Stop urusi Soeharto! Biarkan dokter yang tangani raganya! Biarkan “media bermental infotainment” mengumbar gosip “sakit kritis”, pejabat yang hilir mudik menjenguk, hingga liang lahat. Biarkan Tuhan yang menentukan hidup-matinya!

Saatnya pemerintah SBY-JK turun tangan. Den, Presiden, utamakan rakyatmu! Jangan tunda selamatkan rakyat demi menyelamatkan muka mengurus pendahulumu.

Tempe mahal sudah. Mbak Jiyem, pemilik warung di sebelah rumah, terpaksa membuat kecewa tetangga beberapa hari ini. Tempe yang dibelinya di pasar, yang sedianya dijual kembali di warungnya, habis dicegat pembeli sekeluar dari pasar. Alhasil, kami tak kebagian lagi. Sudah mahal, mesti berebut, dan belum tentu dapat pula.

Bahkan, untuk menyantap makanan sederhana pun kini tak lagi murah di negeri loh jinawi ini. Bahkan, petani yang menanam kedelai pun ikut dicekik oleh harga tempe hasil kedelai impor yang tak sanggup mereka jangkau.

Tempe telah menampar kita. Dan menyadarkan kita betapa kesengsaraan bangsa ini sungguh-sungguh nyata.

Pak Harto, terima kasih atas peninggalan derita ini. Panglima ekonomimu tumbang sudah, menyayat lapar perut kami.