Romo Nio Pulang ke Surga

Leave a comment

Romo Nio, kanak-kanak yang bercita-cita jadi imam.

In Memoriam: Antonius Devid Febriano WL (18 Februari 2008 – 27 September 2011)

 

Nio, sahabat kecil saya, berpulang 7 hari lalu. Baru semalam saya menitikkan air mata. Bukan karena semata-mata sedih yang tersamar, melainkan haru bahagia. Bagaimana tidak, perayaan semalam dihadiri oleh teman-teman sekolah minggu Nio. Mereka penuh semangat bernyanyi untuk sahabatnya. “Give Thanks,” lagu yang mereka bawakan.

Give thanks
with grateful heart
give thanks
to the holy one
give thanks
for He’s given
Jesus Christ, His Son

And now let the weak say
I am strong
let the poor say
I am rich
because of what
the Lord has done
for us

Give thanks…

 

Teman-teman mendoakan Nio

Tak urung, mereka sesenggukan. Pecah tangis itu. Rupanya, kenangan bersama Nio sudah melekat dalam ingatan mereka. Maklum, dua hari sebelum meninggal, Nio masih sekolah minggu. Sehari sebelum meninggal, mengenakan seragam baru, Nio masih sekolah. Mungkin mereka terlibat dalam permainan seru hari-hari itu. Dan, paham bahwa kebersamaan itu tak mungkin lagi mereka rangkul, jebollah air mata mereka. Seluruh umat yang hadir pun tak kuasa berpura-pura tegar. Sekonyong-konyong, dari depan sampai belakang terdengar suara hidung sedang beradu gesit mengendalikan ingus. Senyap, selain nyanyian yang terbata-bata.

 

Teman-teman sekolah mengantar Nio ke makam

Ternyata Nio begitu mengesan bagi teman-temannya. Mungkin karena Nio paling muda di antara mereka, belum 4 tahun. Mungkin karena tubuh Nio yang super gemuk. Mungkin karena omongan Nio yang cadel dan tak mudah dimengerti. Mungkin karena Nio yang lucu, yang jika capek bersekolah tidak mengamuk melainkan pamit gurunya untuk undur diri. Ia masih 3 tahun 7 bulan ketika ratusan teman satu sekolahnya berjalan kaki mengucapkan salam perpisahan di Senin siang itu, 27 September 2011.

 

Nio ingin menjadi imam, terinspirasi Om Romo Mali CSsR, sahabat keluarganya. Tempo hari, saat kami mengajaknya berjalan-jalan ke Show Room Penerbit Kanisius, ia antusias sekali mengenakan jubah+kasula ukuran anak-anak. Seperti adatnya bersama teman-teman di gereja, ia pun luwes memeragakan bagaimana memimpin ekaristi. Aku memotretnya untuk banyak adegan yang dengan suka cita ia lakonkan.

 

Lemah jantung menjadi lantaran baginya pulang ke surga sebelum ia benar-benar jadi romo. Ah, tak mengapa, toh ia sudah pernah jadi romo dalam rekaman lensa. Berangkat ke surga, ia mengenakan baju batik, baru kelar dijahit, untuk merayakan Natal nanti sejatinya. Berkudung blangkon, cah Jawa berbapak Ambon ini memahkotai diri menuju surga, menyusul Eyang Kakung Antonius Sumawardi yang telah berangkat 150 hari lalu, juga mengejar Lamafa Beding, kakak sepupunya, yang 100 hari lalu juga kembali ke alam baka.

 

Nio seperti tahu akan hari kepergiannya. Sehari sebelum wafat, ia bilang ke Mama dan Uti-nya, “Besok, Papa Ona, Mama Ni, dan Om Unto ke sini, antar Nio ke makam sewu naik Bembem trus alan-alan.” Papa Ona dan Mama Ni adalah pakde-budenya. Unto adalah saya. Bembem adalah sebutannya untuk mobil, mungkin merujuk pada suara kendaraan roda empat itu. Keluarga mengira bahwa keinginannya ke makam sewu adalah untuk tabur bunga di pusara kakek-kakaknya. Ternyata, Bembem yang mengantarnya adalah ambulans jenazah.

 

Keluarga pun tak berfirasat ketika sepuluh hari belakangan Nio gandrung banget menyanyikan refrain lagu ini:

 

Dia kubangkitkan

Dia kubangkitkan

Dia kubangkitkan… di akhir zaman…

 

Nio, ternyata kamu yang bangkit. Ke surgalah Nak. Maafkan Om Kunto atas utang janji mengantarmu ke Alun-Alun Kidul naik Bembem kayuh kerlap-kerlip. Pasti ada Bembem yang lebih meriah di arwana.

 

Yogyakarta, 3 Oktober 2011

AA Kunto A [http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Memiliki Ketika Kehilangan

Leave a comment

Menyitir Mario Teguh, Mas Gogo bercerita tentang almarhum istrinya. “Kita baru merasa memiliki setelah apa yang kita miliki tak lagi ada pada kita,” bunyi sitiran itu.

“Saya baru merasa memiliki istri saya ketika dia sudah tidak ada,” ujar pensiunan Radio BBC London ini. Mbak Rina, istrinya, 40 hari lalu berpulang. Setelah bersahabat dengan kemoterapi, perempuan bernama lengkap Chatarina Sudjiati itu tutup usia pada angka 60 tahun 6 bulan.

Ada nada sesal dari pria 64 tahun yang belum lama pulang ke Indonesia dan tinggal di sebuah kampung di Jogja. Namun, di balik sesal itu, terasa benar kebanggaan Mas Gogo pada mendiang istrinya. “Saya bisa seterika, bisa seperti ini, berkat bentukan istri saya,” cetusnya sedikit terbata.

Para sahabat yang duduk di dalam joglo maupun di bawah tenda, hening mendengarkan kesaksian ini. “Sesudah istri saya meninggal, yang saya lakukan melulu memujinya.”

Peristiwa kecil, refleksi mendalam. Terima kasih Mas Gogo.

Koplak-Jogja, 17 Desember 2009,

AA Kunto A [aakuntoa@gmail.com]

Semayam

Leave a comment

Oka sudah bersemayam di peristirahatan abadinya di Asanalaya Tapansari, makam keluarga kami. Kemarin, saya sendiri yang membaringkannya di liang lahat.

Perjalanan pemindahan dari Solo ke Jogja berlangsung sangat lancar. Bapak, Ibu, Bulik Umi , dan calon adik ipar Beta pagi-pagi benar meluncur dari Jogja, tak sampai empat jam kemudian mereka sudah tiba kembali di Jogja. Tidak hujan, malah panas terik. Bapak dan Ibu Solo sudah menyiapkan semuanya dengan baik sehingga lancarlah prosesi itu.

Keluarga pun sudah bersiap di makam sebelum rombongan tiba. Mbah Kismo, satu-satunya adik kandung Mbah Kakung yang tinggal di Muntilan, sedari pagi sudah menyandarkan sepeda ontelnya di rumah Mbah. Keluarga besar pun berkumpul. Juga tetangga-tetangga dan umat katolik di lingkungan Mbah.

Tepat pukul 10.30, saya meletakkan peti Oka di tanah. Seuntai rosario saya kalungkan di atas petinya, tanda penyerahan kepada Gusti. Pak Jimun, pro diakon yang memimpin upacara menyertai dengan percikan air, uncalan tanah dari lokasi awal, dan taburan bunga di dalam makam.

Irenius Oka Anggoro, anak saya dan Ovik yang gugur 30 Juli tahun lalu, telah bersatu dengan leluhurnya, di tempat yang tenang di kaki Merapi. Semoga rohnya beristirahat dalam damai, menemani ibunya yang tengah mengandung adiknya.

Irenius Oka Anggoro

3 Comments

Roh itu hidup, meski badan mati.

Demikian juga dengan roh anak kami, Oka, yang gugur 30 Juli tahun lalu. Meski usianya di kandungan baru sebulan, namun kami meyakini bahwa roh kehidupan sudah berhembus di janinnya. Maka, begitu janinnya lahir, kami menguburkannya selayaknya orang hidup yang wafat. Di halaman belakang rumah bapak-ibu istri saya di Solo Oka berbaring dalam keabadian. Oleh bapak, Oka dikebumikan di bawah pohon pisang.

Dalam perkembangan, kami merasa bahwa cara penguburan itu kurang sempurna. Memang, dengan menguburkan di kompleks rumah, kami merasa bahwa Oka ada bersama kakek-neneknya, ditunggui setiap saat. Namun, tampaknya, ada aspek lain yang belum terpenuhi. Oka butuh rumah keabadian yang lebih nyaman.

Menanggapi rasa batin itu, kami memutuskan untuk memindahkan makam Oka. Semalam kami berbicara.

Tempat peristirahatan kekal Oka pun kami siapkan. Esok Minggu (7/2), Oka akan kami usung ke Jogja. Kami punya makam keluarga di Pakem. Di sana Oka akan kami semayamkan, bersanding dengan nenek buyutnya, serta saudara-saudara sedarah lainnya. Secara khusus, bapak saya akan menyiapkan peti untuknya. Ya, selayaknya orang meninggal.

Upacara awal kami adakan pagi tadi. Kami menyiapkan air suci untuk dipercikkan di pusara Oka. Air pembaptisan. Romo Deni, sahabat istri saya yang bertugas di Bali, secara khusus memimpin doa ini. Air dicampur garam diberkatinya. Sebuah nama baptis dihadiahkannya pula: Irenius.

Santo Irenius hidup tahun 140. Ketika menjadi uskup di Lyons, ia dikenal sebagai pembawa damai.

Maka, doa kami, semoga Oka menjadi pembawa damai bagi kami. Semoga rumah barunya nanti membawanya ke kedamaian abadi bersama Bapa di surga. Doa kami selalu, Nak. Terima kasih atas kehadiranmu. Meski engkau sudah tiada, namun rohmu hidup di tengah kami.

Anak Garuda Terbang Pulang

3 Comments

Teman, ada satu tulisan yang menarik perhatian saya. Tulisan ini mengantarkan saya kepada satu permenungan tentang hidup. Tentang bagaimana saya memaknai kehidupan ini. Yang lebih menarik tentu saja isi tulisannya, kisah hidup penulisnya.

Secara fisik, saya belum pernah berjumpa dengan Romo Titus, orang dalam tulisan ini. Saya mengenalnya sebagai sama-sama anggota mailinglist De Britto, tempat kami sama-sama pernah bergulat mencari Tuhan dalam keseharian. Hmmm, Motus—demikian kami memanggilnya—mengingatkan saya akan Tuhan pagi ini.

Pagi ini, Selasa, 15 Juli 2008 pukul 11.00 WIB, Tuhan sedang menyucikan jiwanya, saya berdoa. Motus telah tiada. Jasadnya sedang didoakan di Katedral Purwokerto. Oleh sahabat-sahabatnya, ia diantar pulang ke rumah asalinya. Kemarin pagi ia berpulang di RS Elisabeth Semarang setelah bergulat dengan kanker getah bening.

Mgr Julianus Sunarko, Uskup Purwokerto, harus memilih. Hadir di Bandung untuk tahbisan uskup Mgr. V. Pujasumarta, atau memimpin misa requiem koleganya. Mungkin Romo Kemo—panggilan akrab uskup— lebih memilih yang kedua.

Tulisan di bawah ini, yang ia posting 3 tahun lalu di milis, memanggil saya menoleh sejenak. Bahwa hidup itu bagaikan roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Saya tahu! Sudah lama saya tahu itu! Bahwa sukses adalah bagaimana bangkit dari keterpurukan. Saya juga tahu!

Tapi, ternyata, apa yang saya tahu itu belum tentu saya pahami. Perjalanan hidup Motus membukakan pintu pemahaman lain. Tentang bagaimana seorang anak garuda harus turun bumi menjadi seorang anak ayam. Belaka! Tentang karunia daya tahan yang begitu melimpah.

Bilakah saya mengalaminya? Entahlah. Yang terselip di matahati saya sekarang adalah gambaran lain. Saya menjadi waspada terhadap orang-orang “kecil” di sekitar saya: tukang becak, pekerja percetakan, kurir surat, penyapu jalan, kasir minimarket, sopir biara, dll. Ada di antara mereka, mungkin, adalah anak garuda yang lain. Dan saya? Anak cacing… Anak cacing yang ingin terbang sebagai garuda!

Motus, selamat pulang. Terbanglah ke surga anak garuda…


Bersama Tuhan Ada Kepastian

Oleh Rm. Titus Prayitno Cokrodirjo Pr.

Selasa Sebelum Rabu Abu 2003

HP berdering. “Silakan Romo membuat retret delapan hari, lalu datang ke Purwokerto dan kita bicarakan tugas-tugas Romo”, terdengar suara dari seberang. Dada terasa penuh ingin mengungkap kegembiraan yang begitu besar. Dengan pulsa tinggal belasan ribu rupiah, dari rumah kost Jakarta saya ngebel Rm. Drost, SJ di Emmaus Girisonta.

“Saya diterima di Purwokerto, Romo.”

“Diterima bagaimana?”

“Barusan saya terima telpon dari Rm.Widyantardi Pr. dari keuskupan Purwokerto.” Lalu, saya katakan pula syarat-syarat awal yang mesti saya penuhi.

Rm. Drost, SJ menanggapinya dengan serius.

“Retret di Girisonta! Ayo, kapan? Saya pesankan tempat.”

“Praying Upon My Dossier”

Sesudah dua hari persiapan, mulailah hari-hari retret di Girisonta. Sangat terasa, tumbuh sikap membiarkan proses berlangsung. Dan, terbukalah lembaran-lembaran terdahulu.

Empat Pebruari satu sembilan sembilan enam saya pamitan, tinggalkan Umat. Saya pergi tanpa kejelasan mau ke mana, semata-mata karena dosa saya. Sedikit pun tak ada kesalahan dari Umat. Sebuah pejiarahan, saya menyebutnya demikian. Laku. Kabut gelap tampak nggamang di depan. Dukungan menjadi kebutuhan mendesak. Dalam doa rosario sementara Umat mengantar saya memasuki jalan-jalan pendek.

Pada lima Pebruari tanggal kelahiran saya, “Bapak-Ibu, maafkanlah aku. Hanya sampai di sini aku bawa namamu”. Masih ada tulisan itu di buku diary kecil saya. Dan, foto saya sudah tidak ada lagi dalam deretan foto-foto para Sahabat. Hari-hari terasa kosong. Di atas kertas ukuran setengah folio, akhirnya, ada tanda tangan saya bahwa benar-benar saya sudah dilepas. Harus lepas.

Tanpa pendaftaran saya berada dalam deretan sopir-sopir truck pengangkut kayu, pasir dan ikan. Terlalu lembut bagi mereka penampilan saya. Dunia baru bagi saya. Mengapa di sana? Dalam perasaan tersisih, terlempar dan tak terpakai, saya mengikuti proses yang terjadi. Kerja di lingkup iman dan  moral menjadi sesuatu yang asing. Saya tak mampu berpikir jauh, apalagi membuat perencanaan. Kabut tebal melingkupi diri saya. Hanya mampu memandang dua tiga meter ke depan. Jalan-jalan pendek saja bisa saya lakukan. Hari ini bisa buat apa. Itu saja.  Besuk pagi, tak tahu. Pemikiran jauh tidak jalan. Pilihan jatuh ke keterampilan, kegiatan tangan dan kaki:  sopir. Pernah pula menerima ketikan dari beberapa mahasiswa salah satu universitas di Solo. Pernah pula membeli gula merah (Jawa) dari perajin gula di Wonokerso, beras dari Klepu Yogyakarta untuk dijual lagi. Tidak berlanjut. Di samping itu, kegiatan di rumah Bapak-Ibu di Solo memberi hiburan tersendiri: mengurus kebun dan taman, membuat kolam ikan dan lele, mencoba membuat cetakan pot (tidak berhasil).

Ada sebuah kemurahan yang tersembunyi di sana, yaitu daya tahan. Daya tahan itu pula yang memampukan saya berhadapan dengan kenyataan dan berusaha memahaminya, meski dengan topi sedikit masuk menutup dahi. Ada rasa malu. Seekor anak garuda terpaksa harus ceker-ceker bersama anak-anak ayam di tempat sampah. Perasaan itu ada di hati saya. Atau, seekor burung patah sayap. Atau, seorang pangeran  tak lagi duduk di punggung kuda dengan perlengkapan senjatanya. (Pada retret octiduum sebelum tahbisan diakonat saya disebut pangeran oleh para Sahabat seangkatan tahbisan karena pengalaman doa ketika itu.)

Rasa malu berkembang menjadi sebuah pengakuan atas fakta. Pedih, memang. Dan, muncullah lembar-lembar daftar kesalahan dan dosa. Kesalahan dan dosa itu membuat hidup saya tercabik-cabik. Anak buah Lucifer benar-benar menguasai medan. Saya terlena, sehingga teguran keras dari Sahabat terdengar begitu lembut. Daftar itu sudah saya robek dari buku catatan harian dan saya bakar, setelah memasuki Minggu kedua. Saya jalan terus mengikuti dorongan hati.

Perlahan-lahan jendela hidup saya terbuka. Ada tawaran kerja di Jakarta. Pembiaran terjadinya proses lebih kuat dan melibas keraguan untuk menanggapinya. Dunia yang sama sekali baru saya masuki, menjadi karyawan apotek. Bukan pilihan sendiri, saya dimasukkan di sana. Terjadi keanehan dalam wawancara dengan pemilik apotek. Bukannya ia banyak bertanya kepada saya, melainkan ia banyak berceritera tentang dirinya sendiri dan pengalaman hidupnya. Ia adalah juga seorang pendeta Gereja Bethel. Ia tahu siapa saya dari lampiran surat lamaran yang saya berikan kepadanya pada hari itu juga. Pada akhir pembicaraan, “Minggu depan silakan datang untuk mulai bekerja”. Pada bulan ke tiga, diangkat jadi kasir. Pada bulan ke 12, gaji lipat dua dari gaji pertama masuk (tetap masih kecil, dua kali UMR).

Alumnus de Britto lulusan tahun 1989 mencari saya. Itulah awal senyatanya  jendela hidup saya terbuka. Ada pengalaman pengakuan atas kehadiran saya. Ada harga di dalam diri saya. Segar. Bahagia. Saya mulai mencari teman-teman lama. Saya mulai mencari relasi, dan ditawarkan kepada saya pekerjaan lain. Namun, umur menjadi kendala, sudah melewati batas maksimum. Teman apotek mengatakan expired. Saya tidak lagi bersembunyi. Saya berjumpa dengan seorang pastor dan saya katakan I was a Jesuit priest. So? Well, I am not a Jesuit now, but still a priest. Saya datang padanya berceritera banyak sampai ke kamar bih. Diusulkannya supaya saya pikirkan masa depan saya. Beli rumah misalnya, kata dia. Saya pergi dan tidak pernah lagi datang padanya. Saya ikuti seorang pulang dari gereja membawa Puji Syukur dan masuk ke arah kampung tempat saya kost. Ketemulah saya dengan ketua lingkungan setempat. Dan, kegiatan bulan Kitab Suci menyebabkan saya dipanggil sebagai Ustaad oleh sementara keluarga pemilik kost.

Rm. Drost, SJ membutuhkan tenaga.

“Ya betul,  tapi tenaga SMP, sopir pribadi.”

“Saya punya ijasah SMP, Romo, bisa dipakai.”

Saya datang. Dan, mulailah pendidikan luar biasa saya terima. Tugas sebagai sopir, mengantar ke mana pun Rm. Drost mau, bertambah sebagai tukang ketik, meningkat menjadi editor, teman gendu-gendu rasa sampai pernah saya katakan bahwa saya ini bukan lagi seorang Yesuit dan jawabnya adalah tatapan pada saya seakan mau mengatakan tidak apa, juga lawan debat kesukaannya meski tidak imbang, sampai sakit yang dideritanya membuat saya menjadi pembantunya all round. Bagaikan dua orang sahabat yang saling mendukung, saya alami bersamanya selama sepanjang waktu novisiat. Penghayatan hidup rohani ditampilkannya dengan setia. Semangat kolegialitas membuatnya hadir pada jam-jam makan setepat mungkin dengan harapan ada perjumpaan di sana. Tegas dalam pendirian tanpa kehilangan rasa humor. Tidaklah jauh kalau saya menyebut waktu-waktu itu merupakan tahun rohani bagi saya.

“Allah Menanti Aku”, buku karangan Michel Quoist Pr. terbitan OBOR. Saya suka buku itu. Pertimbangan para Sahabat menunjuk keuskupan Purwokerto, ketika mereka tahu bahwa saya mengalami kesulitan untuk menentukan di mana. Rupanya Allah menanti saya di Keuskupan Purwokerto.


Sebuah Persembahan

Di hari akhir retret, 16 Maret 2003, Abraham mempersembahkan Ishak, anak satu-satunya, anak kesayangan pemberian Tuhan, sebagai kurban bakar kepada Tuhan. Dalam keikhlasan dan kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan, Abraham mempersembahkan semuanya kepada Tuhan dan ia mendapatkan semuanya dari Tuhan.

27 Maret 2003 sore saya tiba di Purbalingga, diterima oleh wakil-wakil Umat. 28 Maret 2003 pagi saya ke keuskupan untuk menerima surat yurisdiksi. Siang hari saya persembahkan Perayaan Ekaristi di gereja Purbalingga untuk pertama kali bersama anak-anak sekolah. 14 April 2003 saya menerima surat penerimaan dan pengangkatan sebagai Romo Pamong di SMU Santo Agustinus Purbalingga.

Posisi Romo Pamong terletak dalam garis konsultatif. Dalam organogram Romo Pamong berada di bawah langsung Yayasan di samping Kepala Sekolah. Model itu dipilih dengan mempertimbangkan keinginan Sekolah bahwa Romo Pamong itu memamongi  baik siswa maupun guru dan karyawan. Di sekolah ini sudah ada Kepala Sekolah, Wakasek Kurikulum, Wakasek Kesiswaan, Wakasek Sarana/Prasarana, Wakasek Humas, dan unsur-unsur lain. Melihat situasi sekolah, Romo Pamong lebih diharapkan menjadi motivator, inovator. Romo Pamong diharapkan mampu menghidupi struktur yang ada. Sebuah komunitas sekolah, itulah yang ingin diciptakan. Dengan terciptanya pengalaman kerasan di sekolah, anak-anak didik akan menjadi suka belajar, dan kepinteran akan menjadi milik mereka. Anak didik tidak sekedar jadi penghafal dan guru pun tidak sekedar jadi tukang ajar.

Hari ini 6 Juli 2003 adalah hari ke 100 saya tinggal di Purbalingga.  Dedikasi para guru dan karyawan terungkap dalam keseriusan mereka dalam membenahi pelaksanaan
tuntutan tanggungjawab. SMU masih sibuk dengan penerimaan siswa baru. Jumlah pendaftar sampai dengan hari Jumat 4 Juli 2003 adalah 72. Angka itu mempunyai nilai tinggi karena menyebut jumlah peminat pertama pada SMU Agustinus, dalam perbandingan dengan tahun 2002 pada tanggal yang sama baru mendapat di bawah 25. Masih akan bertambah. “Masih ada peluang”, begitu simpulan dari team audit, “harus dengan kerja keras  Yayasan dan pengelola sekolah dalam membenahi kondisi saat ini”.

“Cinta-Mu telah mengubah jalanku yang gelap seperti malam menjadi terang benderang. Tinggallah bersamaku, Yesus, tinggallah, aku tak akan takut jika aku mengulurkan
tanganku dan merasakan Engkau dekat”, tertulis di buku catatan harian Pastor Titus Brandsma. Dan, peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung memberi peneguhan untuk
menapaki jalan ke Yerusalem.  Bersama Tuhan, ada kepastian.***

Guru-Guru Berpulang

4 Comments

Pappilon Manurung mati di usia 33 tahun, 20 Maret lalu. Stroke menyerang malam sebelumnya. Pembuluh darah di otaknya pecah. Dosen ilmu komunikasi FISIP UAJY ini meninggalkan seorang istri, Yuli, dua putri kecil, sepasang orangtua. Juga adik Parlindungan Manurung, teman seangkatan saya di De Britto, Ita-istrinya, Hansel-buah hati mereka.

FX Suparto kondur di usia 78 tahun, Sabtu 29 Maret. Kanker usus memutus umur panjangnya. Ia juga cuci darah. Terakhir waktu Kamis Putih itu. Seorang istri dan dua putra, Yosi dan Peter, ditinggalkannya. Yosi dan Peter juga teman di JB, meski keduanya beda angkatan. Pak Parto guru di sana. Mengajar bahasa Indonesia dan bahasa Prancis, sejatinya ia adalah guru kehidupan.

Sutaryo wafat di usia 64 tahun. Tak saya tanyakan apa sakitnya. Yang terang, sewaktu saya melayat, jasadnya sudah dikafani. Sebingkai foto terpajang di depan kerandanya. Kumis tipis, senyum tebal, itu ciri khasnya. Mengajar sosiologi modern di Jurusan Sosiologi UGM, ia dosen yang ramah. Tidak pintar, tapi mengajar secara menarik.

Guru-guru itu berpulang. Banyak anak didik mereka datang melayat. Banyak sekali. Mereka pulang jauh dari sepi.

Kematian seorang guru hampir selalu ramai pelayat. Jika boleh menebak, kehadiran para murid adalah untuk mensyukuri harta ilmu yang pernah mereka wariskan. Sangat berharga warisan itu. Harta abadi yang tak lekang.

Selama hidup, guru-guru itu mungkin berada dalam sepi. Secara materi, acapkali perekonomian guru tidak lebih baik dari sebagian muridnya. Bisa jadi benar begitu, bisa jadi cuma penampilannya. Toh, tak soal itu.

Tapi dari segi kawicaksanan, nama guru nyaris selalu disebut sebagai panutan. Setiap pertemuan alumni, cerita tentang guru tak pernah luput dimunculkan. Apa pun isinya, kenangan akan guru begitu melekat sepanjang perjalanan murid. Maka, tidak heran jika kematian guru selalu berkerubung para muridnya.

Hadi Sugito

3 Comments

Matinya salah satu dalang kondang gagrag Ngayogyakarta. Dalang tiada, lakon belum paripurna.

KULONPROGO – Seniman dan dalang kondang Ki Hadi Sugito Kamis (10/1/2008) dimakamkan di TPU Sasana Laya Genthan, Tayuban, Panjatan Kabupaten Kulonprogo.

Almarhum meninggal pada usai 67 tahun pada Rabu(9/10/2007) sekitar pukul 09.00 WIB, di RSUD Wates akibat serangan jantung. Sebelumnya almarhum sempat dirawat selama tiga hari.

Sebelum dimakamkan, almarhum disemayamkan di rumah duka, Toyan, Triharjo, Wates, Kabupaten Kulonprogo. Hadir dalam upacara pemakaman ini, puluhan dalang, seniman dan sejumlah pejabat dilingkungan Pemkab Kulonprogo.

Salah seorang putra almarhum, Ki Sutono Hadi Sugito mengaku ayahnya sudah sekitar dua tahun ini mengalami sakit-sakitan. Beberapa kali ayahnya sempat di sejumlah rumah sakit yang ada di Wates maupun di Yogyakarta. namun tidak berlangsung lama ayahnya sembuh dan kembali menjalankan profesi dalang sampai di luar daerah.

Sesaat sebelum almarhum opname di rumah sakit, beliau minum obat  yang sudah rutin diberikan dokter. Namun tidak berselang lama, almarhum minum jamu godhogan. Jarak antara kedua kiniman ini ditengarai membuat korban menjadi tak sadarkan diri. Hingga akhirnya dilarikan di rumah sakit.

“Mungkin memang ini sudah menjadi kehendak yang kuasa. Karena dalam kondisi sakit, bapak masih menyempatkan pentas tanpa ada halangan,” jelas Sumbodo.

Figur almarhum, kata Sutono merupakan figur yang loyal terhadap seni. Ketika kondisi sakitpun, akan tetap berusaha untuk bisa memenuhi pangilan. Meskipun tidak jarang harus diwakili oleh dalang lain.

Pada bulan Januari order untuk tampi sudah lebih ari 10 lokasi. Dua diantaranya tidak bisa dipenuhi, karena menderita sakit. Termasuk rencana untuk tampil dalam pentas malam satu suro di Joglo Labuhan Pantai Glagah kemarin malam.

Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kulonprogo, Bambang Sumbogo BA, mengku sangat kehilangan tokoh dalang yang sudah malang melintang di dunia pakeliran.

Almarhum merupakan satu-satunya dalang yang mempunyai ciri khas berupa banyolan yang membuat penonton geli. Terkadang melalui banyolan ini, diisi dengan sindirin dan kritikan kepada siapapun. Hal itulah yang membedakan almarhum dengan dalang lain yang ada.

“Sampai saat ini belum ada dalang yang mempunyai ciri khas jogja seperti almarhum,” terang Bambang.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ki Purbo Asmoro mewakili para dalang. Ki hadi Sugito dikenal sebagai dalang yang loyal terhadap seni. Almarhum dikenal dekat dengan para juniornya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering memberikan nasehat dan arahan bagi perkembangan dan pakem seni pedalangan.

Almarhum, kini telah mewariskan seni dalang kepada lima orang anaknya. Mereka adalah Ki Sutono Hadi Sugito, Ki Sumbodo Supracoyo, Ki Totok Edi Sasongko dan Ki Wisnu Supracoyo. Kelima anaknya ini, kini sudha sering mendapat tawaran tampil di sejumlah event. (Kuntadi/Sindo/sjn)

Basuki

Leave a comment

Semalam Basuki mati. Bukan di panggung Srimulat, tapi di lapangan Futsal di Cibubur. Sedang menghitung skor, kata temannya. Sebelumnya, ia memang turun ke lapangan. Tidak lama. Tidak pula ngoyo.

Basuki (paling kanan)Usianya baru 51 tahun. Serangan jantung menyerobotnya untuk mati muda. Ia seperti penguasa yang diturunkan paksa dari tampuk kekuasaan. Nama bekennya masih berkibar di jagad hiburan. Ia kondang sebagai pelawak. Mas Karyo adalah nama kondangnya setelah bermain di Si Doel Anak Sekolahan besutan Rano Karno, medio 1990-an lalu.

Infotainment sontak berebut mengabarkan kematian pemilik warung bakso di bilangan Gas Alam Cimanggis ini. Semua televisi menayangkan warta duka ini. Juga seluruh media cetak. Mereka bilang, mereka kehilangan satu lagu putra terbaiknya.

Dari rumah duka di Cinere, jenasah Basuki dimakamkan ke TPU Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Selesai sudah. Untuk selamanya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.