Selalu ada yang tidak bisa saya pahami dalam hidup ini. Lahir, napas, dan mati.

Hari-hari ini, Mbah Putri sedang berjuang hidup. Bed rumah sakit menjadi saksi, betapa napas itu kini berburu dengan denyut nadi yang kian kencang. Badannya panas. Kesadarannya sama sekali tidak ada. Gerakan tangan kanannya, kami duga, hanya refleks bawah sadar.

Kami hanya berbisik di telinganya. Bisikan doa. Percaya beliau mendengar. Lebih-lebih Dia.

Juga harapan. Lalu kami sampai kepada puncak dari keyakinan, bahwa pada titik tertentu harapan dan kecemasan itu bertemu. Permintaan dan kepasrahan bertaut. Kami masih ingin bersamanya lebih lama lagi, sekaligus kami ikhlas juga Allah yang empunya kehidupan menghendaki Mbak kembali. Ini sama sekali tidak bermaksud mendului kehendak-Nya. Tapi memang demikianlah adanya. Hidup dan kematian adalah sepasang mempelai kesempurnaan. Keduanya sudah menjadi kepastian beribu-ribu abad. Semua yang hidup pasti mati. Semua yang mati, kata iman, berharap bisa hidup abadi.

Mbah Putri tak lagi bisa berkata-kata kepada kami. Sore nanti kami, putra-putri dan cucu-cucunya akan berkumpul di seputar tempatnya berbaring, akan membacakan Surat Yasin. Kami memohon sekaligus pasrah. Jika Allah menghendaki kesembuhan, biarlah itu yang terjadi. Sebaliknya, jika Allah memungkasi perjalanan duniawi Mbah, kami akan melepas dengan bangga.

Bangga? Ya. Kami bangga akan Mbah Putri. Cintanya sungguh luar biasa. Pada suami, anak-anak, dan seluruh keluarganya. Mbah Kakung mengakuinya. Pada saat Mbah Kakung harus meringkuk di penjara dalam peristiwa 65, Mbah Putri yang menyelamatkan anak-anak. Bapak saya salah satunya. Mbah Putri, yang yatim piatu di umur 8 tahun, mesti menjadi “janda” gara-gara peristiwa politik yang tidak ia pahaminya. Jangankan memahami konstelasi politik, membaca saja Mbah Putri tidak bisa.

Selepas dari penjara, Mbah Kakung hanya bisa hidup dari bertani. Status pegawai negerinya dicopot, tanpa ada tanda pensiun dari negara. Kebun peninggalan orangtua memang luas, tapi tanah yang bisa ditanduri padi tidak seberapa. “Mbahmu Putri kuwi sing ngojok-ojoki aku tuku lemah,” ujar Mbah Kakung. Jadilah, berkat kengototan Mbah Putri, sepetak demi sepetak lahan terbeli. Lalu kini, anak-anaknya beroleh hamparan lahan yang luas.

Mbah Putri sedang berjuang sekarang. Mungkin mempertahankan hidup. Mungkin mempersiapkan hidup berikutnya. Selang infus sudah dipindahkan dari punggung tangan ke punggung kaki. Napasnya satu-satu. Riak menyumbat aliran hawa. Tanpa gerak. Tanpa mengeluh.

Hanya doa yang bisa kami titipkan. Selebihnya, saya tetap tidak bisa memahami misteri hidup yang demikian ajaib ini. Semoga Mbah beroleh jalan terbaik. Kami berharap, kami pasrah.