Sudah beberapa hari ini media meributkan tentang kondisi kesehatan Soeharto. Kabarnya, Soeharto kritis. Rumah Sakit Pusat Pertamina, tempatnya dirawat, jadi pusat pemberitaan. Nyaris setiap jam ada breaking news untuk mengabarkan kondisi kesehatan mantan penguasa orde baru ini. Lucu sekali tingkah mereka. Seolah-olah berita tentang nyawa Soeharto jauh lebih penting dari korban banjir Bengawan Solo, longsor Karanganyar, dan korban bencana lainnya. Seolah-olah mereka sah mengalihkan konsentrasi pemberitaan ke wajah penguasa anti demokrasi itu. Tergoleknya jenderal besar itu membuat mereka lupa betapa sedih penderitaan bangsa ini akibat kekayaan bangsanya dikorupsi oleh kroni-kroni presiden kedua itu. Juga olehnya dan keluarganya.

Tanpa kesadaran ideologi, kesadaran sejarah, dan kesadaran politik yang matang, hanya dalam beberapa hari, media terjerumus ke model penceritaan infotainment. Mengejar sensasi, tanpa substansi. Seolah-olah kalau mereka menjadi yang pertama dalam memberitakan, publik dipuaskan. Mereka seperti hendak menjadi yang terhebat dengan menjadi saksi pertama kematian penghilang supersemar itu.

Kondisi kesehatan Soeharto bahkan membuat pihak tertentu salah tingkah. Ngawur lebih tepatnya.

Menyedihkan sekali. Tidakkah kita lupa:

  1. Siapa yang demen membungkam pers dan membredel media?
  2. Siapa yang hobi menangkap dan menculik aktivis?
  3. Siapa yang patheken kalau tidak me-recall politisi kritis?
  4. Siapa yang menjerumuskan militer sebagai centeng penguasa?
  5. Siapa yang memenjarakan “orang-orang 1965” tanpa peradilan?
  6. Siapa yang membiarkan Soekarno, pendulunya, mati mengenaskan dalam sepi?

Tokoh bengis itu sedang tak berdaya. Memaafkannya, ya, supaya jika mati, arwahnya tidak gentayangan di Tanjung Priok, Semanggi, atau Kedung Ombo. Melupakan kejahatannya, jangan, supaya bangsa ini tidak terperosok lagi ke keblingeran sejarahnya.

Hari ini saya berpakaian hitam-hitam. Berkabung atas sikap kampungan bangsa ini yang mudah lupa akan masa lalunya. Biarkan saja Soeharto mati jika memang sudah saatnya. Tapi jangan biarkan ingatan kita ikut mati sebelum saatnya.