<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>kala mengepal</title>
	<atom:link href="http://aakuntoa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aakuntoa.wordpress.com</link>
	<description>aa kunto a</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 16:18:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aakuntoa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>kala mengepal</title>
		<link>http://aakuntoa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aakuntoa.wordpress.com/osd.xml" title="kala mengepal" />
	<atom:link rel='hub' href='http://aakuntoa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tahun Baru Sudah Berbulan-bulan Lalu</title>
		<link>http://aakuntoa.wordpress.com/2012/01/01/tahun-baru-sudah-berbulan-bulan-lalu-2/</link>
		<comments>http://aakuntoa.wordpress.com/2012/01/01/tahun-baru-sudah-berbulan-bulan-lalu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 16:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[pencipta]]></category>
		<category><![CDATA[perancang]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aakuntoa.wordpress.com/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Kembang api di mana-mana. Langit gelap terpecah cahaya. Pekik terompet menyayat malam. Gempita sekali. Jalanan bersesakan. Pusat-pusat hiburan bertaburan bintang-bintang. Semua bergembira. Detik-detik pergantian malam disepakati sebagai pergantian tahun. Pantas dirayakan sebab beda dengan malam-malam sebelumnya. Selebrasi konsumsi pun seperti pesta suci. Banyak orang menyembah kalender baru. Litani tahun lawas masuk keranjang dosa. Ganti mereka <a href="http://aakuntoa.wordpress.com/2012/01/01/tahun-baru-sudah-berbulan-bulan-lalu-2/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=592&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_593" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2012/01/c41.jpg"><img class="size-full wp-image-593" title="c4" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2012/01/c41.jpg?w=500&#038;h=199" alt="" width="500" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Doa St John de Britto</p></div>
<p>Kembang api di mana-mana. Langit gelap terpecah cahaya. Pekik terompet menyayat malam. Gempita sekali. Jalanan bersesakan. Pusat-pusat hiburan bertaburan bintang-bintang.</p>
<p>Semua bergembira. Detik-detik pergantian malam disepakati sebagai pergantian tahun. Pantas dirayakan sebab beda dengan malam-malam sebelumnya.</p>
<p>Selebrasi konsumsi pun seperti pesta suci. Banyak orang menyembah kalender baru. Litani tahun lawas masuk keranjang dosa. Ganti mereka berhala pada janji tahun baru. Demit anyar itu mereka kasih nama &#8220;resolusi&#8221;. Girang bukan kepalang mereka menemu harapan baru ini. Semoga demit itu tidak gentayangan sepanjang tahun, berujung di ujung kubur, resolusi mati tersambar petir.</p>
<p>Padahal, sejatinya, pesta pergantian tahun itu adalah milik para penyelenggara acara. Merekalah empunya pesta. Sudah jauh-jauh hari mereka merancang acara. Sudah jauh-jauh hari mereka tiba di tanggal 31 Desember-1 Januari. Pada penanggalan kerja mereka, sedari lama mereka sudah mencapainya. Maka, sedari itu, mereka telah mengalami tahun baru.</p>
<p>Para penerbit buku, contohnya. Pada buku-buku yang mereka keluarkan di bulan November-Desember, mereka sudah mencantumkan 2012 sebagai tahun terbit. Jika angka 2011 yang dicantumkan, pembaca akan berpersepsi bahwa buku yang mereka peroleh adalah buku lawas, apalagi jika pembaca mendapati buku tersebut di tahun berikutnya. Usia tahun lawas tinggal 2 bulan saja. Dengan mencantumkan tahun 2012, buku yang diterbitkan memiliki masa edar yang lebih lama. Alhasil, ia bisa memiliki waktu 14 bulan untuk tahun berikutnya, 2 bulan lebih lama dari kebanyakan bulan yang dimiliki orang-orang.</p>
<p>Para pencipta selalu berdiri lebih depan. Mereka membuat sesuatu yang bahkan orang kebanyakan belum membayangkannya. Sesuatu yang tidak ada mereka jadikan ada. Malam pergantian tahun yang tak beda dengan malam-malam lainnya itu mereka sulap menjadi sangat berbeda. Mereka bikin malam itu malam ratapan bagi mereka yang tak memujanya.</p>
<p>Para peserta pesta semalam, karenanya, pemungut saja. Mereka tinggal memetik hasilnya, menyaksikan kembang api menari-nari. Tontonan itu sudah jadi, tinggal mereka nikmati. Dan memang nikmat.</p>
<p>Bagi para kreator, tahun baru bisa dihadirkan kapan saja. Tahun baru bisa mereka dudukkan seturut penanggalan yang mereka rancang sendiri. Mungkin pada pertengahan tahun lalu, tahun baru ini sudah mereka masuki. Gambar pancaran kembang api sudah mereka tuangkan di layar gagasan. Tata letak panggung sudah mereka susun segagah mungkin. Para penyanyi, pembawa acara, dan sponsor telah mereka ikat saat itu. Gladi resik pun mereka gelar seawalnya.</p>
<p>Menilik potret itu, kita bisa membaca siapa sejatinya pemilik pesta-pesta itu. Adalah para perancang. Dalam kehidupan sehari-hari, para perancanglah yang berdiri paling depan. Karenanya, pada puncak acara, pesta itu semurninya untuk mereka. Mereka yang pantas menikmatinya.</p>
<p>Membandingkan itu, sungguh menggelikan ketika pada penghujung tahun masih ada yang ribut-ribut soal resolusi tahun baru. Terlambat! Mestinya resolusi diproklamasikan jauh-jauh hari seperti para perancang itu sehingga pada pergantian tahun tinggal mengerjakan. Jika tidak, resolusi baru didengungkan di malam pergantian tahun, bisa-bisa realisasinya di pertengahan tahun berikutnya. Sebab, saat mengumandangkan resolusi belum punya langkah konkret untuk melangkah. Baru girang mengucap lantang, tapi nihil aksi.</p>
<p>Lihat saja, mereka yang semalam histeris ingin ini-itu di tahun baru, saat ini sedang kelelahan karena begadang semalaman. Padahal, hari ini sudah tahun baru. Resolusi itu mestinya sudah dikerjakan. Menunda mengerjakan menyebabkan kesia-siaan pekikan semalam. Sementara itu, para perancang sudah berlari kencang terlebih dahulu. Bahkan, sebelum tahun lawas benar-benar berlalu, mereka telah melaju menyicil kerja tahun baru yang belum tiba. Begitu seterusnya sehingga tiap-tiap tahun menjadi tahun keberuntungan mereka. Para perancang, pencipta, inovator itu sukses karena beraksi jauh lebih cekatan sebelum orang kebanyakan bahkan memikirkannya.</p>
<p>Selamat bekerja.</p>
<p>Jogja, 1 Januari 2012</p>
<p>Salam hangat,</p>
<p><strong>AA Kunto A</strong></p>
<p>[<a href="http://www.aakuntoa.wordpress.com">http://www.aakuntoa.wordpress.com</a>; aakuntoa@solusiide.com]</p>
<br />Filed under: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/refleksi/'>refleksi</a> Tagged: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/pencipta/'>pencipta</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/perancang/'>perancang</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/resolusi/'>resolusi</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/tahun-baru/'>tahun baru</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aakuntoa.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aakuntoa.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aakuntoa.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aakuntoa.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aakuntoa.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aakuntoa.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aakuntoa.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aakuntoa.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aakuntoa.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aakuntoa.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aakuntoa.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aakuntoa.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aakuntoa.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aakuntoa.wordpress.com/592/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=592&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aakuntoa.wordpress.com/2012/01/01/tahun-baru-sudah-berbulan-bulan-lalu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4770bcffcec76f342446396cb0238701?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aakuntoa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2012/01/c41.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">c4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebakaran George-got!</title>
		<link>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/12/04/kebakaran-george-got/</link>
		<comments>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/12/04/kebakaran-george-got/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 01:25:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[george junus aditjondro]]></category>
		<category><![CDATA[GJA]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja Istimewa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aakuntoa.wordpress.com/?p=583</guid>
		<description><![CDATA[George Junus Aditjondro (GJA) jadi berita lagi. “George dituding melecehkan Keraton Yogyakarta,” bunyi headline Koran Tempo halaman Jawa Tengah &#38; Yogyakarta edisi Jumat, 2 Desember 2011. Atas tudingan itu, sekelompok orang yang menamakan diri Forum Masyarakat Yogyakarta melaporkan George ke Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta. Tubuh berita itu menjelaskan hal ikhwal pelaporan itu. Pada sebuah diskusi <a href="http://aakuntoa.wordpress.com/2011/12/04/kebakaran-george-got/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=583&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/12/sayangi-kera.jpg"><img class="alignleft  wp-image-584" title="Sayangi Kera" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/12/sayangi-kera.jpg?w=379&#038;h=253" alt="Sayangi Kera" width="379" height="253" /></a>George Junus Aditjondro (GJA)</strong> jadi berita lagi. “George dituding melecehkan Keraton Yogyakarta,” bunyi headline <em>Koran Tempo</em> halaman Jawa Tengah &amp; Yogyakarta edisi Jumat, 2 Desember 2011. Atas tudingan itu, sekelompok orang yang menamakan diri Forum Masyarakat Yogyakarta melaporkan George ke Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta.</p>
<p>Tubuh berita itu menjelaskan hal ikhwal pelaporan itu. Pada sebuah diskusi publik tentang Sultan Ground dan Pakualaman Ground di Fakultas Teknologi Pertanian, Rabu (30/11), George menyebutkan akronim keraton sebagai kera ditonton.</p>
<p>Selain melaporkan ke polisi, forum tersebut juga mengadukan George pada atasannya, Rektor Universitas Sanata Dharma, tempat George, masih mengutip koran tersebut, tercatat sebagai dosen Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya.</p>
<p>Di media jejaring sosial, George pun ramai jadi bahan gunjingan. Lebih-lebih ketika seorang aktivis menulis status di Facebook bahwa ia dan teman-temannya usai menggerudug rumah kontrakan George. Mendapati George tak di rumah, bunyi status tersebut, mereka menitipkan tiket bus Joglosemar jurusan Jogja-Semarang kepada ketua RT setempat. Mereka mengusir George dari Jogja!</p>
<p><em>Lucu tenan. Hooh, marai wetengku bangka. Guluku tengeng nyangka cangkem nyekakak. Gerrrrr&#8230;</em></p>
<p>Apa sebab saya tertawa? Sebab, lucu sekali. Hanya gara-gara <em>bedes</em>, <em>munyuk</em>, saja kok <em>mbanyaki</em>. <em>Bedes</em> adalah sebutan orang Jawa Timur untuk kera, sedang orang Jogja menamai saudara tuanya ini <em>munyuk</em>. <em>Banyak</em> adalah bahasa Jawa angsa/soang. <em>Mbanyaki</em> berarti panik seperti angsa. Bukankah mestinya kita menyayangi binatang, termasuk kera dan angsa?</p>
<p>Sebagai orang Jogja, saya tersinggung. Eits&#8230; eits&#8230; eits&#8230; kalau tersinggung berarti saya boleh mengusir orang yang membuat saya tersinggung? Lalu, teman orang yang saya usir itu tersinggung, gantilah saya diusir. Waduh, Jogja jadi kota usir-mengusir dunk&#8230; Padahal setau saya, hanya sopir andong yang boleh mengusir (Kalau nggak mudeng gojegan kere ini, jangan tersinggung ya).</p>
<p>Saya tidak membela George. Saya bukan teman George, walau pernah direpotkan oleh kejahilannya “menghilang dari peredaran” usai bikin heboh menerbitkan buku <em>Gurita Cikeas</em>, tahun lalu, saat saya masih bekerja di perusahaan yang menerbitkan bukunya itu. Meski tak terlibat dalam pengerjaan bukunya, termasuk menyunting sekali pun, saya mesti meladeni teman-teman media yang memburu pernyataannya. Obat penenang datang dari beberapa koleganya, “Dia biasa begitu. Bikin heboh, lalu menghilang.” Oh, saya pun tertawa masam. Saya memaklumi.</p>
<p>Saya juga tak membela keraton. Saya bukan kerabat Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman. Saya hanya warga Jogja kebanyakan, yang menghormati keraton sebagai alas dan payung kejogjaan saya. Lagipula, untuk apa keraton dibela? Di umurnya yang sudah sekian abad, keraton Jogja sudah terbukti mampu melewati banyak onak, baik busur kata maupun senjata baja. Dan onak beracun saja yang dihadapi.</p>
<p>Keraton Jogja itu entitas besar. Tak akan berkurang kebesarannya hanya oleh olok-olok George—tapi akan merosot kebesarannya kalau tidak menuntaskan kegusaran rakyat yang didiskusikan di forum itu. Tak perlu pula membela keraton secara berlebihan. Apalagi nama Jogja melekat di sini. Jogja itu bangsa besar, berhati besar. Sebaiknya tetap menggunakan cara-cara besar untuk menyelesaikan perkara, walau untuk perkara kecil ini.</p>
<p>Bukan dengan cara mengusir. Mengapa? Nanti bisa “salah kedaden”. Sebab, setahu saya, yang biasa mengusir itu aparat dinas kependudukan, untuk warga yang didapati tidak punya KTP. Atau kementerian luar negeri untuk warga asing yang tidak mengantongi dokumen resmi masuk ke negara kita—deportasi.</p>
<p>Santai saja, <em>dab</em>. Seperti waktu SBY datang ke Jogja jagong manten anak ragil Sultan HB X tempo hari, kita kan juga tidak <em>nggrudug</em> Gedung Agung dan mengusir sang presiden kan? Padahal, sikap SBY terhadap keistimewaan DIY, termasuk ucapan populernya soal “republik bukan monarkhi” kurang <em>nylekit</em> seperti apa? Hiks, toh SBY sendiri memilih bergaya raja, dengan pakaian adat Jogja, ketika mantu. <em>Ndagel matikel-tikel </em>to?</p>
<p>Menurut saya, sebaiknya hati rakyat Jogja tetap seluas samudera, sebagaimana Jogja berhalamankan Laut Selatan. Samudera itu menerima apa pun. Badai. Hujan. Lahar Merapi dan sampah-sampah rumah tangga yang mengalir lewat sungai-sungai. Juga ludah orang yang berenang di pantai. Samudera tetap legawa, tetap asin.</p>
<p>Maka, kita tidak perlu kebakaran George-got—maaf George, namamu kuplesetkan sebagai jenggot!</p>
<p>Selamat berhari Minggu. Everyday is Santai in Jogja&#8230;</p>
<p><strong>Jog-George-keraton, 4 Desember </strong></p>
<p><strong>AA Kunto A</strong></p>
<p><strong>[<a href="http://www.aakuntoa.wordpress.com">http://www.aakuntoa.wordpress.com</a>; aakuntoa@solusiide.com]</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Foto diambil dari <a href="http://www.delriomedia.com/questions/things-monkeys-like-not-white-people/">sini</a>.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/pemikiran/'>pemikiran</a> Tagged: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/george-junus-aditjondro/'>george junus aditjondro</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/gja/'>GJA</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/jogja-istimewa/'>Jogja Istimewa</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aakuntoa.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aakuntoa.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aakuntoa.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aakuntoa.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aakuntoa.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aakuntoa.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aakuntoa.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aakuntoa.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aakuntoa.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aakuntoa.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aakuntoa.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aakuntoa.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aakuntoa.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aakuntoa.wordpress.com/583/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=583&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/12/04/kebakaran-george-got/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4770bcffcec76f342446396cb0238701?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aakuntoa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/12/sayangi-kera.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sayangi Kera</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guru Samino</title>
		<link>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/11/25/guru-samino/</link>
		<comments>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/11/25/guru-samino/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 15:38:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Samino]]></category>
		<category><![CDATA[SMA Kolese de Britto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aakuntoa.wordpress.com/?p=573</guid>
		<description><![CDATA[Begitu ingat bahwa hari ini Hari Guru, saya bersegera menulis. Sebagian besar guru berkesan bagi saya. Kesan kagum, tentu saja. Kagum akan kesederhanaan mereka, kagum tentang keteguhan hati mereka, kagum akan kebijaksanaan mereka. Beberapa sudah saya tulis di blog ini. Dan saya tak pernah bosan untuk menulis tentang mereka. Guru, inspirasi yang tak pernah kering. <a href="http://aakuntoa.wordpress.com/2011/11/25/guru-samino/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=573&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_574" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/11/samino.jpg"><img class="size-full wp-image-574" title="Samino" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/11/samino.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Samino, Mister Yes! Yes, Berdikari! Foto: Kelik Broto</p></div>
<p>Begitu ingat bahwa hari ini Hari Guru, saya bersegera menulis. Sebagian besar guru berkesan bagi saya. Kesan kagum, tentu saja. Kagum akan kesederhanaan mereka, kagum tentang keteguhan hati mereka, kagum akan kebijaksanaan mereka. Beberapa sudah saya tulis di blog ini. Dan saya tak pernah bosan untuk menulis tentang mereka. Guru, inspirasi yang tak pernah kering.</p>
<p>Kali ini, saya ingin menulis tentang salah satu sosok guru yang fenomenal. Namanya <strong>Samino</strong>. Ia guru mata pelajaran Sejarah di SMA Kolese de Britto. Masih hidup, dan semoga panjang usia.</p>
<p><strong>Samino</strong> guru yang bersahaja. Penampilannya tipikal guru-guru sekolah pedesaan yang kerap ditayangkan televisi Jakarta: berbaju batik, kadang safari, celana kain, dan bersepeda motor &#8220;CB&#8221; (Honda). Rambut ikalnya mulai menipis. Botaknya makin melebar. Selebar itu ia hadir di hati saya, juga di hati teman-teman yang pernah diajarnya.</p>
<p>&#8220;Isih melu uwong, Le?&#8221; Masih bekerja ikut orang, Le? Ini pertanyaan latah yang kerap ia lontarkan jika kami bertandang di rumahnya, 1 km sebelah barat Candi Prambanan, Kalasan. Jika jawabannya &#8220;ya&#8221;, ia akan menghardik, &#8220;Isih dadi batur yen ngono?&#8221; Masih jadi pesuruh!</p>
<p>Di matanya, kartu nama kami, dengan embel-embel jabatan supervisor, manajer, bahkan direktur, tidaklah membuatnya kagum. Pamer apa pun di depannya tiada berguna. &#8220;Lehmu entuk duit seka ngendi kuwi?&#8221; cecarnya jika kami pamer gaji atau kekayaan. Selagi masih diperoleh dengan cara bekerja sebagai karyawan, di matanya nilai kami masih 6.</p>
<p>Bagi <strong>Samino</strong>, profil murid yang ia kagumi adalah mereka yang berani mandiri. Wiraswasta!</p>
<p>Pernyataannya sangat memerahkan kuping. Seolah, berprestasi sebaik apa pun jika masih jadi karyawan tiada berartilah prestasi itu. Padahal, banyak perusahaan menjadi besar karena kerja keras para karyawannya; banyak pemilik perusahaan yang bisa ongkang-ongkang sepanjang hari tanpa risau soal hidupnya.</p>
<p>Saya pun teringat pelajaran Sejarah yang dibawakannya. <strong>Samino</strong> bukan guru biasa. Ia tak mengajar seperti guru-guru yang mengejar jam tayang. Teks pelajaran yang termaktub di panduan pengajaran seolah ia abaikan. Ia nyaris tak pernah mengajar sambil membuka buku pelajaran, apalagi bertindak bodoh menyuruh salah satu murid menyalin isi buku ke papan tulis. <strong>Samino</strong> mengajar lewat bercerita. Ia mengajar secara kritis. &#8220;Mbok dinalar, Le. Masa Indonesia merdeka gara-gara bambu runcing. Apa iya dengan bambu runcing para pejuang bisa <em>ngogrok-ogrok</em> helikopter hingga jatuh?&#8221; ujarnya suatu ketika saat membicarakan soal perlawanan 10 November di Surabaya.</p>
<p>Lalu?</p>
<p>&#8220;Indonesia merdeka karena diplomasi,&#8221; tegasnya tanpa bermaksud meremehkan arti perjuangan fisik. <strong>Samino</strong> hanya ingin meluruskan sejarah versi penguasa yang terlalu mengagung-agungkan perjuangan bersenjata, perjuangan tentara, sebagai faktor utama kemerdekaan republik. Ia mengajak kami berpikir secara cermat, dan bersikap secara kritis.</p>
<p>Sayangnya, dalam hal tertentu, cara mengajar yang demikian merepotkan kolega dan sekolah. Bagaimana tidak. Menurut cerita seorang guru yang pernah menjabat sebagai salah seorang direksi, nilai mata pelajaran Sejarah beberapa siswa kerap tidak tuntas karena materi yang disampaikannya di kelas berbeda atau tidak selesai. Lucunya lagi, sebagai guru generasi &#8220;mesin ketik&#8221;, Samino juga enggan naik kelas untuk sekadar belajar komputer. Alhasil, nilai siswa yang semestinya langsung dimasukkan ke program komputer, olehnya hanya diketik manual dan diserahkan ke bagian tata usaha. Ia enggan menyesuaikan zaman.</p>
<p>Toh begitu, saya punya kesan khusus akan sikap dalam memaknai bekerja. Menjadi karyawan, jika kemudian hanya membawa kita menjadi babu, budak suruhan, betapa hinalah kita. Ia melihat, potret karyawan pada umumnya demikian, nyaris tidak memiliki kemandirian sebagai pribadi.</p>
<p>&#8220;Berdikarilah!&#8221; pintanya menirukan ajakan Bung Karno, tokoh Republik yang ia kagumi. Semasa Orde Lama, Republik memiliki harga diri tinggi di tengah pergaulan internasional. Bung Karno berdiri gagah sebagai pemimpin bangsa yang berdaulat. Ia berpidato lantang sebagai pemimpin rakyat yang disegani. Bung Karno menolak campur tangan asing untuk keberlangsungan hidup negerinya. Bung Karno berprinsip, walau miskin namun punya harga diri. Ia yakin, walau miskin, rakyatnya mau bekerja. Tanpa pamrih, untuk republik.</p>
<p>Prinsip itu pulalah yang ia lekatkan pada semangat berwirausaha. Pada siswa yang mau berdikari, membuka usaha sendiri, ia menemukan pribadi yang berharga. Walau siswa itu miskin karena kemandiriannya, ia melihat kemegahan. Sebab, bukan soal status sosial yang menentukan posisi sosial seseorang, melainkan cara orang tersebut memperjuangkan hiduplah yang membuatnya disemati status sosial tertentu.</p>
<p>Menoleh ke kanan dan ke kiri, saya menjumpai kegelisahan pada diri teman-teman yang sama-sama pernah menimba ilmu dari sang guru ini. Pada mereka, tumbuh semangat berdikari yang kuat. Saat bekerja sebagai karyawan, semangat itu kerap berbenturan dengan sistem yang sudah berjalan. Beberapa memilih menyiasati benturan itu, beberapa yang lain memilih meninggalkannya untuk benar-benar berdikari, bikin usaha sendiri, menciptakan pekerjaan sendiri.</p>
<p>Rasanya menggetarkan melihat teman-teman berani mengambil keputusan seperti itu. <em>Madeg dewe!</em> Terima kasih Guru.</p>
<p>Selamat Hari Guru!</p>
<p>Jogja, 25 November 2011</p>
<p><strong>AA Kunto A</strong></p>
<p>[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@solusiide.com]</p>
<p>Foto Samino pinjam dari <a href="http://www.google.co.id/imgres?q=samino+%2B+de+britto&amp;hl=id&amp;client=firefox-a&amp;hs=zqI&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;biw=1280&amp;bih=610&amp;tbm=isch&amp;tbnid=Xa-rwShzHfzC4M:&amp;imgrefurl=http://www.facebook.com/group.php%3Fgid%3D146879192689%26v%3Dwall&amp;docid=m23kVQDj7lqQgM&amp;imgurl=http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/50495_146879192689_3168457_n.jpg&amp;w=200&amp;h=290&amp;ei=vqvPTrOTLZHrrQeou8XGDA&amp;zoom=1&amp;iact=hc&amp;vpx=455&amp;vpy=176&amp;dur=1448&amp;hovh=232&amp;hovw=160&amp;tx=87&amp;ty=112&amp;sig=105272347547858420456&amp;page=1&amp;tbnh=134&amp;tbnw=91&amp;start=0&amp;ndsp=20&amp;ved=1t:429,r:15,s:0">sini</a>.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/refleksi/'>refleksi</a> Tagged: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/hari-guru/'>Hari Guru</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/samino/'>Samino</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/sma-kolese-de-britto/'>SMA Kolese de Britto</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aakuntoa.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aakuntoa.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aakuntoa.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aakuntoa.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aakuntoa.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aakuntoa.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aakuntoa.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aakuntoa.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aakuntoa.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aakuntoa.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aakuntoa.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aakuntoa.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aakuntoa.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aakuntoa.wordpress.com/573/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=573&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/11/25/guru-samino/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4770bcffcec76f342446396cb0238701?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aakuntoa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/11/samino.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Samino</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Romo Nio Pulang ke Surga</title>
		<link>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/10/03/romo-nio-pulang-ke-surga/</link>
		<comments>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/10/03/romo-nio-pulang-ke-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 08:51:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Antonius Devid Febriano]]></category>
		<category><![CDATA[Nio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aakuntoa.wordpress.com/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[In Memoriam: Antonius Devid Febriano WL (18 Februari 2008 &#8211; 27 September 2011) &#160; Nio, sahabat kecil saya, berpulang 7 hari lalu. Baru semalam saya menitikkan air mata. Bukan karena semata-mata sedih yang tersamar, melainkan haru bahagia. Bagaimana tidak, perayaan semalam dihadiri oleh teman-teman sekolah minggu Nio. Mereka penuh semangat bernyanyi untuk sahabatnya. &#8220;Give Thanks,&#8221; <a href="http://aakuntoa.wordpress.com/2011/10/03/romo-nio-pulang-ke-surga/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=566&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_567" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/10/romo-nio.jpg"><img class="size-medium wp-image-567" title="romo nio" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/10/romo-nio.jpg?w=300&#038;h=107" alt="" width="300" height="107" /></a><p class="wp-caption-text">Romo Nio, kanak-kanak yang bercita-cita jadi imam.</p></div>
<p>In Memoriam: <strong>Antonius Devid Febriano WL</strong> (18 Februari 2008 &#8211; 27 September 2011)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nio, sahabat kecil saya, berpulang 7 hari lalu. Baru semalam saya menitikkan air mata. Bukan karena semata-mata sedih yang tersamar, melainkan haru bahagia. Bagaimana tidak, perayaan semalam dihadiri oleh teman-teman sekolah minggu Nio. Mereka penuh semangat bernyanyi untuk sahabatnya. &#8220;Give Thanks,&#8221; lagu yang mereka bawakan.</p>
<p><em>Give thanks</em><em><br />
</em><em>with grateful heart </em><em><br />
</em><em>give thanks </em><em><br />
</em><em>to the holy one </em><em><br />
</em><em>give thanks </em><em><br />
</em><em>for He’s given </em><em><br />
</em><em>Jesus Christ, His Son </em><em></p>
<p></em><em>And now let the weak say </em><em><br />
</em><em>I am strong</em><em><br />
</em><em>let the poor say</em><em><br />
</em><em>I am rich</em><em><br />
</em><em>because of what</em><em><br />
</em><em>the Lord has done</em><em><br />
</em><em>for us </em><em></p>
<p></em><em>Give thanks&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_568" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/10/doa-sahabat.jpg"><img class="size-medium wp-image-568" title="doa sahabat" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/10/doa-sahabat.jpg?w=300&#038;h=149" alt="" width="300" height="149" /></a><p class="wp-caption-text">Teman-teman mendoakan Nio</p></div>
<p>Tak urung, mereka sesenggukan. Pecah tangis itu. Rupanya, kenangan bersama Nio sudah melekat dalam ingatan mereka. Maklum, dua hari sebelum meninggal, Nio masih sekolah minggu. Sehari sebelum meninggal, mengenakan seragam baru, Nio masih sekolah. Mungkin mereka terlibat dalam permainan seru hari-hari itu. Dan, paham bahwa kebersamaan itu tak mungkin lagi mereka rangkul, jebollah air mata mereka. Seluruh umat yang hadir pun tak kuasa berpura-pura tegar. Sekonyong-konyong, dari depan sampai belakang terdengar suara hidung sedang beradu gesit mengendalikan ingus. Senyap, selain nyanyian yang terbata-bata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_569" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/10/diantar-teman-sekolah.jpg"><img class="size-medium wp-image-569" title="diantar teman sekolah" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/10/diantar-teman-sekolah.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Teman-teman sekolah mengantar Nio ke makam</p></div>
<p>Ternyata Nio begitu mengesan bagi teman-temannya. Mungkin karena Nio paling muda di antara mereka, belum 4 tahun. Mungkin karena tubuh Nio yang super gemuk. Mungkin karena omongan Nio yang cadel dan tak mudah dimengerti. Mungkin karena Nio yang lucu, yang jika capek bersekolah tidak mengamuk melainkan pamit gurunya untuk undur diri. Ia masih 3 tahun 7 bulan ketika ratusan teman satu sekolahnya berjalan kaki mengucapkan salam perpisahan di Senin siang itu, 27 September 2011.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nio ingin menjadi imam, terinspirasi Om Romo Mali CSsR, sahabat keluarganya. Tempo hari, saat kami mengajaknya berjalan-jalan ke Show Room Penerbit Kanisius, ia antusias sekali mengenakan jubah+kasula ukuran anak-anak. Seperti adatnya bersama teman-teman di gereja, ia pun luwes memeragakan bagaimana memimpin ekaristi. Aku memotretnya untuk banyak adegan yang dengan suka cita ia lakonkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lemah jantung menjadi lantaran baginya pulang ke surga sebelum ia benar-benar jadi romo. Ah, tak mengapa, toh ia sudah pernah jadi romo dalam rekaman lensa. Berangkat ke surga, ia mengenakan baju batik, baru kelar dijahit, untuk merayakan Natal nanti sejatinya. Berkudung blangkon, cah Jawa berbapak Ambon ini memahkotai diri menuju surga, menyusul Eyang Kakung Antonius Sumawardi yang telah berangkat 150 hari lalu, juga mengejar Lamafa Beding, kakak sepupunya, yang 100 hari lalu juga kembali ke alam baka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nio seperti tahu akan hari kepergiannya. Sehari sebelum wafat, ia bilang ke Mama dan Uti-nya, &#8220;Besok, Papa Ona, Mama Ni, dan Om Unto ke sini, antar Nio ke makam sewu naik Bembem trus alan-alan.&#8221; Papa Ona dan Mama Ni adalah pakde-budenya. Unto adalah saya. Bembem adalah sebutannya untuk mobil, mungkin merujuk pada suara kendaraan roda empat itu. Keluarga mengira bahwa keinginannya ke makam sewu adalah untuk tabur bunga di pusara kakek-kakaknya. Ternyata, Bembem yang mengantarnya adalah ambulans jenazah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keluarga pun tak berfirasat ketika sepuluh hari belakangan Nio gandrung banget menyanyikan refrain lagu ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Dia kubangkitkan</em></p>
<p><em>Dia kubangkitkan</em></p>
<p><em>Dia kubangkitkan&#8230; di akhir zaman&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nio, ternyata kamu yang bangkit. Ke surgalah Nak. Maafkan Om Kunto atas utang janji mengantarmu ke Alun-Alun Kidul naik Bembem kayuh kerlap-kerlip. Pasti ada Bembem yang lebih meriah di arwana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yogyakarta, 3 Oktober 2011</p>
<p>AA Kunto A [http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]</p>
<br />Filed under: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/mati/'>mati</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/refleksi/'>refleksi</a> Tagged: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/antonius-devid-febriano/'>Antonius Devid Febriano</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/nio/'>Nio</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aakuntoa.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aakuntoa.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aakuntoa.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aakuntoa.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aakuntoa.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aakuntoa.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aakuntoa.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aakuntoa.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aakuntoa.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aakuntoa.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aakuntoa.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aakuntoa.wordpress.com/566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aakuntoa.wordpress.com/566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aakuntoa.wordpress.com/566/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=566&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/10/03/romo-nio-pulang-ke-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4770bcffcec76f342446396cb0238701?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aakuntoa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/10/romo-nio.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">romo nio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/10/doa-sahabat.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">doa sahabat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/10/diantar-teman-sekolah.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">diantar teman sekolah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sedekah untuk Mas Trubus</title>
		<link>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/09/20/sedekah-untuk-mas-trubus/</link>
		<comments>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/09/20/sedekah-untuk-mas-trubus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 09:59:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[operasi tulang belakang]]></category>
		<category><![CDATA[saptuari]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[trubus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aakuntoa.wordpress.com/?p=553</guid>
		<description><![CDATA[Siang ini saya kembali menengok Mas Trubus, tetangga saya yang Senin (19 September 2011) pukul 14.00-20.00 wib kemarin menjalani operasi tulang belakang di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Ada amanah yang harus segera saya sampaikan. Satu amplop sedekah kiriman Mas Saptuari, bos Kedai Digital. Seorang pembaca blognya menitipkan uang untuk meringankan beban Mas Trubus. Tempo <a href="http://aakuntoa.wordpress.com/2011/09/20/sedekah-untuk-mas-trubus/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=553&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/image035.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-554" title="Image035" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/image035.jpg?w=300&#038;h=225" alt="sedekah dari hamba Allah" width="300" height="225" /></a>Siang ini saya kembali menengok <strong>Mas Trubus</strong>, tetangga saya yang Senin (19 September 2011) pukul 14.00-20.00 wib kemarin menjalani operasi tulang belakang di <strong>Rumah Sakit Panti Rapih</strong> Yogyakarta. Ada amanah yang harus segera saya sampaikan. Satu amplop sedekah kiriman <strong>Mas Saptuari</strong>, bos <strong>Kedai Digital</strong>. Seorang pembaca <a href="http://saptuari.blogspot.com/">blognya</a> menitipkan uang untuk meringankan beban <strong>Mas Trubus</strong>.</p>
<p>Tempo hari saya memang mengirimkan email kepada <strong>Mas Saptu</strong> supaya membantu saya mencarikan saudara yang berkenan menyumbangkan dana untuk operasi <strong>Mas Trubus</strong>. Saya juga mengirim surat senada kepada beberapa sahabat. Tak satu pun surat saya ajukan kepada <strong>Presiden Susilo Bambang Yudhoyono</strong>, alih-alih, pemerintah. Juga, saya tak berkirim surat kepada calon walikota Yogyakarta supaya tak ada yang berebut sorot kamera mengulurkan bantuan demi mendongkrak popularitas.</p>
<p>Hari ini sebuah jawaban datang. Saya bergegas meneruskan jawaban itu kepada keluarga <strong>Mas Trubus</strong>.</p>
<p>Siapakah <strong>Mas Trubus</strong>?</p>
<div id="attachment_555" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/image056.jpg"><img class="size-medium wp-image-555" title="Image056" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/image056.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">darah kehidupan ini semoga menyegarkannya kembali</p></div>
<p>Dia tetangga saya. Beda RT, satu RW. Namanya hanya <strong>Trubus</strong>. Tidak ada nama panjangnya. Usianya 50 tahun. Pekerjaan sehari-hari tukang batu. Tak hanya itu. Senyatanya, ia mau mengerjakan apa saja yang ditugaskan padanya. Seperti Jumat, 16 September 2011 lalu. Usai Shalat Jumat, ia diminta “nutuh” (memangkas) sebuah pohon di halaman <strong>Masjid Al Muhajirin</strong>, Perum Pamungkas, Jl Kaliurang Km 14. Tak seorang diri, ia mengajak Mas Jiman, tetangganya, untuk membantu. Mas Jiman mengawasi di bawah, <strong>Mas Trubus</strong> memanjat.</p>
<p>Dengan tangga ia memanjat. Satu dahan sudah berhasil ia gergaji ketika beralih ke dahan lain. Menurut pengakuannya, saat memangkas dahan kedua itu sekonyong-konyong ada angin kencang. Badannya yang kecil terayun bersama dahan. Naas, dahan itu patah. Getas rupanya. Ia terhempas dari ketinggian 4 meter di permukaan cor semen.</p>
<p>Oleh takmir masjid setempat, <strong>Mas Trubus</strong> dibawa ke seorang tukang pijit di Jalan Magelang. Kata tukang pijit itu, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, mengingat vitalnya tulang belakang, tetangga-tetangga yang menyambut di rumah usai pemijatan mengusung Mas Trubus ke <strong>RS Panti Nugroho</strong>, Pakem, untuk <em>rontgen</em>. Hasilnya, ada satu ruas tulang belakangnya yang patah. Satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah operasi. Jika tidak, kelumpuhan mengancam.</p>
<p>Mas Trubus dirujuk ke<strong> RS Panti Rapih</strong>, Sabtu sore, setelah menyetujui tindakan medis yang akan dilakukan. Satu-satunya hal yang memberatkannya adalah besarnya biaya operasi sebesar Rp 17,5 juta, belum termasuk pengobatan usai operasi. Sebagai buruh harian lepas, dari mana ia bisa memperoleh uang sebanyak itu? Asuransi kesehatan (jamkesmas) yang mestinya ia miliki pun tiada. Dan ternyata, di kampung, beberapa warga miskin lain tak memiliki jamkesmas yang meringankan mereka saat sakit. Entah kelalaian atau kesengajaan, warga miskin itu terabaikan. Kasus ini menjadi cermin dari potret negara yang gagal menjamin hak kesehatan warganya.</p>
<p>Syukurlah, di mata kami, tetangga-tetangganya, deposito kebaikan <strong>Mas Trubus</strong> begitu melimpah. Selain tekun, hasil pekerjaan selalu bagus, tak pernah “nembung” bayaran, ia juga jujur. Jika bekerja, ia selalu melebihi kewajibannya. Datang pagi sekali, pulang menjelang maghrib. Jika belum tuntas, ia tak segan kembali ke tempat kerja usai menunaikan shalat.</p>
<p><strong>Mas Trubus</strong> juga “gemi”. Sepersetujuan tuan rumah yang mempekerjakannya, barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai dibawanya pulang. Keramik cuil, closet bopeng, genting pecah, dirawatnya, dipakai ulang. Ia membangun sendiri rumahnya dari material-material yang terbuang. Mengingatkan kita pada sosok <strong>Romo Mangun</strong>, yang menyulap barang bekas menjadi bangunan berkelas.</p>
<div id="attachment_556" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/image058.jpg"><img class="size-medium wp-image-556" title="Image058" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/image058.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mbak Wasi dan suaminya, Mas Trubus, menerima amanah dari hamba Allah</p></div>
<p>“Sing penting mari!” begitu kami mendorongnya untuk maju operasi. Soal biaya, bisa dicari. Ya, sekarang kami sedang mencarikan. Pertama-tama dari kantong kami sendiri. Selanjutnya mengetuk hati sedulur-sedulur. Takmir dan jamaah Masjid Muhajirin sangat baik, mereka pun sanggup membantu. Beberapa “klien” yang rumahnya pernah digarap <strong>Mas Trubus</strong> pun mengabarkan akan urun biaya.</p>
<p>Dari kantong kami sendiri? Hmmm, Allah sedang mencintai kami dengan cara yang luar biasa. Dalam beberapa bulan ini silih-berganti warga kami masuk rumah sakit dengan sakit yang tak tergolong ringan. Kami yang sebagian besar adalah petani penggarap ladang pun sedang diberi rejeki seret panen karena sawah yang kering kerontang. Syukurlah, kerukunan menyatukan kami untuk tidak berputus asa. Satu kaki sakit, kaki lain menopang.</p>
<p>Saat ini <strong>Mas Trubu</strong>s dirawat di <strong>Bangsal Elisabeth 115B Rumah Sakit Panti Rapih</strong> Yogyakarta. Untuk Anda yang terketuk hati hendak turut bersedekah, silakan langsung menemui keluarga di sana.</p>
<p>Yogyakarta, 20 September 2011</p>
<p>Salam hangat,</p>
<p><strong>AA Kunto A</strong></p>
<p>[<a href="http://www.aakuntoa.wordpress.com">http://www.aakuntoa.wordpress.com</a>; aakuntoa@gmail.com]</p>
<br />Filed under: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/keluarga/'>keluarga</a> Tagged: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/operasi-tulang-belakang/'>operasi tulang belakang</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/saptuari/'>saptuari</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/sedekah/'>sedekah</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/trubus/'>trubus</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aakuntoa.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aakuntoa.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aakuntoa.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aakuntoa.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aakuntoa.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aakuntoa.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aakuntoa.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aakuntoa.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aakuntoa.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aakuntoa.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aakuntoa.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aakuntoa.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aakuntoa.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aakuntoa.wordpress.com/553/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=553&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/09/20/sedekah-untuk-mas-trubus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4770bcffcec76f342446396cb0238701?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aakuntoa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/image035.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Image035</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/image056.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Image056</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/image058.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Image058</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada yang Beda, Hati Kita</title>
		<link>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/09/06/ada-yang-beda-hati-kita/</link>
		<comments>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/09/06/ada-yang-beda-hati-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 08:40:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[lahar dingin Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[syawalan]]></category>
		<category><![CDATA[trah pawirodikromo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aakuntoa.wordpress.com/?p=540</guid>
		<description><![CDATA[Begitu-begitu saja. Datang, mengisi buku tamu, bersalaman dengan penerima tamu, makan, duduk, ngobrol, mendengarkan sambutan dan petatah-petitih, sungkem, lalu pulang. Sedari saya kecil, acara syawalan Trah Pawirodikromo nyaris tak pernah berubah. Formal, datar, menjenuhkan. Kok saya tetap mau datang? Bagi saya, menjenuhkan atau tidak itu bergantung pada cara pandang dan cara menerima. Jika hati kita <a href="http://aakuntoa.wordpress.com/2011/09/06/ada-yang-beda-hati-kita/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=540&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_543" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/mulyowiyono-kismorejo.jpg"><img src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/mulyowiyono-kismorejo.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" title="Mulyowiyono-Kismorejo" width="300" height="199" class="size-medium wp-image-543" /></a><p class="wp-caption-text">Mbah Mulyowiyono dan Mbah Kismorejo, kakak beradik</p></div>
<p>Begitu-begitu saja. Datang, mengisi buku tamu, bersalaman dengan penerima tamu, makan, duduk, ngobrol, mendengarkan sambutan dan petatah-petitih, sungkem, lalu pulang. Sedari saya kecil, acara syawalan <a href="http://aakuntoa.wordpress.com/2009/09/28/syawalan-trah-pawirodkromo-kumendung/">Trah Pawirodikromo</a> nyaris tak pernah berubah. Formal, datar, menjenuhkan.</p>
<p>Kok saya tetap mau datang? Bagi saya, menjenuhkan atau tidak itu bergantung pada cara pandang dan cara menerima. Jika hati kita tidak sedang longgar, apa pun terasa hambar. Sebaliknya, jika sedang berbunga-bunga, tai kucing pun berasa coklat, begitu ungkapan ngawur yang populer itu.</p>
<p>Apakah saya sedang berbunga-bunga? Tidak juga. Sedang suntuk malah. Musim kemarau bukan saja telah menggersangkan pekarangan, namun juga turut menyedot sumber-sumber penghasilan. Zaman sedang susah. Saya tak kurang susah. Usaha belum berjalan seperti yang saya inginkan. Tahap merintis rupanya perlu saya lakoni jatuhnya. Bangunnya? Saya berusaha untuk mampu melakukannya.</p>
<p>Nyatanya, kita tak pernah sendiri di dunia ini. Baik gembira maupun susah, selalu ada orang lain yang juga gembira dan susah. Ada yang takarannya sama persis, ada yang kurang sedikit, namun banyak juga yang dosisnya lebih tinggi.</p>
<div id="attachment_545" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/kotak-sumbangan.jpg"><img src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/kotak-sumbangan.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" title="kotak sumbangan" width="300" height="199" class="size-medium wp-image-545" /></a><p class="wp-caption-text">Ada saudara kita yang lebih membutuhkan</p></div>
<p>Seperti siang itu, Rabu, 31 Agustus 2011, tanggal merah kedua libur lebaran, hari pertama lebaran versi pemerintah, nubuat itu tergenapi. Ketika saya merasa susah, nyatanya ada yang lebih susah. Susah saya pun tidak lagi berguna.</p>
<p>&#8220;Bapak-Ibu sekalian, kami akan membagikan kotak sumbangan. Ada 2 saudara kita yang rumahnya tertimbun material erupsi Merapi. Sampai sekarang mereka belum punya rumah, masih tinggal di shelter,&#8221; Pak Santoso, paman saya, yang membawakan acara, menyampaikan pengumuman itu sesaat sebelum kami sungkem ke simbah-simbah. Aura duka merebak. Apalagi, tempat kami berhimpun tak jauh dari Sungai Gendol, salah satu sungai terparah yang dialiri lahar dingin.</p>
<p>Saya tidak punya uang banyak. Sudah 2 lebaran saya tidak menerima THR sejak saya memutuskan berwirausaha tahun lalu. Saya justru punya kewajiban memberi THR untuk karyawan.</p>
<p>Meski tak banyak, sudah berulangkali saya ikut serta dalam acara penggalangan dana untuk korban Merapi. Saya selalu ikut menyumbang. Ah, jumawa amat, batin saya. Menyumbang tak seberapa, besar kepalanya tak kira-kira. Ampun!</p>
<p>Saya tertegun. Faktanya, masih ada saudara yang belum punya rumah. Mereka masih berkesusahan. Tak punya rumah, tak boleh kembali ke kampung asal, kehilangan mata pencaharian, entah sampai kapan mereka wajib tinggal di barak pengungsian. Dan, mereka masih saudara saya!</p>
<p>Ternyata saya tak sesusah mereka. Meski masih nebeng di rumah orangtua, toh saya tinggal di rumah sendiri. Saya masih minum dari sumur sendiri, makan salah memetik di kebun sendiri, dan mengunduh sirsak dari pohon sendiri.</p>
<p>Meski susah karena lagi bokek, toh saya masih bisa bekerja, masih bisa menjalankan usaha, masih punya kesempatan mencari uang.</p>
<p>Mungkin, apa yang saya rasakan juga dirasakan saudara-saudara yang hadir pada syawalan trah siang itu. Mereka merogoh tas dan dompet lalu menyemplungkan sejumlah rupiah. Sejumlah saudara yang sejatinya juga korban pun tampak turut menyumbang.</p>
<p>Hasilnya tak besar, tak sebanyak nominal yang terpajang di layar MetroTV dan TV One, namun rasa kebersamaan begitu terasa. Syawalan trah kali ini beda.</p>
<p>Salam hangat,<br />
<strong>AA Kunto A</strong><br />
[<a href="http://www.aakuntoa.wordpress.com">http://www.aakuntoa.wordpress.com</a>; aakuntoa@gmail.com]  </p>
<br />Filed under: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/keluarga/'>keluarga</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/refleksi/'>refleksi</a> Tagged: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/lahar-dingin-merapi/'>lahar dingin Merapi</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/syawalan/'>syawalan</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/trah-pawirodikromo/'>trah pawirodikromo</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aakuntoa.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aakuntoa.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aakuntoa.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aakuntoa.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aakuntoa.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aakuntoa.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aakuntoa.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aakuntoa.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aakuntoa.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aakuntoa.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aakuntoa.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aakuntoa.wordpress.com/540/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aakuntoa.wordpress.com/540/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aakuntoa.wordpress.com/540/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=540&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/09/06/ada-yang-beda-hati-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4770bcffcec76f342446396cb0238701?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aakuntoa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/mulyowiyono-kismorejo.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Mulyowiyono-Kismorejo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/09/kotak-sumbangan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kotak sumbangan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mudik, Cium Keringat Ibu</title>
		<link>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/26/mudik-cium-keringat-ibu/</link>
		<comments>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/26/mudik-cium-keringat-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 04:46:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aakuntoa.wordpress.com/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Aku ingin pulang padamu Lamalera Kampung asalku di tepi samudra O o ooooo Biar naik berok Dari Larantuka kota Reinha Mama Sawu jangan marah Bawa aku sampai selamat Reff ooooo O Lefo Lamalera Piring Matahari O Lefo Lamalera Anak sayang Ina Lefa Aku rindu Mamaku Dengan kara di atas kepala Jalan di pagi buta ke <a href="http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/26/mudik-cium-keringat-ibu/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=522&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_525" class="wp-caption alignleft" style="width: 268px"><a href="http://amorfosahati.wordpress.com/2010/12/09/filosofi-sampan-dan-pendayungnya-hsy/"><img class="size-medium wp-image-525 " title="sampan11" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/sampan11.jpg?w=258&#038;h=388" alt="" width="258" height="388" /></a><p class="wp-caption-text">ooo berok kecil e, jalan cepat mau cium Mama e</p></div>
<p style="padding-left:30px;"><em>Aku ingin pulang padamu Lamalera</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Kampung asalku di tepi samudra</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>O o ooooo</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Biar naik berok</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Dari Larantuka kota Reinha</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Mama Sawu jangan marah</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Bawa aku sampai selamat</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><strong><em>Reff</em></strong></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>ooooo</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>O Lefo Lamalera</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Piring Matahari</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>O Lefo Lamalera</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Anak sayang Ina Lefa</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Aku rindu Mamaku</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Dengan kara di atas kepala</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Jalan di pagi buta ke pasar Wulandoni</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>O berok kecil e</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Jalan cepat mau peluk mama e</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>O berok kecil e</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Jalan cepat mau cium mama e</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Ingin kulihat lagi</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Lamafa ke tengah lautan</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Mengambil kiriman Tuhan</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>koteklema yang kami tunggu-tunggu</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Reff</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>O Lefo Lamalera</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Piring Matahari</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>O Lefo Lamalera</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Anak sayang Ina Lefa</em></p>
<p>Mengapa orang rela berjejal-jejal naik kapal?</p>
<p>Mengapa anak-anak dibiarkan meronta-ronta saat mengantri naik kereta?</p>
<p>Mengapa mereka bersuka-cita menyusur pantura, menunggang sepeda motor kreditan, berbasuh debu, bersahabat dengan lelah dan maut, setiap lebaran tiba?</p>
<p>Mengapa mudik? Kembali ke udik?</p>
<p>Apa yang mereka rindukan dari tanah udik? Tidakkah hidup mereka di rantau telah bermandikan cahaya, sementara tanah udik tanah udik miskin papa? Tidakkah tanah rantau telah memanjakan mereka menggelimangi benda-benda, sementara tanah udik masih bergelimang bebatuan?</p>
<p>Rupanya, ada kegalauan yang hanya bisa ditebus di tanah udik. Haus akan masa kecil yang bersahaja &#8211;huh, yang sengsara. Haus akan masa muda yang otentik &#8211;huh, yang lugu. Tanah udik, yang tertinggal di belakang peradaban itu ternyata menyimpan deposito rasa yang hanya bisa diambil saat jatuh tempo. Bau tanahnya beda dengan bau beton. Bau keringat Ibu tak terganti bau parfum.</p>
<p>Tanah udik, kaya sejuta rasa, kering yang melunasi dahaga. Mereka perlu pulang supaya hidup mereka di rantau kembali berkilau.</p>
<p>Salam udik,</p>
<p><strong>AA Kunto A</strong></p>
<p>[<a href="http://www.aakuntoa.wordpress.com">http://www.aakuntoa.wordpress.com</a>; aakuntoa@gmail.com]</p>
<p>Keterangan:</p>
<div id="attachment_526" class="wp-caption alignleft" style="width: 144px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/ivan-nestorman.jpg"><img class="size-medium wp-image-526" title="ivan nestorman" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/ivan-nestorman.jpg?w=134&#038;h=224" alt="" width="134" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Ivan Nestorman, bermusik menduniakan kampung Flores</p></div>
<p>1. Lagu &#8220;Aku ingin pulang&#8221; di atas diciptakan dan dinyanyikan oleh <a href="http://the-marketeers.com/archives/petikan-gitar-ivan-nestorman-langsung-dari-studio-new-wave-radio.html"><strong>Ivan Nestorman</strong></a>, musisi asal Manggarai, Flores, yang tinggal di pinggiran Kali Malang, Jakarta Timur. Sedang dalam proses rekaman, dan akan disertakan dalam buku tentang Lamalera yang akan segera diterbitkan.</p>
<p>2. Lamalera adalah kampung (<em>lefo</em>) nelayan di ujung timur Flores. Perlu menyeberang laut Sawu dari Larantuka ke Reinha, menumpang perahu (<em>berok</em>) untuk menjangkau kampung berbendera merah-putih yang belum terjangkau listrik dan sinyal telepon selular itu. Kampung ini terkenal dengan tradisi penangkapan ikan paus (<em>koteklema</em>) yang dipimpin oleh seorang <em>lamafa</em>. Wulandoni adalah nama pasar tradisional yang masih mempertahankan pertukaran barang dengan barang (barter) dalam bertransaksi.</p>
<p>Gambar sampan dipinjam dari <a href="http://www.google.co.id/imgres?q=sampan&amp;hl=id&amp;client=firefox-a&amp;hs=f0T&amp;sa=G&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;biw=1024&amp;bih=578&amp;tbm=isch&amp;tbnid=DAI5RfWBgidD4M:&amp;imgrefurl=http://amorfosahati.wordpress.com/2010/12/09/filosofi-sampan-dan-pendayungnya-hsy/&amp;docid=X_mYbcCT0njUfM&amp;w=333&amp;h=500&amp;ei=AhxXTvLNOIvJrQfrkeXGCg&amp;zoom=1&amp;iact=rc&amp;dur=529&amp;page=1&amp;tbnh=122&amp;tbnw=81&amp;start=0&amp;ndsp=15&amp;ved=1t:429,r:10,s:0&amp;tx=53&amp;ty=28">sini</a>.</p>
<p>Gambar Ivan Nestorman dicuplik dari <a href="http://www.dwiki.com/wp-content/uploads/2008/03/08ivan-nestorman_web.jpg">sini</a>.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/refleksi/'>refleksi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aakuntoa.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aakuntoa.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aakuntoa.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aakuntoa.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aakuntoa.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aakuntoa.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aakuntoa.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aakuntoa.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aakuntoa.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aakuntoa.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aakuntoa.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aakuntoa.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aakuntoa.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aakuntoa.wordpress.com/522/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=522&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/26/mudik-cium-keringat-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4770bcffcec76f342446396cb0238701?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aakuntoa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/sampan11.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">sampan11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/ivan-nestorman.jpg?w=179" medium="image">
			<media:title type="html">ivan nestorman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sungkem, Caos Sembah Pangabekti</title>
		<link>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/26/sungkem-caos-sembah-pangabekti/</link>
		<comments>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/26/sungkem-caos-sembah-pangabekti/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 03:53:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[sungkem]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aakuntoa.wordpress.com/?p=515</guid>
		<description><![CDATA[Lebaran identik dengan tradisi sungkem. Usai shalat Ied, yang muda sowan kepada yang wreda, yang murid sowan kepada yang guru. Datang membungkuk, melangkah sambil berjongkok, atur sembah lalu bersimpuh di lutut, untaian kata-kata mengalir dari bibir. Usai itu, yang disowani ganti bicara. Kedua tangan ditumpangkan di bahu yang sowan bersimpuh. Lalu peluk-cium. Lega. Apa isi <a href="http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/26/sungkem-caos-sembah-pangabekti/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=515&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_516" class="wp-caption alignleft" style="width: 295px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/sungkem.jpg"><img class="size-full wp-image-516" title="sungkem" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/sungkem.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">kaleburna ing dinten riyadi punika</p></div>
<p>Lebaran identik dengan tradisi sungkem. Usai shalat Ied, yang muda sowan kepada yang wreda, yang murid sowan kepada yang guru. Datang membungkuk, melangkah sambil berjongkok, atur sembah lalu bersimpuh di lutut, untaian kata-kata mengalir dari bibir.</p>
<p>Usai itu, yang disowani ganti bicara. Kedua tangan ditumpangkan di bahu yang sowan bersimpuh. Lalu peluk-cium. Lega.</p>
<p>Apa isi adegan itu? Sekadar meminta maafkah? Sekadar memberi maafkah?</p>
<p>Dalam tradisi Jawa, dialog yang bertukaran di peristiwa sakral itu berbunyi demikian:</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Kula sowan wonten ing ngarsanipun Ibu</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Sepisan, caos sembah pangabekti</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>mugi katur ing ngarsanipun Ibu</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Ongko kalih, mbok bilih wonten klenta-klentunipun </em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>atur kula saklimah</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>tuwin lampah kula satindak</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>ingkang kula jarag lan mboten kula jarag</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>ingkang mboten ndadosaken sarjuning panggalih</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Mugi Ibu kersa maringi gunging</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>samodra pangaksami</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Kula suwun kaleburna ing dinten riyadi punika</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Lan ingkeng putra nyuwun</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>berkah saha pangestu</em></p>
<p>Saya datang menghadap Ibu</p>
<p>Pertama, menghaturkan sembah sujud</p>
<p>semoga diterima Ibu</p>
<p>Kedua, apabila ada kekeliruan</p>
<p>ungkapan saya sepatah</p>
<p>serta tindakan saya selangkah</p>
<p>yang saya sengaja maupun tidak saya sengaja</p>
<p>Yang tidak berkenan di pikiran dan perasaan</p>
<p>Semoga Ibu mau memberi maaf</p>
<p>sedalam, laksana samudera</p>
<p>Saya berharap lebur di hari raya ini</p>
<p>Dan saya mohon doa restu</p>
<p style="padding-left:30px;">Sejurus kemudian, yang disungkemi akan membalas lembut. Biasanya sambil membungkuk-merengkuh:</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Semono uga aku, wong tuwa</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>uga akeh klera-klerune</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Kowe uga ngagungna pangapura</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Ora luwih, kowe bisaa</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>kabul kang dadi ancas</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>lan dadi gegayuhanmu</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Ora luwih, aku wong tuwa</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>mung bisa ndedonga marang Pangeran</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Iya, kowe dak pangestoni</em></p>
<p>Demikian pula aku, orangtua</p>
<p>juga banyak kekeliruan</p>
<p>Kuminta kamu memaafkan</p>
<p>sedalam, laksana samudera</p>
<p>Tidak lebih, semoga kamu dapat</p>
<p>terkabul apa yang menjadi hasrat</p>
<p>dan menjadi harapanmu</p>
<p>Tidak lebih, aku orangtua</p>
<p>hanya bisa mendoakan pada Tuhan</p>
<p>Ya, kamu kurestui</p>
<p>Sebelum meminta maaf, memberi hormat. Sesudah meminta maaf, memohon berkat. Betapa indah Idul Fitri.</p>
<p>Salam hangat,</p>
<p><strong>AA Kunto A</strong></p>
<p>[<a href="http://www.aakuntoa.wordpress.com">http://www.aakuntoa.wordpress.com</a>; aakuntoa@gmail.com]</p>
<p>Gambar sungkem dipinjam dari <a href="http://littleyellowbirdfly.blogspot.com/2010/12/salah-satu-topik-menarik-untuk-dibahas.html">sini</a>.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/keluarga/'>keluarga</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/refleksi/'>refleksi</a> Tagged: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/idul-fitri/'>idul fitri</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/sungkem/'>sungkem</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/tradisi-jawa/'>tradisi jawa</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aakuntoa.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aakuntoa.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aakuntoa.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aakuntoa.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aakuntoa.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aakuntoa.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aakuntoa.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aakuntoa.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aakuntoa.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aakuntoa.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aakuntoa.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aakuntoa.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aakuntoa.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aakuntoa.wordpress.com/515/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=515&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/26/sungkem-caos-sembah-pangabekti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4770bcffcec76f342446396cb0238701?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aakuntoa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/sungkem.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sungkem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perkara Jawa-Cina</title>
		<link>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/24/perkara-jawa-cina/</link>
		<comments>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/24/perkara-jawa-cina/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 17:15:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[Cina]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Perbedaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aakuntoa.wordpress.com/?p=511</guid>
		<description><![CDATA[Soal identitas Jawa-Cina kembali diperkarakan Donny Verdian di blog-nya. Entah gerangan apa yang menyulutnya mendudah bincangan lawas ini. Saya tak menemukan pemantik selain bahwa tulisan tersebut dihidangkan untuk bingkisan ulang tahun ke-63 almamaternya, SMA Kolese de Britto, yang juga almamater saya, yang belakangan sedang berkubang dalam sekam pertikaian. Saya usai membaca kembali Pengakuan Pariyem karya <a href="http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/24/perkara-jawa-cina/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=511&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_533" class="wp-caption alignleft" style="width: 325px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/sampek-engy.jpg"><img class="size-full wp-image-533" title="SAMPEK-ENGY" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/sampek-engy.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">jawa-cina, karya agung</p></div>
<p>Soal identitas Jawa-Cina kembali diperkarakan Donny Verdian di <a title="Perkara Jawa-Cina itu" href="http://http://donnyverdian.net/2011/08/22/jawa-cina-so-what.html" target="_blank">blog</a>-nya. Entah gerangan apa yang menyulutnya mendudah bincangan lawas ini. Saya tak menemukan pemantik selain bahwa tulisan tersebut dihidangkan untuk bingkisan ulang tahun ke-63 almamaternya, <a href="http://www.debritto.net">SMA Kolese de Britto</a>, yang juga almamater saya, yang belakangan sedang berkubang dalam sekam pertikaian.</p>
<div id="attachment_536" class="wp-caption alignleft" style="width: 216px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/pariyem.jpg"><img class="size-full wp-image-536" title="pariyem" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/pariyem.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">saya bocah gunung, melarat pula</p></div>
<p>Saya usai membaca kembali <em>Pengakuan Pariyem</em> karya <strong>Linus Suryadi AG</strong>, 12 tahun sepeninggal penulisnya, ketika topik renta ini berkelebat di layar laptop. <em>Pengakuan Pariyem</em> bertutur tentang “dunia batin seorang wanita Jawa” sebagaimana termaktub di sub judul buku legendaris yang kembali diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia ini. Prosa lirik ini pertama kali diterbitkan tahun 1981 oleh Penerbit Sinar Harapan, dan pertama kali saya baca sekira tahun 1998, saat-saat kuliah sosiologi di kampus Bulaksumur lebih banyak saya tinggalkan untuk ikut-ikutan demonstrasi sana-sini, usai wartawan <em>Kompas</em> <strong>Hariadi Saptono</strong> memperkenalkan saya pada sastrawan kelahiran Kadisobo yang setahun sesudahnya mati itu—dan saya belum jadi mengenalnya.</p>
<p><em>Pengakuan Pariyem</em> tentang Jawa. Tentang wanita Jawa <em>ndesa</em>, Wonosari, yang jadi babu di Ngayogya, di keluarga Jawa ningrat. Tentang orang Jawa yang <em>nrimo</em>, yang <em>nrimo</em> diperlakukan apa pun oleh orang Jawa lain yang tak nrimo oleh kecukupan status sosial dan strata ekonomi. Tentang Jawa dalam Jawa. Saya membaca kembali <em>Pengakuan Pariyem</em> karena buku ini bagus, karena dulu saya belum paham isinya, dan sekarang saya menemukan bahwa banyak hal yang tidak mudah untuk dipahami.</p>
<div id="attachment_535" class="wp-caption alignright" style="width: 203px"><a href="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/putri-cina-193x300.jpg"><img class="size-full wp-image-535" title="Putri-Cina-193x300" src="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/putri-cina-193x300.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">tragika-historia manusia</p></div>
<p><em>Eeee lha dalah</em>, Donny mengajak <em>cangkrukan, guneman parikena</em> perkara Jawa dan Cina. Mengingatkan pada <em>Putri Cina</em> karya <strong>Sindhunata</strong>, seorang Cina yang getol menulis perihal Jawa, filsafat dan kesusastraannya, selain hidup secara Jawa pula.</p>
<p>Mengingatkan pada banyak lainnya.</p>
<p>Donny sudah dengan apik menguraikan perihal <a href="http://indikasiradarjogja.dagdigdug.com/2009/09/09/jb-stece-siapkan-sampek-engtay/">Jawa-Cina</a> yang sudah akrab-hati, melebihi akrab-kuping dan akrab-cangkem, di De Britto. Setara belaka, sesetara dengan Batak-Sunda-Bugis-Dayak, dan etnis-etnis lain yang berbaur di kandang manuk itu. Sedemikian alami pembauran berlangsung, yakni ketika label identitas luruh saat sama-sama menghadapi musuh bernama kebodohan dan ketergantungan. Gemblengan De Britto dalam memandirikan siswa, dalam mencerdaskan siswa, supaya setiap siswa memahami keutuhannya, melumerkan perbedaan menjadi paseduluran yang erat.</p>
<p>Gagasan tersebut belum sampai di Indonesia. Pertikaian antaretnis muncul ketika tidak ada musuh bersama untuk diperangi. Masing-masing sibuk menciptakan musuh pada diri yang lain. Jawa menuding Cina rakus dalam perekonomian. Cina menuding Jawa tamak dalam perpopilitikan. Rembet-merembet ke etnis lain. Tidak mau saling mendekat, masing-masih berdiri angkuh dengan kacamata kecurigaan yang berembun.</p>
<p>Di De Britto saya belajar soal perbedaan. Saya, Jawa, bukan hanya belajar tentang apa yang membedakan saya dengan teman Cina, melainkan juga berusaha memahami perbedaan saya dengan teman Jawa yang lain. Ternyata manusia begitu unik. Ada partikel yang lebih spesifik dan khas ketimbang label sangat umum Jawa-Cina, yakni karakter tiap individu.</p>
<p>Dan saya memilih untuk mencari perbedaan lebih dulu daripada mencari persamaan. Bagi saya, saat mencari perbedaan dan mendapati persamaan, bersyukurlah saya. Tidak sebaliknya. Saat mencari persamaan dan menemui perbedaan, kagetlah saya. Ternyata, banyak Cina yang jelata budaya, banyak pula Jawa yang tuna tata krama. Ternyata, banyak Cina luhur budi, banyak pula Jawa yang <em>andhap ati</em>.</p>
<p>Pilihan ini saya terapkan dalam pergaulan. Bertemu dengan siapa pun, saya menelisik perbedaan saya dengan mereka. Apa yang unggul pada mereka, dan tidak ada pada saya? Apa yang lemah pada mereka, dan tidak ada pada saya? Penelusuran itu berguna untuk bersinergi, meminimalkan gesekan.</p>
<p>Jika berbicara tentang Indonesia, bukankah bangsa ini dibangun oleh perbedaan-perbedaan? Dan bukankah perbedaan itu biar saja hidup? <em>Bhinneka tunggal ika</em> itu slogan yang bermakna sangat mendalam untuk menjelaskan ini. Sayang jika hanya teronggok di kaki garuda tertutup debu. <em>Ngayawara</em> melebur perbedaan itu menjadi satu warna.</p>
<p>Dan jika slogan di atas bersemayam di hati, mestinya kebiasaan <em>nyek-nyekan</em> Jawa-Cina ala De Britto itu lumrah belaka di negeri ini. Lumrah, sebab ada cinta. Sebagaimana si empunya hidup yang bersemayam di surga, yang surga itu di telapak kaki ibu, yang telapak ibu tak luput menginjak <em>telek lencung</em> walau mengenakan <em>highhill</em>, menciptakan setiap manusia secara istimewa pun meniupkan cinta sepenuh-penuhnya kepada pribadi-pribadi yang dicetaknya sebagai Jawa-Cina-Indian-Yahudi-Arab. Gusti Allah menciptakan yang berbeda-beda itu masing-masing sempurna.</p>
<p>Don, ini apresiasiku pada tulisanmu. Pesanmu lawas tapi membaru.</p>
<p><strong>AA Kunto A</strong></p>
<p>[<a href="http://www.aakuntoa.wordpress.com" target="_blank">http:/www.aakuntoa.wordpress.com</a>; aakuntoa@gmail.com]</p>
<p>Gambang Sampek-Engtay diambil di <a href="http://indikasiradarjogja.dagdigdug.com/2009/09/09/jb-stece-siapkan-sampek-engtay/">sini</a>.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/pemikiran/'>pemikiran</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/sikap/'>sikap</a> Tagged: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/cina/'>Cina</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/jawa/'>Jawa</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/perbedaan/'>Perbedaan</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aakuntoa.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aakuntoa.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aakuntoa.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aakuntoa.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aakuntoa.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aakuntoa.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aakuntoa.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aakuntoa.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aakuntoa.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aakuntoa.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aakuntoa.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aakuntoa.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aakuntoa.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aakuntoa.wordpress.com/511/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=511&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/24/perkara-jawa-cina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4770bcffcec76f342446396cb0238701?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aakuntoa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/sampek-engy.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SAMPEK-ENGY</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/pariyem.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pariyem</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aakuntoa.files.wordpress.com/2011/08/putri-cina-193x300.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Putri-Cina-193x300</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pilih yang Kanan, Cari yang Sepi</title>
		<link>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/24/pilih-yang-kanan-cari-yang-sepi/</link>
		<comments>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/24/pilih-yang-kanan-cari-yang-sepi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 10:49:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aakuntoa</dc:creator>
				<category><![CDATA[refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[mudik bermotor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aakuntoa.wordpress.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Sedang hiruk-pikuk, jalanan oleh para pemudik. Hari ini, enam hari menjelang Idul Fitri 1432 H. Kru-kru stasiun tv sudah mencokolkan diri di titik-titik eksotik. Mereka siap menakjubkan pemandangan kemacetan sebagai tayangan unggulan. Mereka siap menghebohkan keriuhan pasar tumpah sebagai tontonan tumpah iklan. Rasanya, hari-hari seperti ini sudah menjadi puncak. Bagi yang berpuasa, lebaran adalah perayaan <a href="http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/24/pilih-yang-kanan-cari-yang-sepi/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=507&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sedang hiruk-pikuk, jalanan oleh para pemudik. Hari ini, enam hari menjelang Idul Fitri 1432 H. Kru-kru stasiun tv sudah mencokolkan diri di titik-titik eksotik. Mereka siap menakjubkan pemandangan kemacetan sebagai tayangan unggulan. Mereka siap menghebohkan keriuhan pasar tumpah sebagai tontonan tumpah iklan.</p>
<p>Rasanya, hari-hari seperti ini sudah menjadi puncak. Bagi yang berpuasa, lebaran adalah perayaan akan keberhasilan mengekang hawa nafsu, sujud paling dalam kepada Allah Sang Ilahi. Bagi yang memburuh, lebaran adalah puncak pengumpulan pundi-pundi; untuk diusung sebagian ke kampung halaman. Bagi yang miskin, lebaran adalah puncak nasib kesrakat; <em>ndomblong</em> meratapi diri kosong melompong.</p>
<p>Baiklah, rayakan saja. Di jalanan, di stasiun kereta, di bandara, di pelabuhan, di pusat-pusat perbelanjaan. Silakan, rayakan. Semua boleh merayakan, berhak merayakan, merasa wajib merayakan. Ya, rayakan saja.</p>
<p>Supaya semua turut merayakan, cara berikut ini boleh dijajal. Saya sudah, tatkala menjadi pemudik bersepeda motor Jakarta-Jogja.</p>
<p>&#8220;Pilih yang Kanan, Cari yang Sepi!&#8221;</p>
<p>Istilah tersebut saya dapat dari Sr Irmgardis, saat kami menjelajah Timor sekian tahun lalu. Sederhana, dan membekas di hati. Saya coba di sepanjang jalur mudik.</p>
<p>Tatkala bensin menipis, saya tak menepi ke kiri. Saya menyeberang ke kanan. Sepi, lebih cepat terlayani. Beda dengan pompa bensin sebelah kiri, yang dijubeli kendaraan, yang untuk antri saja perlu haus.</p>
<p>Pun saat ingin makan. Karena saya tidak puasa, makan menjadi ritual wajib untuk menjaga daya tahan tubuh. Tidak perlu menunggu lapar. 4-5 jam perjalanan, perut layak diisi. Dan selama di jalur mudik, warung makan bertebaran di mana-mana. Ada warung lawas, ada warung musiman. Semua mereka tentu berharap dagangannya laku.</p>
<p>Faktanya tak selalu begitu. Tak semua warung laku. Entah karena menu yang ditawarkan di spanduk tak menarik, atau tampilan warungnya yang tak mengundang selera, atau nama warung dan menunya tak direkomendasikan di situs-situs jejaring sosial, atau tempatnya tidak strategis, atau&#8230;</p>
<p>Setiap pedagang, saya mengingat pesan Sr Irmgardis, pasti ingin dagangannya laku. Supaya laku, mereka pasti membuat dagangannya seenak-sebagus mungkin menurut takaran mereka. Supaya laku, mereka pasti mencari lokasi paling strategis menurut cara pandang mereka.</p>
<p>Bahwa faktanya tak selalu begitu karena takaran mereka beda dengan takaran orang lain. Apa yang mereka yakini enak belum tentu seenak yang dibayangkan pembeli. Jadilah pembeli melengos sesuka hati.</p>
<p>Maka, belajar dari Sr Irmgardis itu pula, saya mencari warung yang sepi. Kali ini tujuannya untuk meratakan rejeki. Mereka juga butuh laku. Mereka juga butuh berlebaran. Yang sudah laku biarlah laku. Yang belum laku, berilah kesempatan untuk laku.</p>
<p>Bahwa kemudian saya mendapati menu yang mereka hidangkan tidak enak, entah keasinan, hambar, atau minumnya teh ampas yang tak puanassss, ini persoalan lain. Kali itu saya memang tak sedang berburu makan enak. Maka, mendapati makanan yang terhidang tak enak, siaplah hati saya. Toh, sesampai di kampung, begitu berlimpah makanan enak.</p>
<p>Pada musim lebaran kali ini, pemandangan seperti itu kiranya tetap ada. Selalu ada warung yang tak laku, berbanding terbalik dengan bus-kereta-pesawat-kapal yang berjubel penumpang meski pengelola sudah mencekik penumpang dengan tarif tinggi. Selalu ada warung di kanan jalan, yang karena orang enggan menyeberang, enggan melirik, enggan bersusah-payah, tak mendapat cipratan THR.</p>
<p>Pilih yang kanan, cari yang sepi. Saya percaya, ada yang mau melakukannya. Sediakan diri menjadi penumpang becak, sesampai di stasiun tujuan. Siapa tahu, Rp 20.000 tarif yang kita sodorkan cukup untuk membeli sirup dan nastar hidangan hari raya. Isi bensin di pedagang eceran, siapa tahu receh yang kita ulungkan sebagai &#8220;bathi&#8221; jualan mereka cukup untuk menebus motor yang mereka gadaikan.</p>
<p>Selamat berlebaran.</p>
<p><strong>AA Kunto A</strong></p>
<p>[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/category/refleksi/'>refleksi</a> Tagged: <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/lebaran/'>lebaran</a>, <a href='http://aakuntoa.wordpress.com/tag/mudik-bermotor/'>mudik bermotor</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aakuntoa.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aakuntoa.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aakuntoa.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aakuntoa.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aakuntoa.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aakuntoa.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aakuntoa.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aakuntoa.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aakuntoa.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aakuntoa.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aakuntoa.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aakuntoa.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aakuntoa.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aakuntoa.wordpress.com/507/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aakuntoa.wordpress.com&amp;blog=2269232&amp;post=507&amp;subd=aakuntoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aakuntoa.wordpress.com/2011/08/24/pilih-yang-kanan-cari-yang-sepi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4770bcffcec76f342446396cb0238701?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aakuntoa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
