-sama anggota mailinglist De Britto, tempat kami sama-sama pernah bergulat mencari Tuhan dalam keseharian. Hmmm, Motus—demikian kami memanggilnya—mengingatkan saya akan Tuhan pagi ini.

Pagi ini, Selasa, 15 Juli 2008 pukul 11.00 WIB, Tuhan sedang menyucikan jiwanya, saya berdoa. Motus telah tiada. Jasadnya sedang didoakan di Katedral Purwokerto. Oleh sahabat-sahabatnya, ia diantar pulang ke rumah asalinya. Kemarin pagi ia berpulang di RS Elisabeth Semarang setelah bergulat dengan kanker getah bening.

Mgr Julianus Sunarko, Uskup Purwokerto, harus memilih. Hadir di Bandung untuk tahbisan uskup Mgr. V. Pujasumarta, atau memimpin misa requiem koleganya. Mungkin Romo Kemo—panggilan akrab uskup— lebih memilih yang kedua.

Tulisan di bawah ini, yang ia posting 3 tahun lalu di milis, memanggil saya menoleh sejenak. Bahwa hidup itu bagaikan roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Saya tahu! Sudah lama saya tahu itu! Bahwa sukses adalah bagaimana bangkit dari keterpurukan. Saya juga tahu!

Tapi, ternyata, apa yang saya tahu itu belum tentu saya pahami. Perjalanan hidup Motus membukakan pintu pemahaman lain. Tentang bagaimana seorang anak garuda harus turun bumi menjadi seorang anak ayam. Belaka! Tentang karunia daya tahan yang begitu melimpah.

Bilakah saya mengalaminya? Entahlah. Yang terselip di matahati saya sekarang adalah gambaran lain. Saya menjadi waspada terhadap orang-orang “kecil” di sekitar saya: tukang becak, pekerja percetakan, kurir surat, penyapu jalan, kasir minimarket, sopir biara, dll. Ada di antara mereka, mungkin, adalah anak garuda yang lain. Dan saya? Anak cacing… Anak cacing yang ingin terbang sebagai garuda!

Motus, selamat pulang. Terbanglah ke surga anak garuda…


Bersama Tuhan Ada Kepastian

Oleh Rm. Titus Prayitno Cokrodirjo Pr.

Selasa Sebelum Rabu Abu 2003

HP berdering. “Silakan Romo membuat retret delapan hari, lalu datang ke Purwokerto dan kita bicarakan tugas-tugas Romo”, terdengar suara dari seberang. Dada terasa penuh ingin mengungkap kegembiraan yang begitu besar. Dengan pulsa tinggal belasan ribu rupiah, dari rumah kost Jakarta saya ngebel Rm. Drost, SJ di Emmaus Girisonta.

“Saya diterima di Purwokerto, Romo.”

“Diterima bagaimana?”

“Barusan saya terima telpon dari Rm.Widyantardi Pr. dari keuskupan Purwokerto.” Lalu, saya katakan pula syarat-syarat awal yang mesti saya penuhi.

Rm. Drost, SJ menanggapinya dengan serius.

“Retret di Girisonta! Ayo, kapan? Saya pesankan tempat.”

“Praying Upon My Dossier”

Sesudah dua hari persiapan, mulailah hari-hari retret di Girisonta. Sangat terasa, tumbuh sikap membiarkan proses berlangsung. Dan, terbukalah lembaran-lembaran terdahulu.

Empat Pebruari satu sembilan sembilan enam saya pamitan, tinggalkan Umat. Saya pergi tanpa kejelasan mau ke mana, semata-mata karena dosa saya. Sedikit pun tak ada kesalahan dari Umat. Sebuah pejiarahan, saya menyebutnya demikian. Laku. Kabut gelap tampak nggamang di depan. Dukungan menjadi kebutuhan mendesak. Dalam doa rosario sementara Umat mengantar saya memasuki jalan-jalan pendek.

Pada lima Pebruari tanggal kelahiran saya, “Bapak-Ibu, maafkanlah aku. Hanya sampai di sini aku bawa namamu”. Masih ada tulisan itu di buku diary kecil saya. Dan, foto saya sudah tidak ada lagi dalam deretan foto-foto para Sahabat. Hari-hari terasa kosong. Di atas kertas ukuran setengah folio, akhirnya, ada tanda tangan saya bahwa benar-benar saya sudah dilepas. Harus lepas.

Tanpa pendaftaran saya berada dalam deretan sopir-sopir truck pengangkut kayu, pasir dan ikan. Terlalu lembut bagi mereka penampilan saya. Dunia baru bagi saya. Mengapa di sana? Dalam perasaan tersisih, terlempar dan tak terpakai, saya mengikuti proses yang terjadi. Kerja di lingkup iman dan  moral menjadi sesuatu yang asing. Saya tak mampu berpikir jauh, apalagi membuat perencanaan. Kabut tebal melingkupi diri saya. Hanya mampu memandang dua tiga meter ke depan. Jalan-jalan pendek saja bisa saya lakukan. Hari ini bisa buat apa. Itu saja.  Besuk pagi, tak tahu. Pemikiran jauh tidak jalan. Pilihan jatuh ke keterampilan, kegiatan tangan dan kaki:  sopir. Pernah pula menerima ketikan dari beberapa mahasiswa salah satu universitas di Solo. Pernah pula membeli gula merah (Jawa) dari perajin gula di Wonokerso, beras dari Klepu Yogyakarta untuk dijual lagi. Tidak berlanjut. Di samping itu, kegiatan di rumah Bapak-Ibu di Solo memberi hiburan tersendiri: mengurus kebun dan taman, membuat kolam ikan dan lele, mencoba membuat cetakan pot (tidak berhasil).

Ada sebuah kemurahan yang tersembunyi di sana, yaitu daya tahan. Daya tahan itu pula yang memampukan saya berhadapan dengan kenyataan dan berusaha memahaminya, meski dengan topi sedikit masuk menutup dahi. Ada rasa malu. Seekor anak garuda terpaksa harus ceker-ceker bersama anak-anak ayam di tempat sampah. Perasaan itu ada di hati saya. Atau, seekor burung patah sayap. Atau, seorang pangeran  tak lagi duduk di punggung kuda dengan perlengkapan senjatanya. (Pada retret octiduum sebelum tahbisan diakonat saya disebut pangeran oleh para Sahabat seangkatan tahbisan karena pengalaman doa ketika itu.)

Rasa malu berkembang menjadi sebuah pengakuan atas fakta. Pedih, memang. Dan, muncullah lembar-lembar daftar kesalahan dan dosa. Kesalahan dan dosa itu membuat hidup saya tercabik-cabik. Anak buah Lucifer benar-benar menguasai medan. Saya terlena, sehingga teguran keras dari Sahabat terdengar begitu lembut. Daftar itu sudah saya robek dari buku catatan harian dan saya bakar, setelah memasuki Minggu kedua. Saya jalan terus mengikuti dorongan hati.

Perlahan-lahan jendela hidup saya terbuka. Ada tawaran kerja di Jakarta. Pembiaran terjadinya proses lebih kuat dan melibas keraguan untuk menanggapinya. Dunia yang sama sekali baru saya masuki, menjadi karyawan apotek. Bukan pilihan sendiri, saya dimasukkan di sana. Terjadi keanehan dalam wawancara dengan pemilik apotek. Bukannya ia banyak bertanya kepada saya, melainkan ia banyak berceritera tentang dirinya sendiri dan pengalaman hidupnya. Ia adalah juga seorang pendeta Gereja Bethel. Ia tahu siapa saya dari lampiran surat lamaran yang saya berikan kepadanya pada hari itu juga. Pada akhir pembicaraan, “Minggu depan silakan datang untuk mulai bekerja”. Pada bulan ke tiga, diangkat jadi kasir. Pada bulan ke 12, gaji lipat dua dari gaji pertama masuk (tetap masih kecil, dua kali UMR).

Alumnus de Britto lulusan tahun 1989 mencari saya. Itulah awal senyatanya  jendela hidup saya terbuka. Ada pengalaman pengakuan atas kehadiran saya. Ada harga di dalam diri saya. Segar. Bahagia. Saya mulai mencari teman-teman lama. Saya mulai mencari relasi, dan ditawarkan kepada saya pekerjaan lain. Namun, umur menjadi kendala, sudah melewati batas maksimum. Teman apotek mengatakan expired. Saya tidak lagi bersembunyi. Saya berjumpa dengan seorang pastor dan saya katakan I was a Jesuit priest. So? Well, I am not a Jesuit now, but still a priest. Saya datang padanya berceritera banyak sampai ke kamar bih. Diusulkannya supaya saya pikirkan masa depan saya. Beli rumah misalnya, kata dia. Saya pergi dan tidak pernah lagi datang padanya. Saya ikuti seorang pulang dari gereja membawa Puji Syukur dan masuk ke arah kampung tempat saya kost. Ketemulah saya dengan ketua lingkungan setempat. Dan, kegiatan bulan Kitab Suci menyebabkan saya dipanggil sebagai Ustaad oleh sementara keluarga pemilik kost.

Rm. Drost, SJ membutuhkan tenaga.

“Ya betul,  tapi tenaga SMP, sopir pribadi.”

“Saya punya ijasah SMP, Romo, bisa dipakai.”

Saya datang. Dan, mulailah pendidikan luar biasa saya terima. Tugas sebagai sopir, mengantar ke mana pun Rm. Drost mau, bertambah sebagai tukang ketik, meningkat menjadi editor, teman gendu-gendu rasa sampai pernah saya katakan bahwa saya ini bukan lagi seorang Yesuit dan jawabnya adalah tatapan pada saya seakan mau mengatakan tidak apa, juga lawan debat kesukaannya meski tidak imbang, sampai sakit yang dideritanya membuat saya menjadi pembantunya all round. Bagaikan dua orang sahabat yang saling mendukung, saya alami bersamanya selama sepanjang waktu novisiat. Penghayatan hidup rohani ditampilkannya dengan setia. Semangat kolegialitas membuatnya hadir pada jam-jam makan setepat mungkin dengan harapan ada perjumpaan di sana. Tegas dalam pendirian tanpa kehilangan rasa humor. Tidaklah jauh kalau saya menyebut waktu-waktu itu merupakan tahun rohani bagi saya.

“Allah Menanti Aku”, buku karangan Michel Quoist Pr. terbitan OBOR. Saya suka buku itu. Pertimbangan para Sahabat menunjuk keuskupan Purwokerto, ketika mereka tahu bahwa saya mengalami kesulitan untuk menentukan di mana. Rupanya Allah menanti saya di Keuskupan Purwokerto.


Sebuah Persembahan

Di hari akhir retret, 16 Maret 2003, Abraham mempersembahkan Ishak, anak satu-satunya, anak kesayangan pemberian Tuhan, sebagai kurban bakar kepada Tuhan. Dalam keikhlasan dan kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan, Abraham mempersembahkan semuanya kepada Tuhan dan ia mendapatkan semuanya dari Tuhan.

27 Maret 2003 sore saya tiba di Purbalingga, diterima oleh wakil-wakil Umat. 28 Maret 2003 pagi saya ke keuskupan untuk menerima surat yurisdiksi. Siang hari saya persembahkan Perayaan Ekaristi di gereja Purbalingga untuk pertama kali bersama anak-anak sekolah. 14 April 2003 saya menerima surat penerimaan dan pengangkatan sebagai Romo Pamong di SMU Santo Agustinus Purbalingga.

Posisi Romo Pamong terletak dalam garis konsultatif. Dalam organogram Romo Pamong berada di bawah langsung Yayasan di samping Kepala Sekolah. Model itu dipilih dengan mempertimbangkan keinginan Sekolah bahwa Romo Pamong itu memamongi  baik siswa maupun guru dan karyawan. Di sekolah ini sudah ada Kepala Sekolah, Wakasek Kurikulum, Wakasek Kesiswaan, Wakasek Sarana/Prasarana, Wakasek Humas, dan unsur-unsur lain. Melihat situasi sekolah, Romo Pamong lebih diharapkan menjadi motivator, inovator. Romo Pamong diharapkan mampu menghidupi struktur yang ada. Sebuah komunitas sekolah, itulah yang ingin diciptakan. Dengan terciptanya pengalaman kerasan di sekolah, anak-anak didik akan menjadi suka belajar, dan kepinteran akan menjadi milik mereka. Anak didik tidak sekedar jadi penghafal dan guru pun tidak sekedar jadi tukang ajar.

Hari ini 6 Juli 2003 adalah hari ke 100 saya tinggal di Purbalingga.  Dedikasi para guru dan karyawan terungkap dalam keseriusan mereka dalam membenahi pelaksanaan
tuntutan tanggungjawab. SMU masih sibuk dengan penerimaan siswa baru. Jumlah pendaftar sampai dengan hari Jumat 4 Juli 2003 adalah 72. Angka itu mempunyai nilai tinggi karena menyebut jumlah peminat pertama pada SMU Agustinus, dalam perbandingan dengan tahun 2002 pada tanggal yang sama baru mendapat di bawah 25. Masih akan bertambah. “Masih ada peluang”, begitu simpulan dari team audit, “harus dengan kerja keras  Yayasan dan pengelola sekolah dalam membenahi kondisi saat ini”.

“Cinta-Mu telah mengubah jalanku yang gelap seperti malam menjadi terang benderang. Tinggallah bersamaku, Yesus, tinggallah, aku tak akan takut jika aku mengulurkan
tanganku dan merasakan Engkau dekat”, tertulis di buku catatan harian Pastor Titus Brandsma. Dan, peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung memberi peneguhan untuk
menapaki jalan ke Yerusalem.  Bersama Tuhan, ada kepastian.***