Pappilon Manurung mati di usia 33 tahun, 20 Maret lalu. Stroke menyerang malam sebelumnya. Pembuluh darah di otaknya pecah. Dosen ilmu komunikasi FISIP UAJY ini meninggalkan seorang istri, Yuli, dua putri kecil, sepasang orangtua. Juga adik Parlindungan Manurung, teman seangkatan saya di De Britto, Ita-istrinya, Hansel-buah hati mereka.

FX Suparto kondur di usia 78 tahun, Sabtu 29 Maret. Kanker usus memutus umur panjangnya. Ia juga cuci darah. Terakhir waktu Kamis Putih itu. Seorang istri dan dua putra, Yosi dan Peter, ditinggalkannya. Yosi dan Peter juga teman di JB, meski keduanya beda angkatan. Pak Parto guru di sana. Mengajar bahasa Indonesia dan bahasa Prancis, sejatinya ia adalah guru kehidupan.

Sutaryo wafat di usia 64 tahun. Tak saya tanyakan apa sakitnya. Yang terang, sewaktu saya melayat, jasadnya sudah dikafani. Sebingkai foto terpajang di depan kerandanya. Kumis tipis, senyum tebal, itu ciri khasnya. Mengajar sosiologi modern di Jurusan Sosiologi UGM, ia dosen yang ramah. Tidak pintar, tapi mengajar secara menarik.

Guru-guru itu berpulang. Banyak anak didik mereka datang melayat. Banyak sekali. Mereka pulang jauh dari sepi.

Kematian seorang guru hampir selalu ramai pelayat. Jika boleh menebak, kehadiran para murid adalah untuk mensyukuri harta ilmu yang pernah mereka wariskan. Sangat berharga warisan itu. Harta abadi yang tak lekang.

Selama hidup, guru-guru itu mungkin berada dalam sepi. Secara materi, acapkali perekonomian guru tidak lebih baik dari sebagian muridnya. Bisa jadi benar begitu, bisa jadi cuma penampilannya. Toh, tak soal itu.

Tapi dari segi kawicaksanan, nama guru nyaris selalu disebut sebagai panutan. Setiap pertemuan alumni, cerita tentang guru tak pernah luput dimunculkan. Apa pun isinya, kenangan akan guru begitu melekat sepanjang perjalanan murid. Maka, tidak heran jika kematian guru selalu berkerubung para muridnya.