Desember adalah bulan gelisah. Bulan ketika gundah tumpah. Juga ketiga asa direnda. Angka 12 senyatanya tidak ada. Media mainstream, hari-hari ini, telah menurunkan laporan tentang evaluasi tahun berjalan. Pekerjaan sepanjang Januari hingga November dikupas. Tidak ada Desember. Semua arsip diblejeti. Gudang notulensi dibongkar. Catatan kegagalan jadi ajang caci-maki. Catatan keberhasilan jadi modal tepuk puja-puji.

Peninglah pekerja yang target tahun ini belum tercapai, atau malah bakal kandas. Migren pula setengah kepala manajer penjualan yang disodori data bagaimana pertumbuhan tahun ini jeblok jongkok. Muntap darah, di seberangnya, para owner ketika perahu yang dinakhodainya terancam karam di batu karang.

Sorak-sorai, sebaliknya, menyeruak di balik partisi-partisi kantor ketika departemennya disanjung berhasil menggelontorkan pemasukan gede buat perusahaan. Jingkrak-jingkrak, sebab bonus akhir tahun niscaya bakal singgah. Belum lagi meja promosi siap diduduki.

Desember bulan yang nestapa. Ia bisa begitu cepat, bisa begitu cepat. Ada yang segera ingin melaluinya. Sebagian mengikatnya kencang-kencang agar waktu tak segera oncat. Oncat, bukan loncat.

Desember juga bulan yang menggebu-gebu. Bagi yang hendak menuntaskan prestasi di tahun ini, pergeseran hari menuju penghujung waktu pastilah akan dimanfaatkan seberdarah-darah mungkin. Untuk kelak, di tahun depan, jawaban atas “prestasi apa yang telah kau ukir di tahun lalu”, beroleh jawaban gembira disertai senyum yang membahana. Dan bukan dengan gerutu penuh sesal.

Bagi orang Jawa, padahal, Desember bulan penuh makna. Mereka memaknai desember sebagai deres-deresé sumber. Sebelum dunia dikacaukan oleh anomali iklim, setiap Desember tanah Jawa selalu basah. Hujan terus mengguyur sepanjang hari. Pekat malam juga kerap ditembus rerintikan. Tanah basah. Petani bernyanyi. Rumput bersuka cita. Kembang bersenandung.

Air Desember penuh doa. Syukur atas rejeki yang berlimpah. Benih siap ditebar.

Namun, kini, Desember tak lagi menjadi sumber. Hujan tak datang setiap hari. Sumur belum benar-benar melimpahi air. Timba masih harus menggulung sampai ujung simpul. Senja tak lagi jengkerikan.

Hanya saja, manusia tidak semestinya melipat asa. Masih ada harapan di tanah ini. Meski Januari-November tak pernah menyisakan Desember, tak berarti ia tak berarti. Justru Desember telah menyediakan diri sebagai jeda. Tidak disebut-sebut, namun ia mewarnai sebelas bulan lainnya. Tidak dihitung, namun ia menjadi pangkal pijak sekaligus garis akhir.

Selamat menikmati Desember. Semoga bulan ini melimpahi sumber yang deres untuk kita semua.