Kerap terdengar suara cinta. Pada perjalanan menuju pesta. Atau sekembali dari doa. Merdu sekali, apalagi jika didendangkan oleh paduan suara.

Suara cinta itu lembut bergemuruh. Memompa gairah, menggelontorkan tekanan darah. Semangat pun menggelegar-gelegar. Belingsatan banteng liar masih galah garang.

Suara cinta juga jauh lebih halus dari pada setengah helai hembusan hawa di atas padang savana. Lebih menyentuh ketimbang kata-kata yang sedang dieja ini. Betapa saking halusnya, suara cinta tak bisa disahut.

Kini suara cinta itu malah seperti lenyap.

Orang mudah marah. Mengamuk. Menyerang. Merusak. Memaki. Suara cinta menjelma auman murka.

Monas bersaksi, atas nama agama, atas nama Tuhan, bahkan orang tega menyiksa, menera bisa. Suara cinta terantuk tuli. Matahati tiada mau lagi berjabat. Suara cinta segera binasa.

Suara cinta.