Selasa ini beda. Biasanya pagi kami awali dengan bincang-bincang enteng; kami menyebutnya forum sejaman. Hari ini tidak pagi. Malam, atas usul teman yang mendapat limpahan kesempatan. Kami mengangguk tanda setuju. Satu-dua memilih pulang dengan berbagai alasan.

Steven Spielberg berhasil memukau kami lewat filmnya Schindler List. Tentang kekejaman Nazi. Tentang kejahatan kemanusiaan atas ras Yahudi. Tentang nafsu berkuasa.

Bukan kali pertama saya menyimak film ini. Dan saya tidak pernah jemu untuk memelototinya lagi. Selalu ada yang berkesan pada tatapan berikutnya. Ada kata, ada gambar yang seperti selalu mengalami perubahan.

Seusai Maghrib hingga 3 jam menjelang tengah malam, kami duduk di kursi. Ruang redaksi yang saban hari kami gaduhi dengan pekerjaan, malam ini kami padamkan lampunya untuk memberi kesempatan kepada televisi 21 inci menyita perhatian kami.

Kali ini forum sejaman tidak bicara soal bahasa, soal editing, soal menulis, tetapi soal indera lain yang juga perlu diasah. Film mengajarkan kepada kami bagaimana mengapresiasi kisah yang divisualisasikan. Rasa manusia kami pun diasah, supaya menjadi lebih peka, supaya semakin tajam.

Pekerjaan editing kerap menjebak kami pada persoalan rasional-irrasional. Kami sering hanya bertumpu pada nalar. Itu baik, hanya saja timpang. Karenanya forum sejaman macam malam ini menjadi pengayun yang menyeimbangkan ketimpangan tersebut. Supaya rasa berbahasa kami lebih pas. Dan supaya kami memahami konteks atas pekerjaan teks.

Schindler bilang, menyelamatkan 1 nyawa bisa menyelamatkan 1.000 isi dunia. Itu dalam perang. Dalam pekerjaan kami, 1 orang bekerja serius bisa menyelamatkan 1.000 dunia. Ya, jika kami bekerja sungguh-sungguh, pekerjaan kami berkembang, lapangan pekerjaan pun akan meluas. Itu satu pesan yang tercecer dari film yang punya pesan kuat soal “menghargai kemanusiaan” ini.