Ingatan akan orang ini begitu kuat membekas. Sosok yang begitu sederhana. Tekun. Yang menjalani hidupnya dengan samadya. Api yang menyala kala dahaga.

Seminggu belakangan, Jogja diguyur hujan. Merata hingga Ngawen, sebuah kecamatan di Kabupaten Gunungkidul, DIY. Samto sangat sumringah karenanya. Kampungnya, yang berbulan-bulan kering tak disapa air, kini basah oleh muntahan langit. Samto mulai bisa mencangkul. Bibit padi dicocokkannya. Padi khusus daerah tadah hujan.

Istri dan anak perempuannya ditinggal di kota, menunggu gerobak es serut di kantin sebuah sekolah. Tak perlu Samto ragu akan kemampuan mereka menghadapi murid-murid sekolah itu yang terkenal jahil dan suka ngerjain.

Jumat (2/11) sore kemarin, Samto sudah kembali ke “kantor”-nya. Yang mengherankan, ia tidak berada di tempat semestinya. Laki-laki 62 tahun yang wajahnya seperti lebih tua dari umurnya itu tampak sedang menyapu lintasan lari di pinggir lapangan sepakbola. Tinggi badannya yang sekira 150 cm itu nyaris tenggelam dibenam tingginya gagang sapu. Sore telah diguyur hujan. Samto tak perlu berjibaku dengan debu. Srek… srek… srek… Pelan dan dalam cara Samto menghunus sapu. Dedaunan nangka yang berserakan diraupnya. Caranya memperlakukan sampah laiknya puisi cinta. Ia tak membenci sampah. Apalagi sampah dedaunan. Ia hanya meraup dan mengusung calon humus itu pada tempatnya. Sampah bukan penyakit. Ia hanya tak sedap di mata.

Mata Samto menatap tajam ketika saya menghampirinya. “Mas…,” ia menyapa saya hangat. Ia masih ingat saya, meski saya yakin, ia tak hapal—bahkan tak tahu—nama saya. Tapi sepertinya ia masih mengenali wajah saya yang sekarang lebih bulat, tepatnya gemuk ideal, dibandingkan sebelas tahun lalu tatkala saya meninggalkan sekolah itu.

“Lho, sekarang bantu-bantu nyapu to, Pak? Tidak jualan es lagi?” tanya saya penuh heran. Kali itu saya memanggilnya dengan sebutan “Pak”, tak sebagaimana biasanya yang njangkar, langsung menyebut nama. “Itu, istri dan anak saya.” Maksudnya tentu, dagangannya sudah ada yang menangani.

Kami pun kemudian terlibat dalam obrolan hangat. Di pinggir lapangan, sembari menikmati aroma khas tanah seusai digebyur hujan. Samto sambil berpegangan gagang sapu, sedang saya berdiri sambil sedikit mengangkangkan kaki supaya tatapan mata saya sejajar dengan tatapan matanya.

Sore itu ia membantu membersihkan lingkungan sekitar kantin karena keesokan harinya sekolah itu punya hajat besar. Ratusan tamu dari luar sekolah akan singgah. Moga-moga, rejeki juga singgah di “kios”-nya. Makanya, ia bersihkan halaman etalasenya supaya para tamu jenak pinarak.

“Nggak ada.” Kini matanya berkaca-kaca. Aduh, tak ada maksud saya membuatnya sedih. Saya hanya ingin menanyakan kabar yang belum saya update. Mumpung ketemu, sekaligus sebagai bahan omongan sore-sore, saya lontarkan pertanyaan tentang kabar anaknya, Agus Budi Santoso, yang bertugas di Banda Aceh tatkala bumi rencong itu digulung ombak maut, 26 Desember 2004. “Anak kula tilar kenging sutami,” ujarnya. Lidah Samto kesulitan mengeja ukara tsunami.

Agus anak kedua Samto. Enam seluruhnya, tiga terakhir perempuan, dan belum “mentas”. Dua belum rabi, si bungsu masih studi di STM Karangmojo. Masih butuh biaya banyak untuk ketiganya. Sementara penghasilan dari berjualan es hanya cukup, “Daripada tidak bekerja.” Kata Samto, bertambahnya pesaing, terutama penjual minuman botol, telah mengurangi penghasilannya.

Anak perempuan tertua sempat menyodorkan keinginan untuk masuk pendidikan sebagai tentara. Samto menolaknya. Butuh sekitar Rp 70 juta untuk memuluskan jalan mendapatkan seragam gagah “penjaga pertahanan Negara”. Sempat sang anak meminta Samto menjual sebidang tanahnya. Samto menolak. “Kalau saya jual tanah, anak saya yang lain makan apa,” ia memberi alasan.

Penolakan itu barangkali berkaitan dengan pengalaman “traumatik” tatkala memasukkan Agus ke sekolah polairud (polisi air dan udara). Ia menjual tanah waktu itu. Tanah itu hasil nyelengi sejak ia menikah 1969. Tak ia sebutkan berapa petak tanah dilipat untuk membeli seragam coklat bagi putra kebanggaan kelahiran 30 Agustus 1974 itu.

Dan Samto bangga atas anaknya itu. Begitu diberi tahu oleh “alumi”—bukan alumni—bahwa anaknya menjadi korban, ia terbang ke Medan diantar sedulur. Dari Medan, mereka menempuh perjalanan darat menuju Singkil, selatan Banda Aceh, tempat tinggal istri dan dua anak Agus. “Kaya arep mati, Mas,” celetuknya mengisahkan perjalanan darat yang menyiksa itu. Katanya, sepanjang 8 jam perjalanan, tak putus ia mabuk. Maka, ketika istri Agus mengajak Samto menengok makam almarhum di Banda Aceh, buru-buru ia menolak. “Bukan karena hati saya tidak tega. Saya yakin bisa tatag. Tapi saya tidak mau muntah-muntah lagi,” tuturnya. Cukuplah ia sampai di Singkil, menemui cucu keenamnya yang ketika bencana terjadi masih dalam kandungan itu. “Liburan kenaikan kelas itu, mereka akan ke sini. Biar mereka kenal embah-nya,” Samto penuh harap. Samto tidak berharap bisa mengasuh cucu-cucunya karena istri Agus berasal dari Singkil. Sulung dari enam bersaudara itu cukup bersyukur telah dianugerahi enam cucu dari tiga di antara enam anaknya.

Samto lebih bersyukur karena ia masih boleh berjualan es. Semua siswa dan lulusan sekolah itu mengenalnya. Bukan Samto, tapi Bob. Ia tak tahu darimana sebutan itu berasal. Mereka juga tak tahu kalau di kampungnya di Ngawen tak ada nama Bob.