Selalu jatuh pada rasa kagum. Itu perasaan saya tatkala untuk pertama kali menyinggahi suatu tempat. Kekaguman itu tentu dipantik oleh hal-hal yang kasat mata. Yang kelihatan di permukaan. Udara baru seolah-olah memang menjernihkan pernafasan.

Tapi itu di awal saja. Sesudahnya, perasaan kagum itu akan dibenturkan pada fakta-fakta lanjutan yang kerapkali berbeda dengan kesan pertamanya.

Ini pula yang saya alami ketika mendarat di Kuala Lumpur International Airport. Bandara ini dikenal sebagai LCCT (Low Cost Carrier Terminal), yang sesuai namanya diperuntukkan bagi penerbangan dan pendaratan pesawat-pesawat bertarif murah. Meski murah, jangan bandingkan dengan Bandara Internasional Adisumarmo, tempat saya take off, yang sumpek, WC-nya jorok, loket pembayaran fiskalnya kayak pasar ikan, yang petugas imigrasinya datang sesuka hati. LCCT  besar dan bersih.

Sebelum mendarat, sepanjang mata memandang, mata saya dimanjakan oleh pemandangan hutan kelapa sawit. Pemandangan ini mirip dengan pemandangan saat mendarat di Bandara Sam Ratulangi Manado. Arah pendaratan pun dari laut menuju daratan. Bedanya, karena bukan pegunungan tinggi seperti Manado dan Bandung, tidak ada guncangan saat hendak mencium tanah. Atau, barangkali karena AirAsia AK977 ini menyemplak pesawat baru Airbus A320? Bisa jadi. Sedangkan jika mendarat di Hussein Sastranegara Bandung biasanya hanya dengan pesawat sejenis ATR yang berbaling-balik atau CN buatan IPTN? Entah juga.

Sedikit lebih bersih dan teratur, untuk menuju pusat kota, saya menumpang Skybus AirAsia yang tarif RM9-nya saya beli saat masih di atas. Berenam, dengan seorang teman sekantor dan empat orang dari kantor lain, kami menikmati sejam perjalanan lewat highway menuju KL Sentral. Sepanjang jalan, kebun kelapa sawit menemani. Dalam peta memang tampak jelas, LCCT terletak jauh di luar kota KL.

Itu yang bikin gumun saya pertama. Yang kedua, sepanjang jalan, ruas-ruas highway menjulur ke mana-mana. Kesan saya, KL adalah kota jalan. Di mana-mana jalan. Luas dan rapi pula. Bus berjalan santun, setia pada jalur yang ditetapkan. Beda dengan Mayasari AC34 Blok M-Poris Plawad yang langsung menggenjot kecepatan seusai tol Kebonjeruk.

Tiba di KL Sentral, baru saya melihat pemandangan beda, yang kemudian sedikit menggerus kekaguman saya. Semrawutnya mirip Soekarno-Hatta. Padahal, itu tempat seluruh penumpang didistribusikan ke segala penjuru.  Toh, ketidaktertiban itu tidak hanya di Jakarta hehehe…

Nanti secara khusus saya ingin cerita tentang betapa tidak enaknya hidup di sini. Tentang pembatasan informasi (di hotel aja tidak ada saluran TV Indonesia), di mana media massa dipasung seperti media Indonesia di zaman Soeharto. Tentang perilaku RELA yang amat berlebihan dalam
mencurigai orang-orang berwajah Indonesia yang dalam benak mereka adalah TKI ilegal. Di samping, tentu saja, banyak juga asyiknya di sini.

OK. Sementara ini dulu. Saya mau jalan sebentar ke China Town. Ada satu masakan khusus yang hendak saya cicipi di sana. Sayang kalau saya lewatkan.