Kota Atambua sangat sepi pagi itu. Tidak banyak orang lalu-lalang di depan kantor JRS, tempat saya menginap.

Saya baru tiba di kota itu setelah delapan jam melakukan perjalanan darat dari Kupang. Berita bom yang meledak di Legian, Bali saya dapatkan saat mengakses internet menggunakan jaringan telepon. Pagi yang mengejutkan.

Sesudah itu, perkembangan berita tidak bisa saya pantau karena minimnya sumber informasi. Satu-satunya siaran televisi yang bisa ditonton di sana hanya TVRI. Jika beruntung dapat bocoran RCTI. Koran daerah Pos Kupang baru sampai di Kabupaten Belu tersebut keesokan harinya.

Di luar faktor itu, tugas peliputan di kamp-kamp pengungsian memaksa saya berkonsentrasi pada korban “bom politik referendum 30 Agustus 1999″. Menjelajah kamp di seputar Atambua dan Betun saya teruskan. Juga menyeberang ke Timor Leste.

Baru sebulan sesudah tragedi kemanusiaan, yang disebut-sebut terbesar kedua setelah Menara WTC, itu saya terbang ke Bali dari Kupang. Hotel White Rose, 100 meter dari Ground Zero menyediakan penginapan gratis kepada wartawan kala itu. Puluhan teman juru berita pun berkumpul di sana. Untuk keluar masuk, dijebolkan pagar belakang hotel. Pintu depan, persis di samping Bank Panin, di seberang Sari Club, masih terhambat puing-puing.

Getar-getar kengerian sangat terasa kala itu. Bali seperti mati tanpa upacara ngaben, tanpa upacara kehormatan. Bali jadi sia-sia. Ketatnya penjagaan terasa di mana-mana. Sontak, Bali berubah jadi kota dewa curiga. Kuta sepi. Kuta Square, yang kelak juga diledakkan bom bersamaan dengan bom Jimbaran, seketika sepi transaksi.

Suasana sepi terus bertahan hingga ketika empat tahun kemudian saya ke Bali. Saya menuliskannya di blog terdahulu:

Bali Kosong

February 13th, 2006 by kunto

Dalam bahasa Jawa, bali itu mulih, kembali. Maka, bali kosong berarti kembali kosong. Pulang kepada kehampaan.

Seperti itu pulalah yang terjadi pada Bali, pulau dewata pujaan manusia sepanjang bangsa. Kemarin, saya ke sana setelah terakhir Desember 2004. Bandara Ngurah Rai sepi. Tidak seperti lazimnya, tak ada antrian untuk sekadar mengambil bagasi. Parkiran nyaris kosong, padahal biasanya pukul sembilan pagi padat menyumpat.

By Pass menuju Nusa Dua ramai, tapi ternyata tidak di Nusa Dua. Pantai kosong, hanya ditunggu pasir yang terdesak abrasi. Hotel Westin lengang, bukan karena sedang Nyepi. Resort di tepi pantai itu sepi pengunjung. Menghadap ke timur, pantai itu seperti mengharap matahari yang tiada kunjung bersinar.

Tari kecak yang dimainkan 50 Bli, dipimpin Sang Hanoman, tak juga menurunkan ilmu pengetahuan ke akal budi mereka. Cak… cak… cak…cakcak…ccccakcccak… Langgam itu seperti hanya berdecak kehilangan roh. Kain poleng yang membalut enam pohon kelapa seperti hilang daya, tak sanggup tepis sesat. Hanya tepuk tangan ala kadarnya yang menggemuruhi pamungkasnya sendratari nan agung itu. Sesudah menari, detak gemercak Bli-Bli muda itu kembali kepada kehampaan.

Ini pasti derita berkepanjangan bagi orang Bali. Tak ada lagi turis berkerumun di seputar pura. Mereka berdoa sendiri, dalam hening yang malam. Tetamu tak lagi mampir di kios souvenir, sementara sesaji terus mengepul. Mantra memohon ampun, sembayang pengharapan itu, kini seolah tak ampuh lagi. Barangkali karena terlalu lama terbeli oleh industri wisata…

Bali sedang kembali kepada kekosongan yang sebenarnya. Bali sedang sendiri. Bali sedang tiada…

Bunyi tulisan kaos bikinan Pakuningratan, “Bali Wae Nang Djogdja.” Ya, mulih wae nang yoja…

Kalau ada perkecualian, itu di Seminyak. Kawasan bar dan diskotek itu tetap ingar-bingar hingga pagi. Setiap malam, usai berburu berita, kami selalu beringsut ke Seminyak. Minum, makan, berjoget. Hanya saja, jogetannya kaku. Minumnya pun ala kadar saja. Makan tanpa nafsu. Ada kegaguan di balik dentuman musik yang disetel keras-keras. Jika kami, para wartawan, menghabiskan waktu di sana, itu lebih merupakan cara untuk melepaskan penat yang tak tertahankan. Penat dalam menguraikan persoalan terorisme tersebut. Penat dalam berempati dengan korban yang kami wawancarai.

Saya, contohnya, sampai sekarang selalu ingat pada sosok Sony. Bapak dua anak ini bekerja di Hotel White Rose. Malam itu, ia meminta istrinya menjemput usai bekerja. Dan istrinya berangkat dari rumah di waktu-waktu seputar kejadian itu. Hilang ia. Sampai sekarang….

Bali enam tahun lalu…