Saban Selasa pagi kami duduk melingkar. Tidak bundar, melingkar. Berhimpitan, seketerbatasan. Pagi yang melingkar tepat bagi kami membuang jangkar. Duduk bersandar, saling mendengar. Tidak ada yang jadi pakar. Semua pakar. Semua boleh bicara, semua pernah jadi pembicara. Satu bicara, yang lain mendengarkan.

Ringan belaka semangat forum ini. Berkisar pada persoalan sehari-hari di antara meja redaksi dan lapangan interaksi. Satu jam, tidak lebih. Ada cerita, gundah, juga solusi. Ada tanya, seru, namun tak jarang gagu.

Ah, tiba-tiba pagi ini ada yang gagu. Habis kata, kata si pengisi waktu. Ia mendadak suwung. Hilang ide dari belantara jagad yang maha kaya maha luas maha ada maha berlimpah ini. Ke mana ide itu hilang? Ditelan senja yang kemarin sore mengubur kami ke dalam malam? Disedot angin yang menggelinjang menggelindingkan kami sesaat seusai kabut?

Kami bersedeku, menepis ragu. Di antara bincang, kami mencari, di manakah sumber gagu itu? Kami mencari di sela-sela debu, masihkah ada kata di sana? Kami menelusur kepulan dupa, masihkah ada doa di sana? Kami mengais-ais rasa, tersisakah tanda di tengahnya?

Ada! “Ini, kutiupkan untukmu seikat debu yang lupa kau sapu,” girang seorang teman. Dia bersorak atas debu yang ternyata masih menempel di pelipis. Kami pun bergirang, merayakan mukjizat kata, yang ternyata tidak pernah hilang.

Kata, yang hanya debu itu, ternyata dekat dari kami. Menempel di kami. Hanya kami kerap lupa menyeka, hingga debu itu menyatu dengan usang. Dan itu yang acap bikin kami ragu, ini debu ataukah abu? Jika debu ia masih bisa kami raup menjadi segunduk pasir, jika abu ia terbang meninggalkan arang.

Aha, kata itu debu belaka. Begitu banyak di sekitar kita, tak terasa, namun seringkali kita jauh-jauh mencari. Forum sejaman pagi ini belajar mengundang yang tak kelihatan oleh mata, walau senyatanya ada di pelupuk saja. Semangat menulis!!!